Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pejalan (2)

 


Setelah perjalanan bus kurang lebih tiga belas jam, saya tiba di kabupaten P2 sekitar pukul enam pagi. Jarak ke lokasi ternyata masih cukup jauh sehingga saya memutuskan untuk ngopi-ngopi di sebuah warung. Saya ngobrol dengan warga lokal sambil menyantap makanan khas di sana. Kesan saya, warga lokal ini sangat ramah dan senang sekali bercerita. Saya akhirnya diminta naik becak ke lokasi sambil menikmati pemandangan sawah dan menghirup udara segar. Sungguh lingkungan yang nyaman, jauh dari hiruk pikuk perkotaan beserta segala konfliknya yang kadang dibuat-buat saja. 

Lokasi yang akan saya kunjungi adalah sebuah pesantren. Tempat yang tidak pernah akrab bagi saya, meskipun punya beberapa teman yang berasal dari lingkungan tersebut. Saya diundang oleh orang penting di pesantren itu, atau bisa dikatakan juga semacam pimpinannya. Mungkin pimpinan ini juga ada banyak dan berhierarki, tapi yang pasti orang tersebut, yang berikutnya saya sebut saja sebagai Guru, adalah salah satu yang berpengaruh.

Di kediaman Guru yang masih di lingkungan pesantren, jangan ditanya lagi, saya diajak untuk beribadah secara rutin dengan waktu istirahat yang bisa dikatakan sedikit untuk ukuran saya. Saya memang orang yang selama ini sangat malas beribadah, bahkan untuk ibadah yang wajib bagi seorang Muslim. Sementara di tempat ini, saya tidak hanya didorong untuk menjalankan solat lima waktu, melainkan juga solat malam, zikir, dan berdoa di waktu-waktu khusus. 

Saya tidak bisa melupakan momen ini: Guru mengajak saya untuk merenung, berdua saja, sekitar pukul 21, dengan lampu digelapkan supaya khusyu. Saya diajarkan berzikir, dengan bacaan-bacaan yang sebenarnya sudah sangat umum, tetapi diminta untuk merenungkan kembali maknanya, dibenarkan cara bacanya, dan ditanamkan bagaimana cara menghayatinya. Saya ingat pesan-pesan Guru saat momen ngobrol agak bebas:

"Keimanan harus lebih besar dari ilmu, ilmu harus lebih besar dari kehidupan, kehidupan harus lebih besar dari diri, diri itulah harus yang paling kecil."

Pernyataan Guru tersebut menyentak saya. Selama ini saya memposisikan itu semua nyaris sebaliknya: diri menjadi yang paling besar, sementara iman malah yang paling kecil. Lalu saat membicarakan perihal filsafat, katanya begini:

"Kita tidak selalu memerlukan pisau, kadang kita hanya perlu piring, sendok, gelas."

Simbolik, tapi saya paham maksudnya. Momen itu begitu berkesan. Seseorang yang begitu sibuk dengan urusan pesantrennya, mau meluangkan waktu berdua saja dengan saya, si pejalan yang tersesat. Untuk pertama kalinya saya merasa tak harus untuk mempertanyakan semua: ikuti saja, patuhi saja, dengan penuh rasa hormat, atas apa yang diucapkan Guru. Saya pernah begitu dekat dengan agama, sekitar masa-masa SMP hingga kuliah, sebelum kemudian menjauh selama belasan tahun, hingga akhirnya didekatkan kembali lewat Guru yang menggali kembali pemahaman-pemahaman saya secara mendasar. Ternyata ketahuan, saya tak paham apa-apa. Jangankan keilmuan, iman saja saya tak punya.

Maka momen itu menjadi momen kembali. Segala kehancuran telah membuka jalan untuk bertasbih kepada-Nya. Saya harap Dia mau menerima, pertaubatan seorang pejalan yang tertatih-tatih, bergelimang dosa, untuk menuju kepada-Nya. 

Dua malam saja saya di sana, karena harus pulang demi sebuah urusan di Jakarta. Dua malam yang menenangkan batin, mungkin mengubah hidup saya selama-lamanya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...