Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Dalam kegiatan belajar mengajar, sering kita dapati guru yang terus menerus mendikte muridnya. Guru diposisikan sebagai orang serba tahu dan murid sebagai kumpulan orang tidak tahu. Hal semacam ini disebut oleh pedagog Paulo Freire (1921 - 1997) sebagai "banking education" atau pendidikan a la bank. Artinya, murid-murid dianggap sebagai rekening kosong, dan guru pada posisi ini hanya berperan untuk melakukan deposit saja. Secara lebih jauh, Freire menganggap model pendidikan "banking education" hanya meneguhkan posisi guru sebagai "penindas" (oppressor) dan murid sebagai "yang ditindas" (oppressed).
Freire menyatakan dalam bukunya yang berjudul Pedagogy of The Oppressed (1970), bahwa murid-murid harus terbebaskan dari gaya pendidikan yang demikian. Tidak hanya "banking education" yang mesti dilawan, tapi juga "culture of silence". Menurut Freire, kebudayaan diam inilah yang menjadi dasar mengapa murid selalu ada di pihak yang didikte atau dalam bahasa Freire: ditindas. Apa yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam metode Freire adalah ini: berdialog, saling menghormati, mencintai kemanusiaan, dan membekali anak didiknya dengan suatu kemampuan praktis sekaligus reflektif untuk memecahkan persoalan sekitar.
Metode Freire tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
- Tujuan pendidikan adalah membangun kesadaran kritis, bukan membiasakan murid dalam situasi tertindas.
- Guru dan murid punya hubungan sebagai partner diskusi, bukan guru mengambil kontrol atas seluruhnya dan menganggap murid hanya sebagai objek.
- Guru harus mengajar dengan sebuah asumsi bahwa berbagai fenomena di dunia ini saling terkait satu sama lain dan tidak berdiri sendiri.
- Latar belakang historis dari si murid penting untuk dibahas dan menjadi bagian dari kegiatan belajar mengajar. Dialog kemudian dilakukan untuk memancing murid berbagi tentang latar belakangnya.
- Kata-kata yang digunakan mesti bermakna dan punya kekuatan, jangan sampai seorang guru teralienasi dari kata-katanya sendiri.
- Pendidikan harus menjadi alat transformasi. Membuat baik guru dan murid keduanya saling memanusiakan.
- Pendidikan harus terintegrasi dengan perubahan, bukan mengukuhkan situasi yang menindas.
Dalam poin-poin di atas, Freire menekankan tentang pentingnya dialog, berdiskusi, dan saling memajukan satu sama lain sebagai elemen terpenting dalam pendidikan. Atas catatan tersebut, mungkin kita bisa mengoptimalkan pikiran Freire lewat pendekatan ala Sokrates. Sokrates adalah filsuf Yunani yang diperkirakan lahir pada tahun 470 / 469 SM dan meninggal pada tahun 399 SM karena dihukum mati dengan cara minum racun cemara. Sokrates terkenal justru karena dia tidak pernah menuliskan pikiran atau ajaran apapun. "Ajaran" Sokrates hanya bisa kita ketahui dari catatan-catatan muridnya, Plato.
Sokrates memang tidak pernah benar-benar mengajar. Ia adalah orang yang percaya bahwa kebenaran sudah ada di dalam masing-masing orang dan tugasnya hanyalah sebagai "bidan" untuk membantu kelahirannya. Cara melahirkan kebenaran itu adalah dengan dialog. Namun dialog cara Sokrates ada kekhasan: Sokrates berdialog dengan bertindak seolah-olah ia adalah orang yang bodoh. Cara dialog yang demikian disebut dengan "ironi Sokrates". Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Sokrates diajukan sedemikian rupa sehingga kelihatan polos. Dengan demikian, orang-orang yang ditanya kemudian menjadi lebih percaya diri untuk menjawab dengan panjang lebar - karena tahu bahwa ia berhadapan dengan orang bodoh -.
Jawaban-jawaban yang dikemukakan oleh orang yang ditanya itu kemudian selalu direspon oleh Sokrates dengan pertanyaan lain, sehingga kemudian tercipta dialog, dan orang yang ditanya tersebut menemukan suatu kebenaran yang berasal dari dirinya - yang kadang dihasilkan dari kontradiksi atas pernyataannya sendiri -.
Contoh situasi kelas dengan metode mengajar Freire dan Sokrates:
Seorang dosen, sebut saja Amir, mengajar mata kuliah Kewarganegaraan. Ia berhadapan dengan sekitar empat puluh mahasiswa dengan latar belakang berbeda-beda. Kemudian ia masuk pada bab tentang pentingnya menjadi warga negara. Pada seorang mahasiswa berlatar belakang Papua, Amir memulai dialog:
"Menurutmu, apakah menjadi warga negara itu penting?"
"Penting, Pak."
"Mengapa?"
"Karena dengan demikian, kita mempunyai hak-hak sebagai warga negara."
"Apakah contoh hak-hak menjadi warga negara itu?"
"Misalnya, mendapat perlindungan hukum."
"Kalau negara tidak ada, apakah kamu tidak akan mendapat perlindungan hukum?"
"Saya kira, tidak."
"Berarti kamu pikir, hukum bersumber dari negara?"
"Saya kira tidak, dalam masyarakat pun terdapat hukum."
"Berarti, perlindungan hukum bisa dilakukan tanpa harus ada negara?"
"Saya kira, Bapak benar."
Amir telah memulai suatu langkah penciptaan kesadaran kritis. Ia tidak berhenti pada suatu kata-kata yang teralienasi tentang pentingnya menjadi warga negara hanya lewat jargon belaka. Amir mencoba berdialog, dan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam, ia berhasil menemukan kontradiksi dalam pernyataan mahasiswa asal Papua tersebut. Dialog tersebut bisa dilanjutkan pada hal-hal yang lebih historis misalnya apa arti menjadi warga negara Indonesia bagi masyarakat Papua, dan seterusnya.
Daftar Pustaka:
Freire, Paulo. 1970. Pedagogy of The Oppressed. New York: Continuum
Pedagogy Of The Oppressed - What Is It and Why Its Still Relevant.
http://www.practicingfreedom.org/pedagogy-of-the-oppressed-what-is-it-and-why-its-still-relevant/
Sumber gambar:
https://alchetron.com/Paulo-Freire-804547-W
http://filosofi.no/sokrates/
.png)

Comments
Post a Comment