Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

"Unknown Number: The High School Catfish" (2025): Teror yang Dekat dan Ibu yang Tak Pernah Pergi

Peringatan: ulasan ini mengandung spoiler. 

Netflix tampaknya terus menegaskan dominasinya dalam genre true crime documentary lewat film Unknown Number: The High School Catfish (2025), arahan Skye Borgman, sutradara yang sebelumnya juga menggarap Girl in the Picture dan Abducted in Plain Sight. Namun kali ini, kisah yang diangkat terasa lebih dekat dan mengusik: bagaimana ancaman paling berbahaya bisa muncul bukan dari dunia maya yang asing, melainkan dari seseorang di dalam rumah sendiri. 

Film ini mengikuti kisah nyata Lauryn Licari, seorang remaja Amerika, dan pacarnya, Owen McKenny, yang mulai menerima pesan teks bernada ancaman dan pelecehan dari nomor tak dikenal sejak Oktober 2020. Setelah sempat berhenti, pesan itu kembali datang pada September 2021 dan berlangsung selama lebih dari 15 bulan. Isi pesannya penuh dengan hinaan, ancaman, bahkan komentar seksual terhadap Owen. Keluarga dan pihak sekolah panik; penyelidikan melibatkan kepolisian setempat hingga FBI. Namun plot twist-nya mengguncang: pelaku ternyata adalah Kendra Licari, ibu kandung Lauryn sendiri. 

Borgman menampilkan Kendra bukan sebagai monster instan, tapi sebagai figur yang kompleks—seorang ibu yang tampaknya mencintai anaknya, namun menyalurkan rasa sayangnya lewat bentuk pengendalian ekstrem. Dari sudut pandang psikoanalisis, perilaku Kendra mencerminkan kecenderungan Munchausen by Proxy, meski dalam bentuk yang lebih digital dan simbolik. Ia tidak menyakiti Lauryn secara fisik, melainkan menciptakan situasi teror agar dirinya tetap menjadi pusat perhatian dan simpati. Melalui pesan anonim, Kendra mengatur narasi penderitaan putrinya, lalu tampil sebagai sosok pelindung. Dengan kata lain, ia menciptakan luka sekaligus menawarkan dirinya sebagai obat, sebuah siklus narsistik yang membuatnya merasa “dibutuhkan”. 

Dalam kacamata Freud, tindakan Kendra bisa dibaca sebagai manifestasi dari unconscious desire for control, semacam dorongan tak sadar untuk menjadi figur utama dalam kehidupan anaknya yang mulai dewasa. Ketika Lauryn memiliki pacar, muncul ancaman kehilangan peran dan kedekatan emosional. Alih-alih beradaptasi, Kendra “menulis ulang” kenyataan lewat pesan-pesan penuh teror, seolah memaksa dunia menatap pada dirinya lagi. 

Film ini tak hanya bicara tentang kejahatan siber, tapi juga tentang bagaimana era digital memperluas ruang bagi patologi psikis untuk mengekspresikan diri. Di tangan Borgman, layar ponsel menjadi medium psikoanalisis baru, tempat di mana kecemasan, obsesi, dan rasa kehilangan menemukan bentuk baru dalam pesan teks. 

Unknown Number menegaskan bahwa ancaman terbesar kadang datang bukan dari luar, tapi dari cinta yang salah arah. Borgman tak berusaha menjustifikasi Kendra, namun juga tak membuatnya hitam putih. Film ini justru memancing refleksi lebih dalam tentang bagaimana batas antara kasih sayang dan obsesi bisa mengabur, terutama dalam konteks keluarga modern yang terhubung 24 jam melalui teknologi. 

Bagi penonton yang gemar kisah kriminal dengan lapisan psikologis, film ini bukan hanya dokumenter tentang catfishing -melainkan potret sunyi tentang kebutuhan manusia untuk tetap relevan dalam kehidupan orang yang ia cintai, meski dengan cara yang paling kelam.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...