Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Setelah melihat lebih banyak jenis manusia dalam hidup ini, saya semakin yakin tentang satu kategori bernama manusia dengan "jiwa yang indah" (beautiful soul). Manusia dengan jiwa yang indah ini cenderung Kantian, dalam artian patuh mengikuti aturan atas kesadaran dan hati nuraninya sendiri, bukan atas desakan atau mempertimbangkan keuntungan tertentu. Seseorang dengan jiwa yang indah tidak akan mencari profit dengan cara yang problematik seperti korupsi, menerima suap, atau memakan riba. Orang dengan jiwa yang indah merasa tenang dengan berpegang pada prinsip yang diyakininya, meski prinsip tersebut membuatnya miskin dan sengsara.
Hal yang agak mencolok pada orang dengan jiwa yang indah ini - dan menjadi alasan mengapa ia dikatakan demikian - adalah keengganannya untuk bergulat dengan persoalan struktural yang kompleks karena yang menjadi pegangan utamanya adalah keluhuran moral. Terhadap nasib-nasib yang buruk, orang-orang dengan jiwa yang indah akan menilainya sebagai kesalahan orang yang bersangkutan. Nasib buruk, mudahnya, terjadi akibat moral yang buruk.
Seseorang dengan jiwa yang indah biasanya malas terlibat dengan politik praktis. Politik praktis dipandangnya terlalu berbelit-belit dan pada akhirnya mengorbankan hati nuraninya yang nyaman dengan keputusan-keputusan pribadi. Itu sebabnya terhadap kondisi politik yang buruk dan menjadi penyebab berbagai kebijakan publik yang buruk, orang dengan jiwa yang indah akan mengembalikannya pada urusan akhlak ketimbang melihatnya sebagai kerusakan sistemik. Pada titik tertentu, orang-orang semacam ini akan menjadi sangat eksklusif dan steril terhadap hal-hal di luar kepentingan privatnya. Tidak ada hal yang lebih penting daripada keluarga dan kelompok kecilnya, tempat mereka berlindung di zona nyaman tanpa dikotori hal-hal eksternal.
Religiusitas juga menjadi kata kunci dalam jiwa yang indah. Mereka memerlukan justifikasi bagi kebaikan moralnya maka itu menjadi lari pada agama. Agama di sini bukan dipakai untuk perjuangan sosial, melainkan pembenaran akan ketakpedulian. Mereka percaya sekali bahwa apa yang dicapainya adalah hasil usaha sendiri, berkah sendiri yang diturunkan Tuhan langsung kepadanya.
Orang dengan jiwa yang indah memilih untuk menjaga api kecil dalam dirinya ketimbang repot-repot mengurusi kegelapan yang lebih besar di luar sana. Mereka tidak jahat, tidak culas, tidak merugikan siapa pun secara langsung. Tapi ketakmauan mereka untuk bersinggungan dengan kompleksitas membuat mereka mudah merasa cukup dengan kebaikan-kebaikan sederhana, yang sayangnya, tak selalu mampu melawan problem struktural.
.png)
Comments
Post a Comment