Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Lokasi Kebahagiaan

 

Cari-cari film di Netflix, akhirnya jatuh pada Expedition Happiness. Dari posternya pun sudah agak-agak terbayang, bahwa film dokumenter ini kemungkinan mirip-mirip dengan Into the Wild (kisah petualangan menuju alam bebas, lepas dari rutinitas yang menjemukan). Ternyata meski punya kemiripan tema, Mogli dan Felix, pasangan yang melakukan perjalanan dalam Expedition Happiness, lebih santai dan masih mau bersosialisasi ketimbang Christopher McCandless dalam Into the Wild yang berupaya untuk jauh-jauh dari manusia. Expedition Happiness masih menunjukkan banyak sisi kemanusiaan dan juga kehewanan, sementara McCandless lebih menikmati hidup menyendiri. 

Mogli dan Felix adalah pasangan asal Jerman. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Amerika Utara menuju Amerika Selatan, dimulai dari Kanada, Alaska, melewati beberapa negara di AS, Meksiko, dan rencananya hingga Argentina. Mereka berangkat bertiga bersama seekor anjing bernama Rudi menggunakan bis sekolah yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memiliki toilet, dapur, dan tempat tidur. Expedition Happiness secara umum berisi tentang lika-liku perjalanan ketiganya, mulai dari mencari kendaraan yang tepat, upaya memodifikasinya supaya nyaman, masalah izin masuk di perbatasan, masalah di kendaraan, pertemuan demi pertemuan dengan warga lokal, hingga tentu saja, pemandangan indah dari setiap tempat-tempat yang dikunjungi. 

Mereka memaknai bahwa hidup dari momen ke momen ini adalah kebahagiaan seperti yang dikatakan oleh Felix:

"We don't have a routine ... No appointments, just living the life, living the moment. This is a happiness for sure.

Tema-tema semacam ini, yang secara umum berisi tentang kebahagiaan yang dicari melalui eskapisme dari kehidupan sehari-hari, memang memancing saya untuk nyinyir. Dulunya saya pikir keren, orang-orang seperti Christopher McCandless ini, yang mengekspresikan kebebasan secara ekstrem dengan cara soliter di alam liar. Namun sejak membaca Walden-nya Thoreau (yang menjadi inspirasi juga bagi McCandless), saya merasa kegiatan semacam itu justru elitis: pergi dari masalah sehari-hari, dengan perbekalan yang memadai, untuk kemudian mengutuki kehidupan masyarakat sebagai bukan kebahagiaan sejati. Hal yang dimaksud sebagai kebahagiaan justru adalah kebahagiaan semata-mata miliknya sendiri, yang dicapai dengan cara kabur dari masalah "sebenarnya". Mereka bukannya berupaya mengubah "dunia", melainkan memilih cabut dari "dunia". Crates, seorang sinis, menyatakan bahwa mereka yang memandang dunia dengan begitu hina, lupa bahwa dirinya juga adalah bagian dari dunia itu. 

Demikian halnya saat saya menonton perjalanan Mogli, Felix, dan Rudi. Mereka sebenarnya hanya mengadopsi kenyamanan hidup bermukim untuk kemudian diterapkan pada perjalanan jauhnya: toilet, dapur, kasur yang nyaman, listrik, air bersih, dan sebagainya. Kepedulian pasangan tersebut pada kesehatan Rudi yang menurun sepanjang perjalanan memang menyentuh, tapi kita bisa juga nyinyir pada hal ini: punya cukup uang dan waktu luang untuk memberikan perhatian besar pada hewan peliharaan adalah sesuatu yang mewah. Singkatnya, seperti halnya Thoreau, mereka hanyalah orang kaya yang sedang menciptakan kesulitan sendiri ... 

Namun saya akhirnya menyadari bahwa saya nyinyir pada mereka juga dari balik kenyamanan duduk depan laptop sambil berlangganan Netflix. Saya menjadikan nyinyir semacam itu sebagai sumber kebahagiaan saya sendiri juga. Bahkan diam-diam saya mengambil ponsel lalu WA istri yang sedang di luar, "Kalau punya banyak uang, kita keliling dunia yuk, road trip gitu." Istri saya cuma merespons iya-iya saja, sambil tahu bahwa saya pasti tidak kuat, mikirin bagaimana nanti pup nya, mikirin bagaimana nanti kalau susah makan, atau stres jika bertemu hewan liar. Iya benar, saya tidak benar-benar mau bepergian semacam itu, kecuali jika naik pesawat yang oke, tidur di hotel yang oke, dengan makanan terjamin dan tuan rumah yang siap sedia untuk direpotkan. 

Mungkin saya kurang avonturir, atau mungkin saya sudah puas dengan lokasi kebahagiaan tempat saya bermukim sekarang: nyinyir kehidupan orang lain yang ada pada layar di hadapan ...

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...