Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pameran Mind Reflection Andra Semesta: Dari Sinestesia hingga Magi Mandala

Sekitar sebulan lalu, saya diundang oleh seorang kawan, fotografer bernama Galih Sedayu, untuk menjadi pembicara tentang topik "Peran Seni Rupa dalam Industri Kreatif". Diskusi yang diadakan di Lawangwangi Art Space tersebut juga turut mengundang seniman Tisna Sanjaya. Namun bukan tentang diskusi yang ingin saya bahas dalam tulisan ini, melainkan pameran Andra Semesta yang berjudul Mind Reflection. Diskusi memang diadakan di tengah-tengah pameran tersebut, dan memang dirancang sebagai bagian dari pameran. 

Andra Semesta adalah seniman rupa lulusan Wimbledon College of Arts. Apa yang menjadi proyek melukisnya sangat bertalian dengan musik. Apa maksudnya? Ada dua kemungkinan hubungan Andra dengan musik dalam hal ini:
  • Andra menjadikan musik sebagai stimulus geraknya. Irama musik yang menggiring kemana ia harus menggerakan kuas (atau juga tangan kosong) dan irama musik juga yang membisikkan warna apa yang harus ia pilih untuk digoreskan di atas kanvas. 
  • Ini yang lebih mendalam: Andra melihat musik dan ia memvisualkannya ke atas kanvas. Jadi bukan musik sebagai stimulus, melainkan musik sebagai objek. 
Jika yang terakhir yang Andra "idap", maka ini semacam apa yang disebut dengan synesthesia atau fenomena neurologis dimana seseorang mengalami semacam "perlintasan sensori". Misalnya, seorang mendengarkan musik, tapi yang muncul dalam kepalanya adalah warna-warna. Atau sebaliknya, seseorang melihat warna, tapi muncul pada sensorinya adalah bebunyian. Meski demikian, bukti ilmiah tentang synesthesia sendiri tidak terlalu kuat dan konkrit karena hanya berasal dari pengalaman-pengalaman pribadi saja. 

Apakah Andra mengalami synesthesia? Mungkin saja, tapi pertanyaannya: Seniman mana yang tidak mengalami "synesthesia"? Bukankah disitu kelebihan seorang seniman: Menabrak batas-batas sensori, sehingga misalnya, bagi seorang sastrawan, ia bisa menuliskan tentang "aroma Bandung" yang sedang ia hirup dan bagi seorang komposer, ia bisa mengomposisi sebuah karya musik tentang "setan dan malaikat"? 

Proyek lukisan Andra sebenarnya tidak terlalu baru. Dalam khazanah seni rupa Barat, ada seorang Rusia bernama Wassily Kandinsky (1866 - 1944) yang melukis dengan preferensi musik - sehingga karya lukisnya diberi judul seperti halnya musik, yaitu mengandung kata-kata seperti "composition" dan "improvisation" -. Apa yang dilakukan Kandinsky dengan karya abstraknya tidak terlalu populer di Rusia pada masanya (terutama ketika beralih ke Uni Soviet sejak 1917). Namun ia tetap beruntung karena belum sempat mengalami era "Doktrin Zdhanov" di tahun 1946 yang lebih kuat mengatur karya seni dan mengarahkannya pada estetika realisme sosialis.

Kalaupun yang dilakukan oleh Andra itu tidak ada yang baru -jika diasumsikan bahwa arah gerak seni rupa harus mengarah pada sesuatu yang baru-, maka apa keistimewaan karya-karyanya, yang juga diberi label judul lagu atau judul album tersebut? Menarik jika melihat bahwa Andra memilih kanvas dengan bentuk lingkaran. Selidik punya selidik, pemilihan tersebut bukannya tanpa arti. Andra menginterpretasikannya sebagai sebuah mandala (bentuk yang sering ada dalam tradisi Hinduisme ataupun Buddhisme, sebagai perlambang alam semesta). Ternyata benar, ada kesan yang berbeda mengapresiasi sebuah lukisan abstrak dalam bingkai mandala. Ada suatu kesan bahwa musik, dalam perspektif Andra, diangkat derajatnya pada suatu maqam yang spiritual. Sepertinya Andra ingin mengatakan, musik itu adalah suatu entitas tak terbatas, dan betapa menderitanya ia jika harus dimampatkan dalam suatu medium visual yang terbatas (baca: kanvas segiempat). Namun pesona mandala sepertinya lebih mampu mewakili ketakterbatasan musik.

Epilog: Di akhir diskusi, Andra dan Tisna melukis bersama, merespon musik yang saya mainkan.    




Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...