Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Setelah melihat lebih banyak jenis manusia dalam hidup ini, saya semakin yakin tentang satu kategori bernama manusia dengan "jiwa yang indah" (beautiful soul). Manusia dengan jiwa yang indah ini cenderung Kantian, dalam artian patuh mengikuti aturan atas kesadaran dan hati nuraninya sendiri, bukan atas desakan atau mempertimbangkan keuntungan tertentu. Seseorang dengan jiwa yang indah tidak akan mencari profit dengan cara yang problematik seperti korupsi, menerima suap, atau memakan riba. Orang dengan jiwa yang indah merasa tenang dengan berpegang pada prinsip yang diyakininya, meski prinsip tersebut membuatnya miskin dan sengsara.
Hal yang agak mencolok pada orang dengan jiwa yang indah ini - dan menjadi alasan mengapa ia dikatakan demikian - adalah keengganannya untuk bergulat dengan persoalan struktural yang kompleks karena yang menjadi pegangan utamanya adalah keluhuran moral. Terhadap nasib-nasib yang buruk, orang-orang dengan jiwa yang indah akan menilainya sebagai kesalahan orang yang bersangkutan. Nasib buruk, mudahnya, terjadi akibat moral yang buruk.
Seseorang dengan jiwa yang indah biasanya malas terlibat dengan politik praktis. Politik praktis dipandangnya terlalu berbelit-belit dan pada akhirnya mengorbankan hati nuraninya yang nyaman dengan keputusan-keputusan pribadi. Itu sebabnya terhadap kondisi politik yang buruk dan menjadi penyebab berbagai kebijakan publik yang buruk, orang dengan jiwa yang indah akan mengembalikannya pada urusan akhlak ketimbang melihatnya sebagai kerusakan sistemik. Pada titik tertentu, orang-orang semacam ini akan menjadi sangat eksklusif dan steril terhadap hal-hal di luar kepentingan privatnya. Tidak ada hal yang lebih penting daripada keluarga dan kelompok kecilnya, tempat mereka berlindung di zona nyaman tanpa dikotori hal-hal eksternal.
Religiusitas juga menjadi kata kunci dalam jiwa yang indah. Mereka memerlukan justifikasi bagi kebaikan moralnya maka itu menjadi lari pada agama. Agama di sini bukan dipakai untuk perjuangan sosial, melainkan pembenaran akan ketakpedulian. Mereka percaya sekali bahwa apa yang dicapainya adalah hasil usaha sendiri, berkah sendiri yang diturunkan Tuhan langsung kepadanya.
Orang dengan jiwa yang indah memilih untuk menjaga api kecil dalam dirinya ketimbang repot-repot mengurusi kegelapan yang lebih besar di luar sana. Mereka tidak jahat, tidak culas, tidak merugikan siapa pun secara langsung. Tapi ketakmauan mereka untuk bersinggungan dengan kompleksitas membuat mereka mudah merasa cukup dengan kebaikan-kebaikan sederhana, yang sayangnya, tak selalu mampu melawan problem struktural.
.png)
Comments
Post a Comment