Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Saya bukan orang yang silau dengan buku-buku yang dipajang di bagian khusus di sebuah toko buku. Malah saya selalu berusaha mencari sudut-sudut gelap dengan harapan dapat menemukan buku yang aneh. Atas alasan itu pula -selain karena memang bukan penggemar tim sepakbola Manchester United- , saya tidak terlalu tertarik dengan buku Alex Ferguson - Biografi Saya yang kerap ditempatkan di bagian depan Gramedia. Ternyata tanpa harus membelinya, buku tersebut sampai ke tangan saya sebagai tanda kasih setelah menjadi narasumber di komunitas film Layarkita. Batin saya mengatakan begini ketika menerimanya, "Oh, ternyata saya tidak alergi buku best-seller, asal gratis."
Buku tersebut, tanpa diduga, ternyata menarik. Sering sekali saya berniat membaca satu paragraf, jadinya sebab; membaca sebab, jadinya tiga bab. Untuk buku setebal 397 halaman, saya termasuk cukup cepat menyelesaikannya -jika ditotal, mungkin perlu 24 jam saja-. Alasan buku tersebut menarik mungkin saja sangat subjektif:
- Buku ini menarik karena menyuguhkan pendapat-pendapat Sir Alex tentang berbagai hal mulai dari David Beckham, Cristiano Ronaldo, Ruud van Nistelrooij, Roy Keane, hingga rivalitasnya dengan Wenger, Mourinho, serta klub Liverpool. Cara penuturan Sir Alex sangat melompat-lompat dan tidak bisa fokus membahas satu hal saja. Misalnya, ketika dia sedang membahas suatu pertandingan, ia menyebut nama satu pemain bernama Denis Irwin. Kemudian pembahasan berlanjut menjadi tentang Denis Irwin dan cerita mengenai pertandingan tadi tidak dilanjutkannya. Artinya apa? Lompatan-lompatan kisah tersebut hanya menarik bagi penggila bola. Jika tidak, akan sangat kebingungan. Bagi saya, makin sering Sir Alex berpendapat, makin bagus -dan itu tidak masalah jika dia harus berlompatan-.
- Sebagai orang yang sedang menulis sebuah biografi seorang tua, saya sadar bahwa sudah banyak hal yang dialami oleh mereka. Wajar jika pikirannya tidak selalu sistematis dan memori demi memori muncul secara samar untuk kemudian ia berkata, "ah, sebentar, saya ingat bagian ini!" Atas dasar itu pula, menjadi mudah bagi saya untuk menikmati biografi sang manajer.
- Menurut saya alasan ini sangat berpengaruh: Saya pernah secara serius bermain game Championship Manager musim 96/97 dan itu sangat membantu dalam memahami perkataan-perkataan Sir Alex. Dia banyak bicara tentang Class of '92 yang berisi pemain-pemain binaan Manchester United seperti Nicky Butt, Paul Scholes, David Beckham, Ryan Giggs, dan lain lain, yang kemudian menjadi fondasi tim tersebut hingga beberapa tahun ke depan. Artinya, biografi ini menarik bagi mereka yang mengikuti liga Inggris dan perjalanan Manchester United dari rentang waktu yang cukup panjang. Mungkin akan membosankan bagi mereka pendukung bola yang baru saja bergabung sejak tahun 2008-an.
Selain alasan-alasan subjektif tersebut, tentu saja kenyataan bahwa buku ini diceritakan dalam bahasa yang enak, sama sekali tidak bisa diabaikan. Tidak lupa juga disisipkan sejumlah foto berwarna agar lebih terasa momentum demi momentum yang pernah dialami Sir Alex bersama Manchester United maupun klub sebelumnya, Aberdeen. Ada satu kalimat dalam buku tersebut, yang dikatakan oleh Sir Alex, yang berbunyi seperti ini, "Jangan pernah lupa, bahwa kehidupan itu sendiri lebih besar dari sepakbola." Kalimat tersebut menjadi kunci kebagusan buku ini secara (mendekati) objektif: Sebagaimanapun kita pendukung City, Liverpool, Arsenal, atau Spurs, seorang Sir Alex tetap merupakan manusia inspiratif. Ia adalah seorang loyalis dan pekerja keras yang selalu bergairah hingga usia senjanya. Ia bukan sekadar manajer sepakbola. Sir Alex adalah penikmat hidup sejati.

Comments
Post a Comment