Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pejalan (3)

 

Seorang pejalan tidak hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pejalan adalah orang yang menghayati perpindahan tersebut. "Saya akan pergi ke minimarket yang jaraknya seratus meter," seseorang bisa mengatakan demikian, tetapi tak bisa dikatakan pejalan jika seratus meter dipandang sebagai jarak yang menghalangi dirinya dan tujuannya. Bagi sang pejalan, minimarket itu tentu penting, tetapi lebih penting lagi: seratus meter yang diarunginya. Seorang juru sampan bernama Vasudeva dalam novel Siddhartha karya Herman Hesse pernah membicarakan tentang "jarak yang memisahkan". Saya lupa persisnya, tetapi kira-kira Vasudeva mengatakan semacam ini, "Banyak orang menganggap sungai hanyalah penghalang bagi tujuannya, padahal kita bisa dengarkan banyak suara dari sungai ini." 

Selama ini saya tak paham apa arti menjadi pejalan. Alasannya, sebagai orang yang pernah begitu aktif bermedia sosial, perjalanan adalah sekaligus kesempatan untuk membuat konten. Saya akan menceritakan dengan berbagai macam cara bahwa, "Saya sedang dalam perjalanan menuju A", "Di perjalanan menuju A saya menemukan hal menarik yakni blablabla", "Setibanya di A, saya bertemu orang menarik yakni ..." dan seterusnya, sedemikian rupa sehingga banyak orang mengetahuinya. Hal semacam itu saya pikir sah-sah saja, tetapi ternyata membuat saya menjadi seorang yang berpikiran instrumental: selalu menjadikan apa yang ada di hadapan sebagai sarana (bagi tujuan bernama dokumentasi serta respons di media sosial). 

Belakangan ini, sejak tak lagi aktif mem-posting di media sosial, saya sempat kebingungan, terlebih lagi saat melewati sejumlah perjalanan tak terduga dari kota B2, ke kota P1, hingga sampai ke kabupaten P2: Pada siapa saya harus menceritakan ini semua? Namun pertanyaaan demikian sekaligus terasa memalukan, karena: Untuk apa saya harus menceritakan ini semua? Memang dalam tulisan ini saya tetap menceritakannya juga, tetapi tidak dalam niatan yang mirip dengan ketika saya merasa harus untuk mem-posting-nya secara aktual di media sosial seperti Instagram atau X. Menulis di blog punya jeda waktu yang lumayan untuk sempat menyerap serta merenungkan peristiwa-peristiwa itu, sebelum akhirnya diceritakan ulang dengan santai (tanpa dilandasi motif FOMO). 

Dengan tak ada lagi keharusan untuk mengunggah segala peristiwa secara aktual, saya terpaksa merengkuh penuh apa yang ada di hadapan. Saat memandangi sawah-sawah di sepanjang jalan menuju lokasi pesantren, saya tak perlu mengambil gambar, tak perlu juga mengunggah story. Saya hirup udaranya dalam-dalam, manjakan mata ini oleh visual yang indah-indah, serta resapi setiap pertemuan: segala pesan yang muncul dari wajah-wajah. Dengarkan. Simak. Tak perlu di-posting

Sebenarnya perasaan semacam ini tak asing-asing amat. Waktu tahun 2013 nonton Metallica, saya tak berminat merekamnya. Saya tonton mereka dengan penuh penghayatan, hadir penuh dalam peristiwa itu, dan tak menyimpan sama sekali video konser mereka. Tak penting mengabadikan pertunjukkan tersebut dalam bit-bit data, karena semuanya telah tersimpan dalam tubuh saya. Demikian halnya pengalaman saya kemarin. Saya menjadi pejalan karena tak lagi memiliki niat mengunggah apa-apa yang saya temui di jalan ke media sosial. Saya menjadi pejalan karena merekam apa-apa yang ada di perjalanan ke dalam tubuh dan ingatan saya. Saya adalah pejalan karena tak lagi menganggap jarak sebagai penghalang. Jarak adalah tasbih antara saya dan Dia.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...