Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Dosa Struktural dan Individual


Konsep dosa memang sekilas mudah sekali ditujukan bagi individu yang melakukan suatu tindakan langsung. Misalnya, lalai beribadah, mabuk, judi, zina, itu semua mudah dibebankan pada perorangan. Kalau saya berzina, misalnya, itu dosa saya pribadi, saya yang menanggungnya, atau, termasuk juga, orang yang saya ajak berzina dan ia setuju. Jika saya seorang tentara, saya memang melaksanakan perintah atasan untuk membunuh lawan. Mungkin atasan saya berdosa karena memerintahkan demikian, tapi peluru yang saya tembakkan, yang membunuh orang di hadapan secara langsung, itulah yang membuat saya menjadi merasa lebih berdosa, mungkin, ketimbang atasan saya.

Namun dalam suatu tindakan yang tidak langsung, atau bersembunyi di balik kerumitan yang bersifat struktural, yang membuat seseorang bisa "menghilang" di balik birokrasi, bagaimana dosa bisa tetap menyasar orang secara individual? Ini menjadi pertanyaan saya belakangan, saat melihat misalnya, presiden yang membuat keputusan perang dengan negara lain, yang membuat ratusan ribu tentaranya mesti membunuh, baik militer maupun sipil, sementara dia sendiri mungkin duduk di kursi nyamannya, sembari menonton televisi dan makan cemilan, dengan kiri kanannya duduk penasihat serta ajudan yang menyarankan mesti begini atau begitu. Siapakah yang merasa lebih berdosa, tentara atau presidennya? Jika menyasar pada konsep dosa sebagai tindakan individu yang langsung, mungkin tentara yang lebih merasakan, karena ia langsung bertatapan dengan korban dari senapannya sendiri: jeritannya, kematiannya.

Mungkin agak aneh juga kemudian menjadi membahas dosa, yang sangat bernuansa religius dan tidak bisa diverifikasi. Namun ini tetap penting, jika kaitannya dengan mengapa orang yang katakanlah pejabat, pengambil keputusan, bisa begitu saja memutuskan hal yang berkaitan dengan nasib khalayak atau hajat hidup orang banyak, tanpa merasa terikat dengan obligasi moral apapun, karena sederhana saja: ia tidak bersentuhan langsung dengan hasil dari putusannya. Seorang rektor bisa saja men-DO-kan mahasiswa atau mahasiswi dengan menandatangani surat, tapi dia tidak akan sedemikian merasa tidak enaknya, ketimbang bawahannya yang menelpon langsung atau menghadapi wajah si mahasiswa atau mahasiswi yang kecewa dan menangis. Seorang hakim bisa memutuskan hukuman mati, tapi algojo lah yang nantinya berhadapan langsung dengan si terdakwa.

Artinya, mengapa seseorang bisa melakukan zina, minum hingga mabuk-mabukan, tidak semata-mata bisa dituduhkan pada keputusannya secara individual, seolah-olah mutlak bahwa "hidup itu kan pilihan". Namun bisa jadi keputusan dari struktur lebih besar, kiranya membuat individu tersebut dihadapkan pada pilihan yang terbatas, yang membuat ia, mau tidak mau, memilih untuk "berdosa". Misalnya, pada kasus anak menggambar bagian tubuh perempuan (yang ramai di Twitter) di papan tulis kelas, rata-rata warganet menghujatnya sebagai tidak bermoral, bejad, perlu diberi "pelajaran", dan sebagainya. Namun komentar teman saya, Derry, tajam menyentuh persoalan yang bisa jadi lebih fundamental: "Bagaimana jika orangtua si anak itu terlalu sibuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bekerja banting tulang dari pagi hingga malam, hingga tidak punya waktu dan tenaga lagi untuk mengajarkan anaknya tentang moral?" Jika benar demikian, lalu salah siapa? Masih tepatkah mengatakan bahwa "hidup itu pilihan"?

Memang agama tertentu memberlakukan adanya dosa struktural atau mungkin dalam Islam disebut juga dengan "dosa jariyah". Misalnya, pejabat publik yang memutuskan sesuatu yang membuat banyak orang sengsara, ia juga menanggung dosanya. Namun permasalahan dosa struktural ini ada pada kenyataan bahwa dalam setiap putusan yang melibatkan hajat hidup orang banyak, tidak selalu semua dirugikan, tapi ada juga, meski segelintir, yang diuntungkan (sehingga tidak semuanya mewariskan dosa, melainkan bisa juga mewariskan "pahala"). Dalam sistem pemerintahan yang jatuh pada oligarki misalnya, rakyatnya bisa saja sengsara, tapi "rakyat elit" yang diuntungkan mungkin memanjatkan doa setinggi-tingginya bagi sang penguasa agar senantiasa sehat dan selamat. Maka pada titik tertentu, Islam punya tawaran etis yang menarik, untuk mengembalikan segala sesuatu "pada niatnya", karena ketidakmampuan kita semua untuk menembus kompleksitas struktur atau kolektivitas yang mengaburkan dosa individual. Sebuah tindakan bisa saja bersembunyi di balik jejaring yang rumit tapi niat, mungkin, adalah satu-satunya hal personal yang tersisa, yang Tuhan masih bisa dengan "mudah" memeriksanya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...