Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Drama dan Sepakbola


Saya lupa sejak Piala Dunia kapan, mungkin 2010, tayangan ulang bisa menjadi sangat lambat, sehingga kita benar-benar menikmati momen ketika bulir keringat dari si pemain terlihat jatuh atau muncrat secara perlahan. Efek ini tentu menarik, karena jika saya menonton sejumlah tayangan YouTube dari Piala Dunia yang lalu-lalu, terutama sebelum tahun 1998, penggunaan kamera ini tidak terlalu banyak yang dengan demikian berdampak juga pada minimnya efek pada tayangan ulang. Namun rasanya dimulai dari Piala Dunia 1998 dan sesudah-sesudahnya, kamera di lapangan mulai banyak dan efek tayangan ulangnya pun kian beragam. Kamera, dalam hal ini, telah bertransformasi dari yang tadinya sekadar "memperlihatkan", menjadi "menceritakan". Kamera tidak lagi hanya menayangkan sepakbola, melainkan punya peran menghadirkan "drama sepakbola". Drama ini tidak lagi sekadar "ditemukan" (di dalam pertandingan itu sendiri), tetapi "diciptakan" (oleh beraneka perangkat dan aktor di luar sepakbola). 

Kita tahu, bahwa dalam pengertian formal tentang olahraga sepakbola, drama pertandingan tidak termasuk ke dalamnya. Olahraga sepakbola adalah olahraga yang melibatkan dua kubu dengan masing-masing sebelas pemain dan satu bola, yang bertujuan mencetak gol lebih banyak ke gawang lawan dalam rangka meraih kemenangan. Hal-hal terkait drama dan ketegangan di dalamnya, bukanlah bagian dari pengertian formal olahraga sepakbola dan lebih tepat dikatakan sebagai "ekstra-sepakbola". Kekecewaan dan tangisan sebuah kesebelasan karena gawangnya dijebol di menit-menit akhir pertandingan sehingga mereka harus tersingkir dalam sebuah kompetisi tidak akan membuat wasit menjadi iba sehingga mengubah skor pertandingan. Artinya, jika kita katakan bahwa sepakbola seringkali mengandung drama, penting untuk dijernihkan dulu bahwa drama bukanlah bagian esensial dalam olahraga sepakbola secara formal. 

Namun siapa tidak suka drama? Kita semua suka drama, asalkan bukan yang terjadi pada diri kita. Kita suka menonton drama orang lain, mungkin karena bukan kita yang mengalaminya. Demikian halnya dalam sepakbola. Rasanya tidak menarik jika sepakbola hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah berdasarkan skornya. Kita memerlukan drama seperti kemarahan, kegembiraan, kekecewaan, dan hal-hal yang menunjukkan bahwa sepakbola bukan hanya dimainkan oleh pesepakbola, tetapi juga oleh manusia yang memiliki emosi. Drama itu tentu diperkuat oleh keberadaan penonton sepakbola yang kita tahu, paling ramai ketimbang olahraga lainnya. Tidak seperti tenis yang memerlukan keheningan, penonton sepakbola justru dibiarkan berisik dan bahkan intimidatif. Penonton membuat kalah menang menjadi tidak sekadar urusan skor, tapi berurusan dengan harapan banyak orang. Namun bagaimana dengan mereka yang menonton dari luar stadion atau melalui layar? 

Sebelum penggunaan kamera kian canggih, komentator adalah faktor penting yang membuat tayangan sepakbola dari layar menjadi "cerita". Ia memberikan narasi, ilustrasi, dan konteks tidak hanya tentang pertandingan, tapi juga tentang masing-masing pemain. Mungkin di antara kita ada yang ingat bagaimana komentator asal Islandia, Gudmundur Benediktsson, begitu histeris kala melihat negaranya mengalahkan Inggris di Piala Eropa 2016. Komentator mungkin semestinya "netral" dan hanya berbicara tentang jalannya pertandingan, tetapi ia begitu berpihak: "We are never going home! Never wake me from this amazing dream". Jauh sebelumnya, di Piala Dunia 1986, Victor Hugo Morales memberikan komentar epik atas gol solo run Maradona melawan Inggris, yang memberikan narasi bahwa itu bukan sekadar gol, tapi gol "dari Tuhan". 

Dalam pengertian sinematografi paling mendasar, ciri esensial dari film terletak pada dua hal yakni montage dan mise-en-scène. Montage diartikan sebagai penyuntingan, sementara mise-en-scène secara sederhana diartikan sebagai bagaimana atau dari sudut pandang mana suatu gambar diambil. Dalam tayangan sepakbola, biasanya kita akan diperlihatkan wajah pemain segera setelah peristiwa seperti terjadinya gol atau kegagalan memanfaatkan peluang. Tidak hanya wajah pemain, seringkali kita juga diperlihatkan wajah orang-orang di antara kerumunan penonton. Melalui montage tersebut, kita tidak hanya ingin diperlihatkan suatu fakta dalam sepakbola (gol, kegagalan peluang), tetapi reaksi pemain dan penonton terhadapnya dalam sebuah sekuens. Dengan demikian, terjadi sebuah cerita, sebuah narasi. 

Sementara dalam hal mise-en-scène, saya kerap memperhatikan dalam adu penalti (yang menariknya, kerap disebut dengan "drama adu penalti"). Adu penalti seringkali ditampilkan dari depan gawang atau dari punggung pemain, sehingga kita bisa melihat dengan jelas gestur pemain yang berhadap-hadapan. Bahkan sesaat setelah tendangan dilakukan, kita bisa melihat ekspresi dari kedua pemain sebagai reaksi atas hasil tendangan penaltinya. Setelah itu, kita tahu, kamera akan memperlihatkan wajah dari masing-masing pemain dan bahkan penonton untuk menciptakan "drama". 

Terlebih lagi, dengan olahraga sepakbola hari ini yang menggunakan teknologi VAR, keberadaan kamera yang banyak tidak hanya dalam rangka menghasilkan efek dramatis, tapi juga fakta tentang apa yang terjadi di lapangan. Namun meski banyaknya kamera ini juga bertujuan untuk menambah informasi, tetapi justru dampaknya adalah sekaligus membumbui dramanya: VAR dibuat supaya kita tahu "kejadian yang sebenarnya", dan "kejadian yang sebenarnya" adalah salah satu hal yang diselidiki dalam drama. Atas dasar itu, saat kita sama-sama sedang menyaksikan VAR, kita sedang berada dalam situasi dramatis kala berusaha mengetahui "kejadian yang sebenarnya", seperti kisah cinta dalam sinetron yang begitu menegangkan saat salah satu pasangan mengetahui identitas sebenarnya dari pasangan lainnya. 

Jadi, sepakbola memang sudah bukan sekadar tontonan olahraga. Kita ingin melihat keseluruhan ceritanya, tentang jatuh bangunnya seseorang di dalam satu pertandingan. Kamera membuatnya lebih berharga.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...