Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Piala Dunia dan Piala Eropa: Masih Asyikkah untuk Ditonton?



Tahun ini adalah tahun genap. Artinya, pasti berlangsung gelaran akbar sepakbola entah itu Piala Dunia atau Piala Eropa. Kebetulan 2012 ini adalah tahunnya Piala Eropa yang akan digelar di Polandia dan Ukraina Juni nanti. Gelaran akbar yang menghadirkan pertandingan antar negara tersebut selalu saja dinanti sekaligus juga didramatisasi. Mari kita bandingkan dengan gelaran liga yang nyaris setiap minggunya kita konsumsi: Sebetulnya, mana yang lebih bergizi?

Katanya, menonton pertandingan tim nasional adalah lebih asyik, karena isinya adalah kombinasi bintang-bintang lokal yang tampil keren. Bayangkan posisi kiper Barcelona yang relatif lemah, kemudian bisa dikombinasikan dengan kiper Real Madrid, Casillas, sehingga saling menambal. Yang demikian hanya bisa terjadi di tim nasional, ketika Real Madrid dan Barcelona bisa dipersatukan oleh orang-orang dengan kewarganegaraan yang sama. Pun bayangkan ketika City, United, Arsenal, Chelsea, Tottenham, dan Liverpool dengan segala dinamika rivalitasnya di Premier League, tiba-tiba mereka bersatu di Piala Eropa membela panji Three Lions.

Namun coba nikmati secara objektif penampilan klub-klub di liga, bagaimana mereka berjibaku dengan program latihan, putar otak di bursa transfer, konsistensi mental dan fisik di pertandingan yang seringkali dua kali seminggu, mana sebetulnya yang bisa kita sebut sebagai kemenangan sejati di akhir cerita? Tim nasional biasanya cuma punya persiapan dua minggu sebelum even dimulai. Sang pelatih meramu taktik dengan adaptasi yang kelewat buru-buru. Bahkan pelatih Spanyol seperti Vicente del Bosque diuntungkan dengan sebagian besar pemainnya yang berasal dari Barcelona, sehingga tinggal meneruskan strategi tiki-taka saja. 

Artinya, penampilan timnas tidak sama dengan kombinasi bintang-bintang dan kemudian sama dengan keutuhan permainan. Justru tidak jarang di timnas kita saksikan banyak permainan yang menjadi kurang kompak dan turun nilai estetiknya. Perhatikan saja penampilan Lionel Messi di Argentina. Meskipun ia tampil dengan bintang-bintang seperti Aguero, Tevez, dan Higuain, ia seperti tersesat karena kehilangan teman main masa kecilnya yakni Iniesta, Xavi, ataupun Puyol. Banyak juga pemain-pemain yang di klub begitu gemilang namun menjadi kehilangan taji di tim nasional seperti Cristiano Ronaldo ataupun Wayne Rooney.

Saya menjadi agak curiga, bahwa kegemaran orang akan Piala Dunia dan Piala Eropa sebenarnya adalah soal patriotisme. Ada gengsi antar negara di sana. Namun kita juga sekaligus tahu, seiring dengan Era Romantik yang sudah semakin jauh menjadi sejarah di belakang, isu patriotisme menjadi dipertanyakan. Apa itu negara? Masih berhargakah negara untuk dibela? Tidakkah dunia hari ini justru memungkinkan orang untuk melampaui batas-batas negara? 

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru dengan sangat baik sudah dijawab oleh klub-klub dan liga tempat mereka bernaung. Isi pemainnya sudah melebur, tidak seketat dulu dalam mempertimbangkan paspor. Arsene Wenger adalah contoh betapa ia tidak peduli dengan warganegara selama pemain itu bagus mengapa tidak? Gaya Wenger tersebut sudah semakin jamak ditemukan dan barangkali hanya beberapa klub saja yang masih mempertahankan asal-usul misalnya Athletic Bilbao. Wenger bahkan orang yang termasuk berang jika pemainnya "dipinjam" timnas lalu pulang dalam kondisi cedera. Ia merasa tidak adil, karena timnas meminjam pemain yang sudah susah payah dibesarkannya.

Namun maksud saya menuliskan semua ini bukan dalam rangka mengajak pemirsa untuk tidak bergairah pada Piala Dunia dan Piala Eropa. Sepakbola rasa-rasanya tidak bisa dianalisa sesederhana itu karena saya percaya bahwa sepakbola mengandung magi, mengandung sihir yang sulit ditangkal! Saya cuma menyadarkan adanya zeitgeist (semangat jaman) yang justru semakin bersesuaian dengan gairah klub-klub di liga-liga. Dunia hari ini mengajarkan kita tentang semakin tidak pentingnya batas-batas teritori. Namun dengan demikian, justru yang dinilai adalah murni kemampuan objektif si pemain. Tidak penting dia pemain Afrika atau Asia, selama punya andil dalam memperkuat tim. Meskipun ekses negatifnya, yang menjadi kuasa berikutnya adalah uang. 

Selain itu, saya juga memberikan ucapan selamat agak sinis bagi tim nasional yang berlaga di Piala Dunia maupun Eropa. Tidakkah mereka berisikan pemain-pemain yang sudah kelelahan menjalani lebih dari empat puluh pertandingan di liga? Tidakkah mereka berisikan pemain-pemain yang mengabdi pada sesuatu yang riil semisal uang, ketimbang ideologi abstrak yang tidak laku lagi bernama negara? Sekali lagi, kesinisan tersebut tidak menghilangkan penilaian positif saya akan Piala Dunia dan Eropa. Konsep negara kadang perlu untuk mempersatukan, membuat kawanan manusia secara imajiner merasakan perasaan satu dengan yang lainnya.


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...