Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Uzlah

Belakangan saya baru dengar istilah "uzlah" yang kurang lebih diartikan sebagai "pengasingan diri" atau "pemisahan diri". Dalam analisis saya yang tak paham agama, uzlah berbeda dengan hijrah. Meski sama-sama "berpindah", hijrah tak mensyaratkan pengasingan dari orang-orang. Dalam hijrah fisik, misalnya, saya bisa saja berpindah dari kota A ke kota B, tetapi saya tak harus kehilangan pergaulan di kota B, meski bersama orang yang benar-benar baru. Begitupun dalam hijrah batin, saya bisa meninggalkan kebiasaan lama, beralih menuju kebiasaan baru, dengan sirkel baru, tetapi tetap saja tak harus menjauh dari manusia. 

Sementara dari ceramah-ceramah yang saya tonton, uzlah punya kecenderungan menjauh dari kehidupan sosial atau bisa juga: membatasi diri dari pergaulan. Kita tentu perlu manusia lain, tetapi dalam uzlah, semuanya sangat dibatasi. Tak usah bergaul kalau tidak perlu-perlu amat. Dalam sejumlah peristiwa, bahkan uzlah ini bisa dilakukan dalam bentuk menyepi ke suatu tempat, bisa itu hutan, gunung, dan tempat-tempat lainnya yang di dalamnya hanya ada sedikit manusia. 

Sewaktu awal-awal terjadinya masalah "ini", seorang kawan memberi saya kata-kata menyejukkan lewat Whatsapp, "Tenanglah, teman tidak hanya manusia. Ada kucing, ada tanaman, itu semua temanmu." Memang dalam beberapa tahun terakhir, hidup saya diisi oleh banyak manusia. Pergaulan saya nyaris tak terbatas, bisa menembus banyak kalangan. Saya begitu tergantung pada manusia, lebih tepatnya: tatapan manusia. Hidup saya begitu dikendalikan oleh bagaimana orang lain berpikir tentang saya. Sampai akhirnya cara saya "ingin terlihat" itu membunuh saya sendiri. Manusia-manusia menjadi neraka. 

"Ada kucing, ada tanaman, itu semua temanmu." Betul, tapi bukankah mereka seperti tidak merespons dan hanya menjadi objek tatapan saya saja? Si Niko saya kasih makan, saya marahi, saya suruh tangkap tikus, dia tidak akan merespons sedemikian rupa sehingga menimbulkan suatu diskusi yang panjang. Begitupun tanaman-tanaman di pekarangan, kalau mereka disirami, ya reaksinya begitu saja. Namun disitulah justru poinnya, saya tak mampu menangkap reaksi mereka, karena selama ini tak punya cukup kepekaan sampai sana. Padahal mereka merespons, padahal mereka mengerti

Sejak kondisi saya agak kacau dalam dua bulan terakhir ini, Niko lebih sering menemani tidur. Dia tak terlalu nakal dan seolah-olah berusaha lebih banyak maklum. Dalam banyak kesempatan, dia dengan bangga mempersembahkan tikus kecil dan kadal pada saya. Tadinya saya ketakutan, tetapi sekarang saya paham: itulah caranya merespons, berusaha menghibur. Tanaman-tanaman itu juga membuat suasana pagi lebih segar dari biasanya. Pagi-pagi saya langsung bersantai di teras, menyeduh kopi dan menikmati pagi sambil merokok. Tak ada manusia, hanya saya, Niko, dan tanaman. Masih ada orang-orang yang mengontak, tentu saja, tetapi seperlunya saja. Tak perlu banyak-banyak ngobrol seperti dulu, apalagi sampai berdiskusi. 

Kata seorang teman, saya sedang dalam fase ber-uzlah, sebuah periode dalam hidup kala kita perlu menjauh sejenak dari manusia lain. Bagi saya yang sempat gemar hidup dalam lampu sorot, tak pernah terbayangkan akan berada dalam situasi semacam diasingkan. Namun lama kelamaan saya paham mengapa perlu ada fase seperti ini dalam hidup. Bagi para sufi, mungkin uzlah adalah periode menjauhkan diri dari keriuhan supaya bisa lebih dekat dengan Tuhan. Bagi saya, uzlah adalah fase ketika saya mampu menyimak kucing dan tanaman.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...