Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Argentina


Piala Dunia Qatar 2022 berakhir. Argentina juara dengan cara yang sangat dramatis. Messi mendapatkan keadilannya sebagai pemain terbaik dengan gelar terbaik. Saya bukan pendukung Argentina, tetapi inilah tim terbaik yang bisa saya dukung ketika Italia tidak lolos Piala Dunia. Alasannya tentu Messi dan Barcelona. Hari-hari saya di masa tahun-tahun 2010-an banyak dihibur oleh Barcelona dengan tiki taka-nya sehingga saya berterima kasih pada mereka. Tentu saja yang paling besar pada Messi. Messi sudah tidak di Barcelona, tetapi ia, bagi saya, selalu identik dengan Barcelona. 

Piala Dunia (dan juga Piala Eropa) bagi saya adalah penanda. Penanda berapa lama saya telah hidup dan mengingat suatu momen besar di dunia. Piala Dunia pertama yang saya ingat adalah AS 1994, itupun hanya momen melambungnya tendangan penalti Roberto Baggio di final. Piala Dunia 1994 tidak membuat saya menyukai sepakbola. Barulah pada Piala Eropa 1996, saya mulai sedikit-sedikit memperhatikan sepakbola dan menjatuhkan pilihan pada Italia sebagai tim favorit. Tidak ada alasan yang benar-benar rasional terkait mengapa saya memilih Italia sebagai tim kesukaan. Padahal di perhelatan tersebut, Italia tersingkir akibat tidak mampu menundukkan Jerman di partai terakhir grup C. Sejak momen itu, saya selalu menantikan momen empat tahunan yakni Piala Eropa dan Piala Dunia, menjadikannya (harus) sebagai pengalaman yang berkesan. 

Argentina, sekali lagi, bukanlah tim kesayangan saya. Tapi saya mendadak teringat sesuatu: saya selalu punya keberpihakan pada tim Tango, terutama jika menghadapi Brasil yang menurut saya terlalu kuat, terlalu dominan. Argentina juga kuat, tetapi mereka tidak seberuntung Brasil dalam mengoleksi gelar juara dunia. Juga saya terbayang momen Piala Dunia 2002, saat mereka gagal lolos fase grup akibat seri dengan Swedia. Waktu itu saya berusia 17 tahun dan mengingat bagaimana televisi menayangkan suasana kesedihan yang melanda warga Argentina: mereka tampak menjadikan sepakbola sebagai harapan, sebagai pelipur lara bagi kehidupan sehari-harinya yang mungkin berat. Kehidupan di Brasil juga tentu berat, tetapi tim sepakbolanya selalu mampu menghibur warga. Terlebih lagi di tahun 2002 itu, mereka menjadi juara di Korea dan Jepang. 

Jauh sebelum Messi, ada Maradona. Ia tidak hanya diidolakan, tapi juga di-Tuhan-kan. Mudah untuk dimengerti mengapa ia di-Tuhan-kan bagi warga Argentina dan juga Napoli: karena ia memberi kegembiraan dan harapan. Namun belakangan saya ketahui bahwa bukan cuma itu. Maradona juga punya keberpihakan. Mengapa ia memilih pindah ke Napoli (tim yang waktu itu tidak terlalu dominan) ketimbang Milan, Juventus, atau Inter, adalah karena Napoli adalah klub kebanggaan kelas pekerja dan Maradona punya keberpihakan pada kelas pekerja. Iya, Maradona bukan sekadar pemain sepakbola. Ia juga punya sikap. Punya keberpihakan. Maradona juga dikenal punya kedekatan dengan tokoh-tokoh sosialis seperti Fidel Casro, Evo Morales, dan Hugo Chavez. Maradona sempat bersuara pada beberapa peristiwa politik seperti kecamannya terhadap serangan militer Israel terhadap warga Palestina di jalur Gaza tahun 2014 dan jauh sebelumnya, ia melancarkan protes terhadap invasi AS di Irak tahun 2004. 

Atas alasan itu, Argentina patut dicintai. Messi tidak terdengar kiri seperti halnya Diego, tetapi Messi berada di Barcelona, yang secara ideologis berseberangan dengan "pusat" yakni Real Madrid. Barcelona adalah representasi wilayah Catalunya, sebagai wilayah yang ingin memerdekakan diri sejak lama dari Spanyol. Meski belum tentu Messi punya keberpihakan terhadap separatisme, tetapi ia membela tim tersebut dan turut membesarkannya. Menjadi momok bagi Real Madrid yang dilindung sang raja. 

Mungkin inilah yang disebut sebagai rasionalisasi. Saya berusaha mencari pembenaran mengapa saya boleh ikut gembira bersama Argentina. Mengapa saya boleh jatuh cinta pada Messi dan Barcelona. Karena mereka ada unsur kekirian, meski mungkin saya juga mengeliminasi fakta lain yang sebenarnya menunjukkan bahwa mereka tidak kiri-kiri amat. Bahkan saya juga mengabaikan fakta bahwa sepakbola telah berkembang menjadi industri raksasa yang hanya menguntungkan segelintir klub kaya. Sepakbola, tidak dapat dipungkiri, adalah olahraga yang paling laku diperdagangkan. Membuat tontonannya dikomodifikasi, para pemainnya menjadi tidak lebih dari mesin penghasil uang yang bisa dibuang kapan saja saat semakin aus. Mungkin saya hanya suka tim-tim itu tanpa sebab, tetapi kemudian menambahkan ideologi di baliknya, supaya sahih, supaya bermartabat. Padahal saya cuma penggemar fanatik pada umumnya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...