Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Festival dan Penyelenggara yang Halu

Entah kenapa film dokumenter berjudul Fyre menarik perhatian saya di Netflix. Rupanya film tersebut menceritakan tentang festival musik besar-besaran yang semestinya diadakan bulan April - Mei 2017 tetapi gagal total karena mismanajemen dan pengelolaan keuangan yang buruk. Fyre Festival, yang digelar dalam rangka mempromosikan Fyre, aplikasi untuk memudahkan booking artis musik, rencananya diadakan di Kepulauan Bahama dengan gembar-gembor promosi oleh para influencer berstatus super model. Dalam promosi tersebut, Fyre Festival digambarkan sebagai festival musik yang menyuguhkan pengalaman tak terlupakan: diadakan di pulau terpencil yang dijangkau dengan pesawat baling-baling, para pengunjung akan menginap di vila mewah, disuguhi kuliner dari chef-chef ternama serta tentu saja, pertunjukkan musik dari band-band terkenal. 
 
Rick McFarland dan Ja Rule, inisiator Fyre Festival, terlihat sangat yakin rencana ini tidak hanya akan berjalan lancar, tapi juga menjadi festival bersejarah. Berkat geliat promosi yang bombastis, tiket terjual sangat cepat dari jauh hari dan investor tidak ragu-ragu untuk menggelontorkan dana. Sekilas dari segi pendanaan, Fyre Festival tampak bakal terselenggara dengan baik. Namun ternyata kenyataan benar-benar jauh dari harapan. McFarland selaku inisiator utama rupanya hanya menyuntikkan optimisme demi optimisme, tanpa benar-benar paham bagaimana harusnya festival musik besar diselenggarakan. Tidak mudah bagi pulau kecil berpopulasi 7000 orang untuk sekaligus menerima 500-an orang dalam satu waktu. 
 
Alhasil, masalah teknis seperti air, listrik, penginapan (yang sebenarnya belum disiapkan), ternyata harus dibangun ulang dan waktunya tidak cukup! Terlebih lagi, dana besar yang terkumpul dari penjualan tiket dan para investor tampaknya tidak tersalurkan dengan baik alias sebagian dibawa entah kemana oleh McFarland. Jadilah Fyre Festival tercatat dalam sejarah sebagai salah satu festival yang paling memberi harapan palsu, yang dalam judul film dokumenter itu disebut sebagai The Greatest Party That Never Happened
 
Dalam konteks yang lain, saya pernah berurusan dengan EO yang juga punya klaim megah tentang festival musik besar dengan segala proyeksi visual nan menggiurkan. Nasibnya kurang lebih tak jauh beda dengan Fyre Festival, meskipun tak dapat dikatakan gagal total, tetapi ekspektasi dan kenyataan begitu berlainan. Entah kenapa, meski tentu tak berlaku untuk semua penyelenggaraan festival musik, tetapi masalah yang kerap terjadi adalah bayangan tentang festival yang begitu indah sekaligus megah, justru menciptakan halusinasi yang berlebihan pada pihak penyelenggara. Mereka menjadikan halu-nya itu sebagai cara untuk meyakinkan investor, sponsor, penonton, sampai pengisi acara. 
 
Menariknya, namanya juga halu, penyelenggara itu sendiri dikelabui oleh bayangannya sendiri! Sama seperti McFarland yang masih saja optimis tentang Fyre Festival meskipun sudah dibui dan reputasinya sudah hancur lebur akibat uang 27 juta dollar yang entah kemana. Agak-agaknya, pada penyelenggara festival yang demikian, acara sudah dibayangkan terjadi bahkan sebelum benar-benar terjadi. Maksudnya, mereka-mereka ini tenggelam dalam imajinasinya tentang festival yang megah dan jadi sejarah, tetapi lupa bahwa agar semua itu terjadi, banyak perentilan yang mesti diselesaikan. Fyre Festival bisa sesumbar tentang banyak hal termasuk makanan lezat hasil karya para chef, tetapi acara mereka dihancurkan salah satunya oleh netizen yang mengunggah sebuah kenyataan pahit (dan menjadi viral): ternyata makanan yang dimaksud adalah roti keju dalam styrofoam. 
 
Para penyelenggara halu semacam ini biasanya hidup dalam ketinggian, membayangkan pesta saat dan sesudah acara, tetapi lupa daratan bahwa acara tak mungkin terselenggara jika tidak ada peran orang-orang yang seolah tak terlihat dalam panggung perayaan: petugas kebersihan, penyedia konsumsi, operator listrik, dan lain-lain yang terbukti dalam konteks Fyre Festval, sangat marah pada McFarland akibat kerja-kerjanya yang tak dibayarkan. 
 
Saya sudah pernah bekerja di bawah EO yang halu seperti itu, dan mereka agaknya, meski diteror oleh kemarahan warga, vendor, dan talent yang belum dilunasi, tetap santai-santai saja karena mereka senantiasa hidup dalam halusinasi tentang kemegahan festival, tempat mereka dielu-elukan sebagai pahlawan yang menyediakan oase bagi kehidupan urban yang selalu menuntut hiburan.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...