Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tentang Sedekah dan Zakat


Ilmu agama saya, terus terang, tidak terlalu bagus. Lebih tepatnya, apa yang saya dapatkan selama ini tentang Islam, berasal dari dogma-dogma dan ajaran yang ditanamkan sejak kecil. Saya tidak pernah belajar agama secara formal atau mendalaminya dengan ilmu yang memadai. Modal saya ya hanya filsafat inilah, yang membuat saya berani mengorek-ngorek secara kritis perihal agama, terutama agama yang saya anut. Selama ini, saya menganggap sedekah adalah sesuatu yang mulia dan memang benar, mulia. Ibu mengajarkan untuk bersedekah sambil berpesan: jangan takut harta berkurang, karena sebaliknya, justru akan bertambah. Jika kita berhenti sampai di sana, tentu segalanya aman dan sentosa, tetapi, sialnya, nalar filsafati ini ingin saja mengejar dan mempertanyakan: apakah benar sesederhana itu? 

Kunci sedekah adalah "seikhlasnya". Setahu saya, tidak ada keharusan untuk memberikan sedekah sebanyak sekian persen dari harta yang dimiliki atau penghasilan rutin. Seikhlasnya berarti ada prasyarat moral di sana: si pemberi harus memberi atas dasar "kebaikan". Dalam sedekah, pemberi diberi pilihan untuk tidak memberi dan itu sah-sah saja, tidak membuatnya menjadi berdosa. Memberi atas dasar "kebaikan", dan bukan "keharusan" ini, bisa menjadi masalah tersendiri bagi keadilan distributif. Misalnya, A mempunyai uang 100 juta, sementara B, C, dan D, memiliki uang 1 juta. Atas dasar "kebaikan" A, maka ia bersedekah sebesar 1 juta pada masing-masing B, C, dan D sehingga uang A tersisa 97 juta sementara B, C, dan D memiliki masing-masing 2 juta. Apakah A merasa "bersalah" dengan ketimpangan ini? Kemungkinan besar tidak, bahkan ia merasa sudah sangat mulia karena bersedekah. 

Persoalan lebih pelik adalah ketika ajaran mengaji tertentu menganggap balasan atas sedekah ini sifatnya kontan dan langsung di dunia. Misalnya, jika kita sedekah 1 juta, maka akan mendapat uang kembali sebesar 10 juta. Jika kita percaya balasan yang semacam itu, maka motif sedekah menjadi semakin menjauh dari keadilan distributif, melainkan untuk kekayaan pribadi yang lebih berlipat. Ia tidak memberi untuk membuat keadaan ekonomi orang lain menjadi lebih "baik", tapi untuk membuat dirinya sendiri lebih kaya. Jadi, bagaimana sedekah itu "seharusnya"? Saya tidak bisa mengatakan yang seharusnya karena persoalan ini bisa jadi berada di area transenden. Namun bagi saya, sedekah itu mungkin mestinya bersifat deontologis. Artinya, kita memberi karena merasa perlu untuk memberi, bukan karena konsekuensi dari memberi: aku memberi karena beriman pada Allah, bukan agar mendapat keuntungan pribadi. Kalaupun setelah memberi ini, misalnya, aku tertimpa musibah, atau menjadi tidak punya uang, maka aku tidak usah protes karena aku memberikan sedekah itu dengan ikhlas (dalam arti tidak berharap kembali dalam bentuk apapun). Sedekah tentu dianjurkan dan tetap keren, baik, tapi hati-hati ilusi yang mengarahkan kita pada sikap rakus (ujung-ujungnya penumpukan harta) dan perlu juga mempertimbangkan dalam kacamata makro: akankah sedekah menyelesaikan persoalan ketimpangan? 

Lantas, bagaimana dengan zakat? Menariknya, zakat tidak hanya punya kalkulasi tersendiri, tapi juga bersifat "memaksa". Ini sebabnya Abu Bakar dan Umar, sahabat Nabi, pernah memerangi orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat. Saya pikir waktu itu: kenapa diperangi? Bukankah "suka-suka" pemilik harta saja mau berbagi atau tidak? Saya sepertinya mengerti: Abu Bakar dan Umar tengah mengusahakan keadilan distributif karena asumsinya, tidak mungkin ada kepemilikan pribadi yang murni atas dasar kerja keras sendiri. Di dalam setiap harta, ada hak orang lain. Dilematisnya, zakat memang mengusahakan keadilan distributif dengan cara memaksa, tapi jumlahnya juga mungkin "tidak terlalu besar". Misalnya, untuk zakat fitrah, angka yang wajib dikeluarkan adalah 2,5 kilogram dari bahan makanan pokok atau 3,5 liter per jiwa, atau jika dibayar menggunakan uang tunai, maka kira-kira setara dengan 1 sha' gandum, beras atau kurma. 

Jika disederhanakan, mungkin sedekah terkesan "liberal" karena tergantung pada "kebaikan individu", sementara zakat lebih ke arah "sosialis" karena diwajibkan demi terjadinya keadilan distributif (meski angkanya agak "kurang ideal"). Sekurang-kurangnya, meski keadilan distributif, saya percayai, tidak mungkin benar-benar tercapai, tapi setidaknya Islam mengusahakan lewat berbagai jalur, baik berupa kebaikan moral maupun keharusan secara struktural. Pengakuan atas kepemilikan pribadi tetap ada, tetapi berulangkali ditekankan, bahwa pertama, harta tidak dibawa mati dan kedua, tidak ada harta yang murni milik pribadi, selalu ada hak orang lain di dalamnya.Jadi, Islam itu mungkin bukan liberal, bukan juga sosialis. Islam adalah bukan keduanya, tapi juga sekaligus keduanya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...