Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Tentang Belajar Gambar Bersama Klinik Rupa Dokter Rudolfo

Dimulai Desember kemarin, saya tiba-tiba ingin belajar gambar. Gurunya siapa, tidak tahu. Tapi ketika sedang melihat-lihat linimasa di Facebook, tanpa sengaja saya memperhatikan akun seseorang yang sebenarnya sudah saya kenal sejak lama, yaitu R.E. Hartanto - biasa dipanggil Mas Tanto-. Ternyata, dari posting-posting-nya bisa disimpulkan, selain sebagai seorang seniman rupa yang cukup produktif, Mas Tanto juga senang mengajar gambar (untuk yang terakhir ini, memang saya baru tahu). Tanpa pikir panjang, saya sapa dia di fitur pesan Facebook dan kami langsung berbincang untuk sepakat soal harga, waktu les, dan materi belajarnya - yang ia sebut sebagai realisme optis (optical realism)-. Oia, Mas Tanto, yang cukup nyentrik ini, menyebut program kursusnya sebagai "Klinik Rupa Dokter Rudolfo".

Apa yang dipelajari pada mulanya? Awalnya, jujur saja, saya agak ragu. Bagaimana mungkin, tugas pertemuan pertama adalah belajar membuat garis melengkung sebanyak satu rim! Cara memegang pensil pun harus khusus, yaitu dengan kuku menghadap ke langit dan kelingking menyentuh kertas sebagai penumpu. Posisi berdiri, kata Mas Tanto, lebih bagus dalam menghasilkan garis. Saya melakukan ini sampai pegal-pegal, sambil bertanya-tanya: Jika begini terus, kapan saya bisa pameran tunggal? 

Setelah lulus dari membuat garis lengkung, tiba saatnya memasuki materi yang lebih estetis: mengarsir. Arsir ini harus dari gelap sekali, ke terang sekali, ke gelap lagi, tanpa kelihatan "sambungan"-nya. Saya mengarsir dalam sebuah bentuk yang menyerupai pita, sehingga hasil arsiran kelihatan mempunyai efek gelombang. Tugas ini, seperti sebelumnya, juga bikin saya frustasi. Berkali-kali saya disuruh pulang karena arsiran saya tidak memenuhi keinginan Mas Tanto. Namun setelah empat pertemuan, Mas Tanto meluluskan arsiran saya  - mungkin karena kasihan-. Saya dipersilahkan untuk mulai menggambar objek dengan metode tracing.


Objek pertama yang dijiplak adalah tengkorak. Saya kira menjiplak tengkorak ini mudah. Namun ternyata, butuh delapan pertemuan hingga akhirnya diluluskan! Mas Tanto ternyata cukup jeli dalam memilih materi. Objek tengkorak dipilih agar saya membiasakan diri dengan gelap - terang (yang katanya lebih kelihatan jelas ketika mata kita dipicingkan), kontur wajah, dan shading. Tengkorak tentu awal yang bagus sebelum masuk ke wajah manusia yang lebih susah ditafsir raut wajah dan warna kulitnya.

Setelah delapan pertemuan yang melelahkan, akhirnya saya diperbolehkan menggambar wajah manusia. Wajah manusia pertama yang saya gambar adalah wajah seorang dosen yang juga pembalap motor, Mas Yusrila Kerlooza. Hingga pertemuan ini, saya mulai paham (walau belum tentu hasilnya bagus) bagaimana harusnya menggambar itu: Tracing tidak harus detail. Justru tracing yang tidak detail akan lebih banyak melibatkan kekuatan observasi dan tafsir si penggambar - yang pada titik itu, justru memberi kekuatan -. 


Perjalanan belajar gambar saya masih panjang. Saya malah kian penasaran dengan materi-materi apa yang akan diberikan Mas Tanto ke depannya. By the way, tujuan saya belajar menggambar ini sebenarnya sederhana saja: ingin mengerti kerja Tuhan. 




Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...