Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Pejalan (4)

 

Suatu waktu saya berjanji dalam hati, untuk tidak kembali ke dunia itu lagi. Namun setelah dipikir-pikir, kenapa saya harus menggunakan kata "kembali"? Selama ini saya berjalan terus, membawa dunia saya sendiri: untuk orang-orang mendekat, menjauh, tinggal, nongkrong, check in, check out, di dalam dunia yang saya bawa. Seorang pejalan semestinya tak pernah "stuck" dalam suatu perhentian dan bermukim untuk waktu yang terlalu lama. Pejalan selalu bergerak, menanggalkan perasaan nyamannya karena sekaligus tahu, kenyamanan dapat membunuh kepenasaranan, keinginan untuk terus mencari. 

Pertanyaannya, sampai kapan harus terus mencari? Sampai kapan muncul perasaan untuk tak harus bermukim di suatu tempat? Bukankah jiwa ini bisa kelelahan jika terus-terusan mencari? Sejujurnya, saya juga tak tahu hingga entah kapan. Hanya saja saya merasa tak sanggup lagi berpegang pada yang sudah-sudah. Hubungan dengan manusia begitu rapuh. Seseorang bisa jadi kawan dekat bertahun-tahun, tapi esoknya bisa meninggalkan, dan bahkan menjadi musuh terbesar. Pasanganmu bisa dipercaya, tetapi sebagaimana segala yang hidup, ia bisa sakit dan mati kapan saja. Uang kita bisa memberikan sukacita, tetapi bisa menguap tiba-tiba, oleh keperluan yang tak disangka-sangka. Kita merasa bisa mengontrol kebahagiaan kita, padahal tidak. Bahkan pikiran dan kecerdasan, yang saya merasa itu semua merupakan hasil kerja keras yang sah, pun bisa menjadi penyebab segala derita. 

Maka tak ada gunanya khawatir atas segala hal yang pernah ada lalu kemudian tiada. Saya datang bertamu, mendapat perlakuan yang menyenangkan dari tuan rumah, tapi saya tak boleh merasa keenakan lalu tinggal untuk waktu yang lama. Saya tahu bahwa saya di sana hanya untuk beristirahat sejenak, ngobrol-ngobrol santai, sebelum meneruskan perjalanan. Saya mesti sadar dari awal, bahwa saya tak pernah menjadikan bertamu sebagai tujuan, maka itu jangan terlalu berharap untuk kembali ke sana. Tuan rumah baik pada kita karena kita adalah tamunya. Jika kita tinggal terlalu lama, kita tak lagi dipandang sebagai tamu, melainkan bisa menjadi pengganggu. 

Pejalan yang baik tahu bahwa momennya bertamu hanyalah sekadar bertamu. Tidak ada keinginan untuk tinggal berlama-lama atau bahkan menguasai kediaman si tuan rumah. Pejalan yang baik tahu bahwa rumah itu adalah milik si tuan rumah dan perlakuan menyenangkan hanyalah sesuatu yang sementara. Pejalan yang baik memandang momen bertamu bukan semata-mata ia memasuki dunia si tuan rumah, melainkan juga sebaliknya, menjadikan tuan rumah berada dalam dunia si pejalan, sebagai bagian dari pengembaraannya. 

Sekarang ke manakah si pejalan mesti melanjutkan, setelah meninggalkan perjamuan dari si tuan rumah? Pejalan mesti mengembara hingga menemukan tuan rumah yang menjamunya tanpa rasa khawatir. Rasa khawatir bahwa kita kelak akan mengambil alih propertinya. Karena hanya tuan rumah yang maha kaya yang tak takut kehilangan harta. Tuan rumah yang sekaligus tak punya problem, kalaupun kita tinggal berlama-lama, karena dia begitu ramah, sampai-sampai kita dilarang untuk meneruskan perjalanan. Katanya, "Tak perlu berjalan lagi, sudah di sini saja. Disinilah teman, pasangan, harta, dan pikiranmu berasal. Tak perlu khawatir lagi mereka akan pergi, karena di sinilah mereka semua akan kembali."

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...