Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Guru Spiritual

 

 

Tulisan ini bukan hendak mengagung-agungkan guru spiritual. Tulisan ini adalah hasil renungan atas film dokumenter di Netflix berjudul Bikram: Yogi, Guru, Predator (2019). Bikram Choudhury (lahir tahun 1944) adalah guru yoga pendiri Bikram Yoga yang populer sejak tahun 1970-an dengan cabang tersebar hingga 40 negara. Bikram Yoga mengajarkan 26 postur yang semuanya dilatih dalam temperatur mencapai 41 derajat celcius. Selain populer karena muridnya yang berjumlah jutaan dan cara mengajarnya dengan hanya menggunakan celana renang ketat, Bikram juga adalah pelaku kekerasan dan pelecehan seksual terhadap sejumlah muridnya. Hal inilah yang mengganggu saya dalam artian, seorang guru spiritual yang identik dengan dunia ketimuran sebagai dunia yang sebisa mungkin melepaskan keterikatan terhadap "nafsu kedagingan", ternyata begitu problematik dalam urusan seks yang konsensual. 

Problem guru spiritual ini terletak pada pengkultusannya. Sebagaimana diperlihatkan dalam gelagat Bikram, ia nampak delusional, memandang dirinya sebagai orang yang dipuja-puja. Bikram mengaku jarang tidur, jarang makan, dan mengklaim diri sebagai orang "paling spiritual". Dengan demikian, terdapat bayangan bahwa dirinya berada di atas manusia lain, mungkin semacam "titisan dewa". Bikram membumbui "ke-dewa-an"-nya tersebut dengan misalnya, pernah mengajar presiden Nixon, George Harrison, dan seleb lainnya. Mungkin saja omongan Bikram ada benarnya, tetapi hal yang lebih penting adalah bagaimana Bikram memposisikan cerita-cerita tersebut untuk menunjukkan kehebatan reputasinya, seperti saat dia berkata: Bikram tak perlu memerkosa. Kalau Bikram mau, jutaan perempuan akan mengantri untuk Bikram. 

Berangkat dari pengkultusan tersebut, guru spiritual menekankan keharusan murid untuk patuh dan percaya pada sang guru. Tanpa kepercayaan, ilmu tidak akan bisa ditularkan. Hal ini juga yang menjadi masalah kala terjadi kasus kekerasan seksual seperti misalnya yang terjadi di Shiddiqiyah oleh Moch. Subchi Azal Tsani atau Bechi. Bechi mengatakan akan mentransfer ilmu "metafakta" pada beberapa santri perempuan dan disitulah manipulasi terjadi. Murid dilarang untuk mempertanyakan apalagi melawan segala langkah yang dipraktikkan oleh gurunya. Dalam yoga, bahkan persentuhan tubuh lebih dimungkinkan karena misalnya, guru mesti mengoreksi postur dari murid. 

Disinilah mengapa pandangan "Barat" terkadang ada benarnya soal sikap egaliter. Memang ada yang dinamakan guru, dosen, pengajar, atau apapun itu, tetapi posisinya menjadi lebih tinggi hanya dalam tataran pemikiran ataupun perannya dalam "teater akademik". Secara sosok, kita bisa saja mengagumi, sekurang-kurangnya sebagai opinion leader, tetapi tak perlu dikultuskan, tak perlu kemudian terdapat taklid buta sehingga apapun yang muncul dari mulutnya adalah kebenaran. 

Lagipula, sosok adalah semacam kesementaraan. Seseorang bisa mempesona, tetapi bisa lama-lama meluntur, tak lagi cemerlang, karena keterikatannya pada tubuh dan dunia. Seseorang akan mati, tak lagi bisa dikagumi kecuali pikiran dan jasa yang ditinggalkannya. Disinilah beberapa pikiran "Barat" lagi-lagi jeli dalam upayanya menghapus subjek. Subjek bukan lagi manifestasi dari "aku yang berhasil menjadi tuan atas diriku sendiri", melainkan tak lebih dari pion-pion dari struktur yang lebih besar. Subjek terhapuskan dalam jejak sejarah, subjek terhapuskan dalam kuasa jejaring yang tak bisa dilawan, kecuali melalui gedoran pemikiran demi pemikiran. "Barat", langsung tak langsung, mengajarkan kita untuk menghilangkan taklid buta, pengkultusan, dan penyembahan terhadap figur tak perlu yang keberadaannya bersifat impermanen. 

Mungkin mereka yang sinis akan berkata: "Tapi kalian juga menyembah Sokrates, Plato, dan Aristoteles!" Oh tidak, pembacaan terhadap filsuf bukanlah kultus individu. Pembacaan ini dilakukan secara kritis tanpa harus takut oleh dosa atau hukuman atas pembangkangan.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...