Skip to main content

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

How to Become a Tyrant (2021): Diktator Bersalin Rupa


Sebenarnya film dokumenter ini sudah agak lama saya tonton, mungkin sekitar tiga atau empat bulan yang lalu. Namun entah kenapa, saya baru terpikir untuk menuliskannya sekarang, dengan ingatan yang agak samar-samar. How to Become a Tyrant (2021) adalah docu-series produksi Netflix yang menceritakan kiprah para diktator yaitu Adolf Hitler, Saddam Hussein, Idi Amin, Joseph Stalin, Muammar Gaddafi, dan dinasti Kim. Dengan masing-masing penayangan antara 25 sampai 30 menit, dokumenter ini sangat informatif dengan narasi yang dibuat agak satir, seolah-olah para diktator tersebut punya semacam buku pedoman sebagai acuan tertulis dalam melanggengkan kekuasaan absolutnya. Bagi saya pribadi, How to Become a Tyrant, yang dinaratori oleh Peter Dinklage, memberikan banyak informasi dan juga renungan. Renungan paling mula-mula tentu bayangan akan kengerian totalitarianisme, yang membuat saya memikirkan segala cara agar para pemimpin fasis tidak pernah naik ke tampuk kepemimpinan lagi, di manapun itu. 

Dalam renungan berikutnya saya tiba-tiba teringat pandangan Jacques Ellul dalam Anarchy and Christianity yang mengatakan bahwa posisi negara adalah selalu "jahat". Kita tidak berbicara lagi individu mana yang naik ke tampuk kekuasaan, tapi bagi Ellul, siapapun itu, pasti akan termakan oleh struktur dan ujung-ujungnya, "sebaik" apapun seseorang, negara akan selalu berhasil mengubahnya. Bahkan Ellul menggunakan aneka argumen dari Alkitab untuk mengukuhkan pendapatnya bahwa Yesus adalah seorang anarkis, yang dari tindak-tanduk serta perkataannya selalu tidak setuju dengan kekuasaan, dalam bentuk apapun. Tuhan-nya Kristen, kata Ellul, bukanlah seperti pemimpin militer yang otoriter mengatur ini itu, tapi lebih persisnya, berperan sebagai pembebas (liberator). Artinya, kekejaman diktator bukanlah perkara moral individual, tetapi posisi negara itu sendiri yang "pasti" menciptakan diktator. Tentu kita bisa mempertanyakannya: kenyataannya, ada pemimpin yang tidak bersikap totaliter, kan? Bagi Ellul, totaliter atau tidak, diktator atau bukan, itu cuma peristilahan saja karena negara akan selalu menggiring siapapun pada sikap-sikap yang "bertentangan dengan kekuasaan Tuhan". Ellul mungkin ada benarnya: kita tidak bisa mengatakan bahwa pada negara yang menganut sistem demokrasi, fasisme tidak benar-benar terjadi. Bahkan fasisme ini bisa diselubungi, bisa dibuat cantik, oleh istilah-istilah seperti "konstitusi" atau "kehendak rakyat" yang sebenarnya lebih kabur. 

Fasisme adalah buruk. Itu jelas. Kita tidak mau berada di bawah bayang-bayang kekuasaan yang membelenggu karena sudah seyogianya, manusia, sekurang-kurangnya, berada dalam kondisi "bebas dari" (negative liberty). Film dokumenter tersebut berhasil membingkai kondisi masyarakat yang sengsara di bawah para diktator, yang segala-galanya diatur, diarahkan, ditekan, dipaksa. Namun pertanyaannya, apa itu kebebasan? Apakah mereka yang tidak berada di bawah bentuk pemerintahan totalitarian, dijamin mengalami kebebasan? Apakah mereka yang berada di bawah fasisme, tahu bahwa dirinya tidak bebas, atau tidak tahu dan bagi sebagian orang, hal demikian baik-baik saja? 

Pada tahun 2016, saya pernah berkesempatan mengunjungi Guangzhou dan di sana, akses internet begitu dibatasi. Kita tidak bisa masuk ke Google (termasuk Gmail, Gmap, dan varian lainnya) dan beraneka medsos seperti Instagram, Facebook, dan Twitter. Line atau Whatsapp, jika beruntung, bisa sesekali diakses. Sependek yang saya lihat, sebagian orang-orang di sana tidak merasa keberatan dan oke-oke saja dengan opsi mesin pencari atau medsos yang diberikan pemerintah Tiongkok. Saya pernah bertanya pada salah seorang di sana, apakah ada cara "rahasia" untuk mengakses Google? Mereka tidak tahu dan bahkan secara implisit hendak mengatakan, "Untuk apa Google?" Saya tentu tidak membenarkan pembatasan-pembatasan semacam itu, yang mungkin membuat orang-orang sukar berkembang (mungkin?), tapi di sisi lain, jika dibandingkan dengan negara ini, yang boleh jadi begitu bebas mengakses apapun yang ada di internet, tidakkah "tidak lebih baik"? Atau dalam arti kata lain, tidakkah kebebasan itu semacam belenggu tersendiri? Semua orang bebas bicara, semua orang bebas "merujak", melaporkan, meng-cancel, yang di satu sisi dapat dipandang sebagai kegembiraan berdemokrasi tapi di sisi lain juga menciptakan "labirin kebebasan" yang tak bertujuan, tidak terarah, yang berhasil "bebas dari", tapi tidak jelas dalam memanfaatkan "bebas untuk"-nya. Pada satu titik, saya sampai pada pertanyaan: memang berpikir bebas itu, untuk apa, sih? 

Saya kira jika kita hendak melihat lebih kritis perkara pembingkaian diktator dalam How to Become a Tyrant, jelas bahwa fasisme yang dimaksud, adalah fasisme yang dilakukan oleh individu atau kelompok kecil tertentu (seperti dinasti Kim). Film tersebut tengah menyalahkan "orang gila" yang tidak mungkin ada dalam sistem yang demokratis, karena dalam demokrasi, "orang gila" tidak akan dibiarkan berada di atas "kehendak umum". Namun kita juga seringkali dibutakan oleh "orang gila yang banyak", yang melakukan praktis fasisme atas nama "kehendak umum". Hari-hari ini kita seperti tidak berada di bawah totalitarianisme politik, tapi mungkin dibelenggu oleh totalitarianisme ekonomi, yang seperti memberikan kebebasan bicara, berpendapat, berperilaku sesuai kehendak pribadi, tapi sebenarnya dikontrol dengan halus, dicatat data-data pribadinya, dan sewaktu-waktu dapat dipersekusi, dengan cara-cara yang tidak sekasar para diktator di masa lampau, melainkan elegan, membunuh karakter pelan-pelan. Jadi, apa itu kebebasan? Bisakah berbicara kebebasan, di bawah entitas bernama negara, di tengah perusahaan raksasa yang terus menggurita? Fasisme hanya berganti nama, diktator hanya bersalin rupa, totalitarianisme cuma bertransformasi menjadi dirinya sendiri. Semuanya tetap sama.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...