Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pejalan (1)

 

Suatu sore, seorang kawan menelpon, katanya datang saja ke kota P1. Saya tanya, apakah datang saja, atau menginap beberapa hari, atau bagaimana? Katanya, tinggal di sini saja, untuk waktu yang tidak ditentukan. Saya kaget mendengar tawaran tersebut, tapi juga sekaligus memikirkannya. Bagi saya yang seumur hidup tinggal di kota B1, pindah ke kota lain bukanlah sesuatu yang mudah. Meski demikian, saya lumayan mempertimbangkan, meski entah kapan akan berangkat dan tinggal di sana. 

Hampir di waktu bersamaan, saya mengirim pesan pada seseorang yang nomornya saya dapat di internet. Intinya, saya bertanya apakah ada pekerjaan untuk saya? Dia menjawab ada. "Tapi," katanya, "Sebelum membahas soal pekerjaan, ikut yuk ke kota B2." Oh, ada apa? Tanya saya. Halaqah dzikir, katanya, pengajian tasawuf. Saya terkaget lagi. Saya tidak kenal siapa orang yang saya kirimi pesan tersebut, tetapi kenapa dia tiba-tiba ajak saya ke kota B2 untuk ikut pengajian? Menariknya, saya tidak pikir panjang, bahkan tidak tanya-tanya lagi soal pekerjaan (sebagaimana niat awal). Saya langsung ikut berangkat, naik mobil dia, bersama tiga orang lainnya, dan kami tiba di kota B2 setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam. 

Selama ini saya tidak pernah ikut pengajian, bahkan tidak pernah terpikirkan untuk mengikutinya. Ibadah reguler yang wajib-wajib saja saya tak pernah. Lalu tiba-tiba ada di suatu tempat, berisi orang-orang dengan gamis putih dan sorban putih dengan kuncup hijau. Saya juga mendengarkan ceramah singkat dari seorang Syech yang begitu dimuliakan oleh para jemaahnya. Setelah tausiyah dari Syech, jemaah berzikir selama sekitar satu jam. Saya ikutan juga dan memperhatikan diam-diam bagaimana orang lain berzikir. Sungguh menarik, melihat mereka berzikir begitu nikmat, menggoyangkan kepalanya, bahkan sampai "tenggelam". Oh, inilah tasawuf, yang kerap saya bicarakan, tuliskan tipis-tipis, tapi baru sekarang ada di dalam praktiknya! 

Tengah malam, kami pulang. Semua orang yang berada dalam mobil itu, saya baru kenal pertama kali. Kami berbagi cerita dan pengalaman, termasuk pengalaman spiritual. Belakangan ini saya merasa dunia telah runtuh, tapi ternyata tidak juga. Ada beraneka macam dunia, dan dunia yang ini adalah dunia yang baru bagi saya. Singkat cerita, saya tiba lagi di kota B1 sekitar pukul empat subuh. Saya meneruskan naik gojek ke rumah sambil separuh tak percaya tentang apa yang baru saja dialami. Namun kejadian tersebut juga membuat saya memiliki keberanian untuk berangkat ke kota P1. Langsung di hari yang sama

Siang harinya, saya berangkat ke kota P1 yang waktu tempuhnya hanya sekitar satu jam. Kawan itu memiliki sekolah musik dan saya diminta untuk tidur di sana saja, bersama dua orang lainnya, satu adalah semacam penunggu, satu lagi adalah guru musik yang memang sedang menginap. Saya tidur di ruangan les musik, bersama drum dan keyboard. Meski "tak biasa", saya merasakan kekhusyuan yang aneh: mungkin saya bersama dua orang saja di tempat itu, tetapi dua orang itu lebih dari cukup. Saya merasa selama ini terjebak dalam ilusi kuantitas, tentang orang banyak, tentang pencapaian-pencapaian yang diukur secara hitung-hitungan angka (makin besar angkanya, makin hebat). Namun bersama dua orang di sekolah musik itu, saya bisa main PES sambil tertawa, memutar musik sesuka hati, dibikinkan indomie, dan disediakan selimut tebal supaya bisa tidur di ruang ber-AC. Maka nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan? 

Ternyata saya tak bisa berlama-lama di kota P1. Saya hanya tidur semalam, tetapi berjanji untuk kembali dan tinggal lebih lama. Alasannya, ada seseorang yang kirim pesan pada saya, untuk datang ke tempatnya, ke kabupaten P2. Ajakan ini bikin saya semakin kaget, karena orangnya begitu tak disangka-sangka, dan jarak P2 ini bukan main-main, yakni mesti ditempuh dalam durasi tiga belas jam. Saya lagi-lagi tak berpikir panjang untuk mengiyakan, meski kunjungan ini juga kemungkinan singkat saja. Saya pergi naik bus dari kota P1 ke kabupaten P2. Bus yang sangat nyaman, bisa tidur lelap sepanjang jalan. 

Di waktu subuh, saya terbangun. Cek google maps, ternyata tiga puluh menit lagi saya sampai ke kabupaten P2. Saya mulai merenungkan mengapa saya berada di tempat sejauh ini dan segalanya berlangsung cepat sekali. Mengapa saya langsung mengiyakan saja tanpa banyak memikirkan ini itu? Keadaan uang pun sangat terbatas dan bahkan bingung bagaimana bisa hidup di waktu-waktu ke depan. Bisa jadi justru itulah jawabannya: saya bingung bagaimana bisa hidup di waktu-waktu ke depan, maka saya mesti pergi. Menjalani suatu perjalanan yang tak cuma dijelajahi lewat pikiran, tapi dijalani sekalian oleh tubuh. 

Saya harus menjadi pejalan, berpindah tempat untuk singgah entah di mana, entah untuk apa, tapi saya membiarkan diri ini "tersesat", mungkin demi menemukan jawaban yang selama ini dicari-cari. Jawaban yang tak sanggup disediakan oleh filosofi.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...