Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Rocco, Antara Eros dan Agape


Di suatu malam, saat sedang memilih-milih film apa yang akan ditonton di Netflix, tiba-tiba saya tertarik pada film dokumenter berjudul Rocco (2016). Tentu saja saya tidak pura-pura tidak tahu tentang tokoh yang diceritakan dalam film tersebut. Rocco Siffredi adalah bintang film porno asal Italia yang aktif sejak tahun 1987 dan tampil pada sekitar 1300 film. Apakah saya menonton film-filmnya? Jelas, apalagi salah satu yang paling fenomenal dan sudah saya ketahui sejak SMA: Tarzan X

Film dokumenter yang disutradarai oleh Thierry Demaizière dan Alban Teurlai tersebut bercerita tentang perjalanan Rocco di industri film porno. Rocco sebenarnya sempat mengumumkan pengunduran dirinya tahun 2004, tetapi ia kembali lagi tahun 2009, hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti permanen dari bermain film porno pada tahun 2015, di usia sekitar 51 tahun. Dalam film Rocco, meski terdapat beberapa adegan film porno yang dikaburkan, fokusnya lebih ditujukan pada pergulatan batin Rocco, yang bertegangan antara pekerjaan, dorongan seksualnya yang tinggi, perasaan istrinya dan anak-anaknya yang sudah mulai tumbuh besar. Bagi saya pribadi, film tersebut digarap dengan indah sehingga adegan-adegan seksual yang ada di dalamnya tidak terlalu menimbulkan kesan erotik. Bahkan yang lebih banyak muncul adalah perasaan iba dan empati terhadap "penderitaan" Rocco. 

Saya berusaha untuk tidak menjadi moralis dalam memberikan pandangan terkait pergulatan Rocco. Namun pertanyaan yang lebih mengusik adalah ini: mengapa seksualitas yang bebas dan terbuka bisa berubah menjadi penderitaan dan pada titik tertentu, identik dengan perbuatan setan (yang Rocco sendiri mengakuinya)? Bukankah kenikmatan badani merupakan salah satu tujuan penting yang mungkin banyak dari kita bercita-cita menggapainya? Jika Rocco kemudian dihantui perasaan bersalah pada istri dan anak-anaknya setiap ia bermain film porno, tidakkah mungkin ada yang dinamakan "suara hati" itu, yang mengarah pada "kebaikan"? Memang kita bisa dengan cepat menarik kesimpulan bahwa ada hal-hal yang begitu kodrati dalam hidup ini, yang baik - buruk, benar - salah-nya sudah digariskan dalam, salah satunya, kitab suci. Berzina disebutkan sebagai dosa, sementara di sisi lain, merawat keluarga dianggap sebagai sesuatu yang baik dan utama. Keduanya bergulat dalam perasaan Rocco meski ia kelihatannya tidak seberapa teguh mempraktikkan nilai-nilai religius. 

Mungkin yang membuat Rocco menderita bukan perkara apakah ia melanggar aturan agama atau tidak. Saya teringat kuliah Romo Sudarminta perkara hubungan antara hasrat dan kebebasan. Memang terlihat bebas, orang yang dapat mengumbar hasrat dan memenuhinya, orang yang bisa mengekspresikan fantasi seksual dan mewujudkannya, tetapi kemudian katakanlah: apakah ia menjadi tuan atau budak atas hasratnya sendiri? Apakah kebebasannya tersebut sungguh-sungguh kebebasan, atau justru berada dalam kerangkeng berupa lingkaran nafsu yang tidak berujung? Kelihatannya Rocco lelah, justru karena ia mampu memenuhi segala hasratnya. Rocco ingin berhenti, karena "suara hati" terus mengusik, tentang istri dan anaknya yang memberikan ketenangan batin, bukan lewat orgasme seksual, cinta yang sifatnya eros, tetapi cinta jenis lainnya, mungkin agape, yang dekat dengan istilah "kasih sayang", yang sifatnya tidak spesifik, tapi lebih universal dan "memberi". Hal yang mungkin lebih bisa didapatkan dari keluarga, sahabat atau pasangan yang dicintai. 

Saya tidak bisa menyimpulkan soal mana yang lebih "ilahiah" terkait eros dan agape. Eros, yang membuat kita senantiasa tunduk pada gairah seksual, mungkin bisa diilustrasikan sebagai perbuatan setan dan maka itu sudah pasti berdosa. Namun hidup tidak sesederhana itu! Eros memang labil dan menyedihkan, tetapi hal yang lebih menarik: ia membuat kita lebih berani, menghadapi hidup dengan segala rasa perih yang pasti menanti. Eros adalah tentang menikmati masa kini, soal orgasme itu sendiri, yang bukan soal kemarin atau nanti, tapi sekarang. Eros memang dekat dengan hal-hal setani, tetapi tidakkah karena setan itulah, kita mengatakan "ya" pada hidup, tenggelam dalam gelegaknya. Memang pahit, tapi tidak sedikitpun melarikan diri darinya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...