Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pejalan (5)

 

Kemampuan berimajinasi membuat kita mampu membayangkan tempat manapun tanpa harus pernah benar-benar ke sana. Kita bisa membayangkan berada di puncak gunung, berpindah sejauh ribuan kilometer, hingga mengkonstruksi dalam pikiran: suatu tempat di masa lalu atau masa yang akan datang. Imajinasi membuat manusia bisa jauh mengembara melampaui dirinya. Meski usia seseorang katakanlah, hingga sampai tujuh puluhan tahun, imajinasi bisa membuat siapapun mampu merenungkan waktu-waktu yang lebih panjang dari masa hidupnya, bahkan bisa sampai jutaan kali lipat. Imajinasi bahkan bisa sampai pada merenungkan: keabadian. 

Pengetahuan adalah modal lain yang kita punya. Melalui pengetahuan, kita bisa menguasai suatu perkara dan mencari jalan keluar tentangnya. Mirip dengan imajinasi, pengetahuan juga bisa berupa sesuatu yang tak perlu kita alami langsung. Pengetahuan tentang hukum, misalnya, tidak mensyaratkan kita mesti menjalani proses hukum. Pengetahuan tentang suatu penyakit bukan artinya kita mesti menderita suatu penyakit juga. Pengetahuan berkenaan dengan geografi tidak mengharuskan kita untuk berkunjung ke banyak wilayah di muka bumi. Imajinasi dan pengetahuan keduanya membantu manusia melampaui dirinya, yang serba terbatas karena ketubuhannya. 

Saat menjadi pejalan, saya sadar imajinasi tak lagi seberapa penting. Saya tak mampu membayangkan apa yang bisa saya lakukan saat tiba di B2, P1, dan P2. Bahkan perjalanan ke sana pun tak sanggup saya pikirkan. Saya hanya menetapkan niat, mencoba bergerak dengan membayangkan tujuan secara samar-samar, lalu sisanya tiba-tiba saya sudah di titik ini, titik itu, dan titik-titik lain yang tak dipikirkan sama sekali sebelumnya. Tatkala tidur di ruangan musik saat di P1, saya tidak membayangkan sama sekali akan tidur di ruangan itu. Pun saat saya sedang tidur di ruangan itu, saya berusaha keras tidak melemparkan imajinasi saya ke tempat tidur lain. Semua itu tidak diperlukan. Sang pejalan tak perlu buru-buru melampaui apa yang sedang dialaminya. 

Saat berjumpa Guru di P2, saya ternyata juga tak memerlukan pengetahuan-pengetahuan yang telah saya pelajari. Kepasrahan dan ketaatan kadang tak mensyaratkan pengetahuan. Pengetahuan mungkin tetap dibawa-bawa, tapi disimpan saja di bagasi, tak perlu dikeluarkan, dipamerkan, apalagi digunakan. Pengetahuan bisa menjadi selubung yang menghalangi penghayatan si pejalan terhadap apa yang sedang dialaminya. Tidak segala sesuatu harus dipertanyakan, dibedah, atau dianalisis asal muasal, alasan-alasan, supaya dapat suatu justifikasi, pembenaran, sebelum diputuskan untuk dijalani. Begitulah lemahnya pengetahuan, seringkali kita punya kemampuan yang tampak jernih tentang suatu persoalan, baik dan buruknya, tetapi ujung-ujungnya tetap saja tidak diselami. Semua hanya berada dalam pikiran saja. 

Pengetahuan tentu penting, teori-teori itu bermanfaat juga, tetapi pijakan seorang pejalan mestinya lebih dari itu. Pejalan tunduk secara penuh pada apa yang sedang terjadi di hadapannya, dalam perjalanannya. Ia pasrah sepenuhnya karena pengetahuan tak lagi mampu dipercaya sebagai penerang paling utama. Mungkin saya punya segudang pengetahuan untuk menjelaskan mengapa saya bisa berada di kabupaten P2 meski saya hanya punya uang lima belas ribu pada mulanya. Namun penjelasan-penjelasan berbasis pengetahuan malah akan mengecilkan pengalaman itu sendiri. Pun tak ada pengetahuan yang memadai untuk menjelaskan mengapa saya tiba-tiba berada di kota B2 bersama orang-orang yang tak saya kenal. Saya tak perlu justifikasi pikiran, karena yang membuat saya pergi hanyalah karena saya tak tahu lagi harus berbuat apa, hidup tiba-tiba kehilangan segala rencana, dan yang saya niatkan hanyalah berjalan, tanpa menjejali kepala ini dengan segala bentuk prasangka. 

Pejalan kemudian memahami, bahwa yang dilakukan manusia seyogianya adalah terus berjalan. Boleh sesekali kita menoleh ke belakang, untuk mendapati bahwa satu per satu persoalan kita telah terlewati. Terlewati tanpa harus menggunakan perangkat bernama pengetahuan. Terlewati begitu saja, karena kita terus berjalan hingga melewatinya. Pejalan kemudian memahami, bahwa yang dilakukan manusia seyogianya adalah terus berjalan. Hingga sampai ke sebuah tempat yang bahkan sebelumnya tak sanggup kita bayangkan melalui imajinasi.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...