Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Dimulai Desember kemarin, saya tiba-tiba ingin belajar gambar. Gurunya siapa, tidak tahu. Tapi ketika sedang melihat-lihat linimasa di Facebook, tanpa sengaja saya memperhatikan akun seseorang yang sebenarnya sudah saya kenal sejak lama, yaitu R.E. Hartanto - biasa dipanggil Mas Tanto-. Ternyata, dari posting-posting-nya bisa disimpulkan, selain sebagai seorang seniman rupa yang cukup produktif, Mas Tanto juga senang mengajar gambar (untuk yang terakhir ini, memang saya baru tahu). Tanpa pikir panjang, saya sapa dia di fitur pesan Facebook dan kami langsung berbincang untuk sepakat soal harga, waktu les, dan materi belajarnya - yang ia sebut sebagai realisme optis (optical realism)-. Oia, Mas Tanto, yang cukup nyentrik ini, menyebut program kursusnya sebagai "Klinik Rupa Dokter Rudolfo".
Apa yang dipelajari pada mulanya? Awalnya, jujur saja, saya agak ragu. Bagaimana mungkin, tugas pertemuan pertama adalah belajar membuat garis melengkung sebanyak satu rim! Cara memegang pensil pun harus khusus, yaitu dengan kuku menghadap ke langit dan kelingking menyentuh kertas sebagai penumpu. Posisi berdiri, kata Mas Tanto, lebih bagus dalam menghasilkan garis. Saya melakukan ini sampai pegal-pegal, sambil bertanya-tanya: Jika begini terus, kapan saya bisa pameran tunggal?
Setelah lulus dari membuat garis lengkung, tiba saatnya memasuki materi yang lebih estetis: mengarsir. Arsir ini harus dari gelap sekali, ke terang sekali, ke gelap lagi, tanpa kelihatan "sambungan"-nya. Saya mengarsir dalam sebuah bentuk yang menyerupai pita, sehingga hasil arsiran kelihatan mempunyai efek gelombang. Tugas ini, seperti sebelumnya, juga bikin saya frustasi. Berkali-kali saya disuruh pulang karena arsiran saya tidak memenuhi keinginan Mas Tanto. Namun setelah empat pertemuan, Mas Tanto meluluskan arsiran saya - mungkin karena kasihan-. Saya dipersilahkan untuk mulai menggambar objek dengan metode tracing.
Objek pertama yang dijiplak adalah tengkorak. Saya kira menjiplak tengkorak ini mudah. Namun ternyata, butuh delapan pertemuan hingga akhirnya diluluskan! Mas Tanto ternyata cukup jeli dalam memilih materi. Objek tengkorak dipilih agar saya membiasakan diri dengan gelap - terang (yang katanya lebih kelihatan jelas ketika mata kita dipicingkan), kontur wajah, dan shading. Tengkorak tentu awal yang bagus sebelum masuk ke wajah manusia yang lebih susah ditafsir raut wajah dan warna kulitnya.
Setelah delapan pertemuan yang melelahkan, akhirnya saya diperbolehkan menggambar wajah manusia. Wajah manusia pertama yang saya gambar adalah wajah seorang dosen yang juga pembalap motor, Mas Yusrila Kerlooza. Hingga pertemuan ini, saya mulai paham (walau belum tentu hasilnya bagus) bagaimana harusnya menggambar itu: Tracing tidak harus detail. Justru tracing yang tidak detail akan lebih banyak melibatkan kekuatan observasi dan tafsir si penggambar - yang pada titik itu, justru memberi kekuatan -.
Perjalanan belajar gambar saya masih panjang. Saya malah kian penasaran dengan materi-materi apa yang akan diberikan Mas Tanto ke depannya. By the way, tujuan saya belajar menggambar ini sebenarnya sederhana saja: ingin mengerti kerja Tuhan.



Comments
Post a Comment