Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

(Bioskop Alternatif) Bioskop Alternatif Berkembang Sebagai Ruang Diskusi (1 dari 5)

 
*) Diambil dari artikel yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Teropong, 13 Februari 2017.

Dari sekian banyak jenis hiburan yang khas di perkotaan, tentu gedung bioskop menjadi salah satu pilihan yang tidak lekang oleh waktu. Di gedung bioskop, kita bisa menyaksikan film dengan suasana yang dibuat sedemikian rupa sehingga apa yang ditayangkan menjadi terasa lebih megah dan kadang terasa lebih nyata –layar besar, lampu digelapkan, tempat duduk nyaman, dan sound system yang mumpuni-. Hal tersebut tentu menjadi sensasi tersendiri, dibanding jika kita menonton film melalui televisi. Selain itu juga, hal yang menjadi pembeda antara menonton film lewat televisi dan di gedung bioskop, adalah ini: Film yang diputar di bioskop, adalah film-film yang relatif baru dirilis; sedangkan televisi, biasanya lama kemudian setelah film tersebut diputar di bioskop. 

Namun tidak sedikit masyarakat awam yang menganggap bahwa film yang diputar di gedung bioskop adalah film-film “terbaik” pada masanya. Memang pendapat tersebut tidak keliru, tapi bisa sedikit diperdebatkan. Kenyataannya, banyak film-film berkualitas yang tidak diputar di gedung bioskop, karena berbagai pertimbangan, misalnya: durasi terlalu panjang, berasal dari negara yang tidak terlalu populer dengan filmnya (misalnya, negara-negara di Afrika atau Skandinavia), atau topiknya terlalu “berat” sehingga khawatir tidak laku dijual. Artinya, pertimbangan pasar tentu menjadi hal yang utama bagi gedung bioskop yang notabene didirikan untuk meraup keuntungan. 

Lantas, apakah fungsi film adalah melulu harus memenuhi fungsi hiburan? Tentu saja, sebagaimana umumnya sebuah seni, unsur rekreasi tentu harus menjadi salah satu bagiannya. Tapi film, pada dasarnya, juga ada fungsi lain seperti edukasi, refleksi, hingga ke perubahan sosial. Adakah kita dapat temui film-film seperti itu? Ada, jika kita bicara bioskop yang melepaskan dirinya dari definisi-definisi umum tentang gedung bioskop yang dibuat semata-mata untuk kepentingan bisnis. Kita sebut saja bioskop tersebut dengan sebutan: bioskop alternatif. 

Geliat Bioskop Alternatif 
Contoh komunitas yang rajin mengelola bioskop alternatif di Bandung adalah Layarkita. Berdiri sejak tahun 2011, komunitas tersebut aktif mengadakan pemutaran film setiap hari Senin di Auditorium Pusat Kebudayaan Prancis (IFI – Bandung). Film-film yang diputar sangat beragam dan tidak akan bisa kita temukan di gedung bioskop umum seperti Blitz Megaplex atau Cinema 21. Misalnya, ada film-film yang berasal dari Afrika, Eropa, hingga Timur Tengah –yang umumnya sulit untuk kita temukan di gedung bioskop yang umum-. Tidak hanya itu, film-film yang diputar juga ada yang berasal dari tahun-tahun yang sudah lampau, seperti Battleship Potemkin (1925), Seven Samurai (1954), Twelve Angry Men (1957), Bande a Part (1964), hingga 2001: A Space Odyssey (1968).

Penyelenggara bioskop alternatif di Bandung tidak hanya LayarKita. Ada juga Sinesofia, Kineruku, Selasar Sunaryo, Klab Jazz Sinematheque, Garasi10, hingga yang pernah aktif di masa-masa awal, yaitu Sinerupa Pirous (sekitar tahun 1998 hingga 2002). Selain itu, ada juga Warung Film (yang merupakan divisi di bawah komunitas Ruang Film Bandung), yang berkegiatan di Bale Motekar dan bekerjasama dengan UNPAD serta Digital Innovation Lounge (DILo). Mereka mengurus satu ruang yang memang dibuat sedemikian rupa agar seperti ruang bioskop (meski berukuran lebih kecil). Warung Film menawarkan pemutaran film secara reguler hampir setiap hari (kecuali hari Senin) dengan film-film yang utamanya mempunyai semangat indie. Artinya, film-film yang diputar, adalah film yang belum menembus layar lebar, atau sudah turun layar tapi belum sempat diapresiasi oleh orang banyak. Intinya, ada semangat untuk mendukung karya-karya sutradara lokal terutama mereka yang termasuk ke dalam generasi muda. Di sisi lain, pemerintah pun turut memberi perhatian bagi keberadaan bioskop alternatif di Kota Bandung. Misalnya, dengan memberikan fasilitas berupa Taman Film di wilayah Balubur. Meski demikian, Taman Film ini sepertinya masih belum dapat menjadi tempat pemutaran film yang menjadi pilihan utama para cinephile. Selain karena belum adanya jadwal pemutaran film secara reguler, juga secara pengelolaan masih belum jelas. Untuk hal-hal terkait penyelenggaraan screening film yang sifatnya insidentil saja, dibutuhkan birokrasi yang agak berbelit-belit. Meski demikian, Taman Film tetap dapat menjadi harapan para cinephile untuk ke depannya menjadi bioskop alternatif yang berkualitas, terutama dari segi tata suara dan sensasi menonton film di ruang publik yang relatif luas. 

Namun terlepas dari keberadaan Bale Motekar dan Taman Film yang cenderung sudah terfasilitasi secara baik, pada dasarnya bioskop alternatif dapat terselenggara selama ada proyektor, layar (tidak harus, bisa ditembakkan ke tembok), speaker aktif, pemutar (di zaman sekarang, bisa menggunakan laptop), dan tentu saja, material filmnya. Selain itu, ada hal yang patut dipandang sebagai sebuah kelebihan dari bioskop alternatif -selain film-filmnya yang “aneh” dan indie- yaitu kenyataan bahwa bioskop alternatif sering berkembang menjadi sebuah forum diskusi. Hal tersebut tentu didorong oleh beberapa faktor, misalnya: Jumlah orang yang tidak sebanyak bioskop umum, sehingga secara kuantitas menjadi cukup kondusif untuk melakukan diskusi dan dengar pendapat; tempat pemutaran biasanya merupakan tempat yang juga sering digunakan untuk aktivitas lain, seperti rumah tinggal, kafe, ataupun perpustakaan, sehingga suasananya lebih cair daripada gedung bioskop yang fungsinya relatif tunggal hanya untuk menonton film; serta material filmnya memang menarik untuk menjadi bahan diskusi, karena umumnya bisa ditafsirkan dalam berbagai sudut pandang –tidak seperti film yang punya fungsi hiburan semata, yang memang dibuat agar mudah dimengerti-. Intinya, di bioskop alternatif, kebutuhan para cinephile (penggila film) mungkin malah lebih terpuaskan daripada di gedung bioskop umum. 

Bioskop alternatif bisa jadi semacam ikhtiar jangka panjang. Di tengah terpaan media dewasa ini yang kadang sudah tidak peduli lagi aspek edukasi, refleksi, dan gerakan sosial (karena sudah terlalu menghamba pada pasar), bioskop alternatif terus berjuang menghadirkan tontonan yang meski jauh dari kepentingan pasar, tapi punya nilai-nilai yang bisa mencerdaskan penonton kita. Bioskop alternatif ingin pelan-pelan membentuk satu kesadaran dalam masyarakat, bahwa film tidak hanya seperti petasan: Seru sesaat setelah itu hampa. Film tertentu bisa dibahas dengan sangat tidak terbatas, seperti contohnya: gaya sinematografinya (Truffaut dan Godard dengan French New Wave-nya atau Fellini dan De Sica dengan Neo-Realisme Italia-nya), aspek historis dan sosial politik ketika film itu dibuat (film Birth of A Nation dan perang sipil di Amerika, atau The Godfather dan perubahan kepemimpinan di Kuba), psikologi sang sutradara (Alfred Hitchcock yang film-filmnya selalu kental dengan nuansa psikoanalisis) dan masih banyak hal lainnya. 

Memang, sekilas, seolah-olah film menjadi hal yang kemudian dibahas secara bertele-tele dan bisa jadi berlebihan. Namun setidaknya, dengan hadir ke bioskop alternatif, artinya ada bagian dari masyarakat kita yang mau mencoba untuk duduk-untuk-mengerti, berdiskusi, dan tidak begitu saja terbawa oleh arus pasar yang belum tentu benar. Jangan sampai kita menjadi seperti yang dikatakan sutradara Garin Nugroho, yang ucapan tersebut penulis dengarkan dalam sebuah forum filsafat pada sekitar tahun 2012, bahwa, “Kelemahan masyarakat kita adalah selalu ingin menonton film yang langsung bisa dimengerti. Jika ia tidak mengerti, maka ia akan menyimpulkan bahwa filmnya tidak bagus.”



Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...