Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Hacksaw Ridge dan Kosmopolitanisme


Hampir di waktu bersamaan saat saya menonton Hacksaw Ridge (2016) di Netflix, saya juga tengah menyiapkan materi presentasi tentang kosmopolitanisme-nya Kwame Anthony Appiah untuk Kelas Isolasi. Sekilas, kedua hal ini tidak berkaitan sama sekali - Hacksaw Ridge bercerita tentang prajurit Kristen yang taat bernama Desmond Doss, sementara kosmopolitanisme adalah gagasan hidup bersama dalam dunia yang penuh perbedaan. Namun ternyata, melalui Hacksaw Ridge, saya bisa dengan cepat memahami gagasan Appiah dalam teksnya yang berjudul Ethics in a World of Strangers (2006). 

Hacksaw Ridge berkisah tentang prajurit yang ingin terjun di medan Perang Dunia II bersama Amerika, tetapi karena dogma Kristen-nya, Doss enggan memegang senjata dan membunuh siapapun. Ia hanya ingin menjadi medis di medan pertempuran. Niatnya ini menjadi bahan celaan teman-teman dan juga komandannya. Mereka menganggap Doss mengada-ada: mana mungkin tidak membunuh di medan perang? Setelah melalui serangkaian prosedur yang rumit, Doss akhirnya diizinkan untuk bertempur tanpa senjata. Di Pertempuran Okinawa, Doss benar-benar membuktikan tekadnya tersebut. Ia dengan aktif menolong teman-temannya yang terluka di tengah gempuran hebat tentara Jepang. Doss, yang awalnya diremehkan karena keyakinannya, berbalik dihormati. 

Apa kaitan antara keyakinan Doss dan kosmopolitanisme-nya Appiah? Salah satu gagasan kunci dalam kosmopolitanisme adalah tertarik dan mau mempelajari keyakinan orang lain, tanpa harus setuju, hingga akhirnya mengerti nilai-nilai yang diyakini oleh orang lain tersebut. Kosmopolitanisme menegaskan perbedaan sikap dengan positivisme, yang menurut Appiah berpotensi membuat kita meremehkan keyakinan orang lain karena tidak sesuai dengan standar yang kita pegang (Misalnya: "Pergi haji ke Mekkah adalah perbuatan konyol dan tidak rasional") dan juga relativisme, yang bagi Appiah terlalu menegaskan perbedaan satu sama lain tanpa mesti peduli (Misalnya: "Oke, kita berbeda, mari berjalan masing-masing sesuai dengan apa yang diyakini"). Appiah mengajak kita untuk memahami dan belajar dari "cerita" orang ataupun kebudayaan lain, karena pasti ada nilai-nilai yang "sama". Salah satu adegan dalam Hacksaw Ridge menunjukkan bagaimana tentara lainnya, meski tidak sepaham dengan Doss, mengerti kekuatan keyakinan Doss dan akhirnya minta didoakan (meski tidak semua percaya Tuhan). Intinya, mereka mengerti arti keyakinan tersebut bagi Doss. 

Gagasan Appiah mendapat tantangan dari pertanyaan seputar apakah kita mesti permisif terhadap tindakan intoleran? Apakah kita harus tertarik dan belajar pada aksi terorisme yang "jelas-jelas salah"? Membela Appiah pada posisi ini memang berat, tetapi renungkan sejenak: tidakkah orang yang kita sebut sebagai teroris itu, sama halnya dengan kita, punya sesuatu yang dianggap benar? Jangan-jangan, bagi mereka, kita lah teroris sesungguhnya (Appiah menekankan pentingnya evaluasi diri dalam dialog kebudayaan). Kisah fiksi, cerita-cerita dalam novel ataupun film, bagi Appiah, membantu kita untuk memahami perbedaan tersebut. The Godfather, misalnya, novel karya Mario Puzo, membuat kita tidak hanya memahami kehidupan mafia dari satu sisi saja (sebagai pihak yang jahat dan melanggar hukum, misalnya), tetapi memahami bahwa mereka juga sama dengan kita: menganut prinsip keadilan, cinta keluarga, kesetiaan dan sebagainya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...