Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pengintip

 

Namanya Gerald Foos. Ia mengaku sebagai pemilik hotel kecil (motel) di Colorado, tempat dirinya melakukan kegiatan mengintip berbagai aktivitas seksual para tamunya. Foos melakukannya selama sekitar dua puluh tahun tanpa pernah ketahuan. Sampai kemudian Foos memutuskan untuk menceritakan kisah hidupnya sendiri pada jurnalis legendaris, Gay Talese, untuk dijadikan buku. Menurut Talese, Foos tidak kelihatan seperti seorang psikopat. Jika kita bertemu Foos tanpa mengetahui latar hidupnya sebagai pengintip profesional, kita akan menganggapnya orang biasa-biasa saja, seperti orang kebanyakan. Foos sendiri tidak merasa ada hal yang aneh dari kegiatannya. Istrinya bahkan merestui aktivitas tersebut (yang diakui Foos sebagai "meneliti"). 

Itulah kisah tentang seorang pengintip (voyeur) yang dimuat dalam buku terbitan New York Times tahun 2016, sebelum kemudian difilmkan dalam bentuk dokumenter tahun berikutnya oleh sutradara Myles Kane dan Josh Koury. Film ini menarik bukan hanya karena pengakuan seorang pengintip yang diangkat ke publik, melainkan juga perkara nilai kebenaran dalam jurnalisme. Talese adalah jurnalis berpengalaman yang dalam bentangan karirnya yang panjang, kerap terjun langsung pada objek yang diinvestigasinya. Misalnya, dalam bukunya yang menghebohkan tahun 1981 berjudul Thy Neighbor's Wife, Talise meriset kehidupan seks komunitas nudis di Sandstone Retreat. Talise mengakui bahwa ia terlibat penuh dalam aktivitas komunitas tersebut. Termasuk seks dengan banyak orang. 

Dalam Voyeur's Motel, buku tentang si pengintip, Talise tampak terpesona oleh kisah hidup Foos hingga tak merasa perlu untuk kroscek ke sumber-sumber lain. Dalam prinsip jurnalisme kita tahu, kebenaran semestinya tidak bersumber dari satu pihak saja, melainkan mesti berimbang. Namun di sisi lain, Talise juga sekaligus sedang membuat karya jurnalistik yang sebisa mungkin laku di pasaran. Atas dasar itu, bumbu-bumbu cerita, entah itu benar atau tidak, bisa sangat menjual meskipun harus mengabaikan prinsip akurasi dalam jurnalisme. Kita tidak akan terlalu masuk ke sana karena akan jatuh menjadi spoiler

Hal lebih memikat untuk dibahas adalah kegiatan mengintip itu sendiri. Mengintip adalah suatu aktivitas mengobjekkan. Membuat seseorang memiliki kuasa dalam menatap gerak gerik orang lain, terkadang secara sangat mendetail, tanpa bisa ditatap balik. Kita tidak perlu mengidentikkan kegiatan mengintip secara spesifik melalui lubang kecil. Ketika kita memperhatikan retsleting celana guru saat ia sedang mengajar, kita pun sedang mengintip. Pasalnya, guru tersebut tidak sedang menampilkan celananya untuk diobjektivitasi. Dia mungkin sedang ingin murid-murid memperhatikan dia bicara, tetapi tanpa ia sadari, ada murid yang begitu mengamati hal lain dari yang diinginkan sang guru. Begitulah kira-kira apa yang dinamakan aktivitas mengintip itu. 

Mengintip juga adalah semacam perilaku seksual. Dalam kuasa tatapan, kita bisa mengobjekkan orang yang diintip untuk dibayangkan sesuai kemauan kita. Kita mendapatkan semacam kepuasaan dalam melihat objek yang "tak berdaya" dalam artian tak mampu merespons, tak mampu membalas. Kebiasaan mengintip ini dapat sekaligus menjelaskan mengapa kita sering kepo di media sosial atau menikmati kehidupan selebriti di televisi. Kita bukan hanya sekadar memperoleh informasi, tetapi mendapatkan kepuasan dari informasi yang "tak berdaya" tersebut. Contoh lainnya, kita senang melakukan pengrujakan di Twitter atau X karena seseorang yang dirujak itu berada dalam kuasa pikiran kita, yang setiap usaha korban rujakan untuk membalas, malah akan mendapat serangan tambahan bertubi-tubi. 

Maka itu kita bisa saja menghakimi Foos sebagai manusia cabul yang berbahaya, membuat siapapun menjadi was-was berada di tempat tertutup karena potensi pemilik hotel yang bisa mengintip. Namun bukan si pengintip kadang yang berusaha mencari-cari objek untuk dilihat. Objek itu sendirilah yang mengekspos dirinya untuk diintip. Dalam sebuah istilah, kita kerap menyebutnya sebagai eksibisionis. Dalam dunia hari ini, kita senang mengintip dan diintip. Kita punya semacam fetish untuk dilihat dalam ketakberdayaan. Kita menuding Foos sebagai pervert, tapi kita juga cukup pervert untuk mengundang "Foos" memuaskan hasratnya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...