Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Menjadi Pendukung Italia adalah Pilihan Berani

Keputusan memilih Italia sebagai tim favorit sejak Euro 96 bukanlah keputusan menyenangkan. Italia adalah tim bertahan dan tidak menyukai penguasaan bola. Menonton mereka bermain berarti juga stres sepanjang pertandingan karena senantiasa dalam tekanan tim lawan. Bahkan sepakbola Italia pernah bangga dengan taktik catenaccio atau "pertahanan grendel". Mereka menumpuk lima bek dan satu di antaranya adalah libero yang bermain di belakang dua stopper agar pertahanannya berlapis. Saya kadang iri pada pendukung Jerman, Spanyol, Brasil atau Belanda. Meski tidak selalu menang, setidaknya mereka tampil menyerang dan itu jauh lebih menenangkan. 

Italia di Euro 2020 adalah Italia yang sudah beradaptasi dengan tren sepakbola menyerang. Meski tetap mampu bertahan dengan indah, mereka juga tidak alergi dengan penguasaan bola. Italia sekarang mau dengan sabar membangun serangan dari belakang ke depan, tanpa terburu-buru melambungkan bola seperti biasanya. Menonton Italia di era Roberto Mancini jauh lebih menenangkan daripada di masa Cesare Maldini atau Marcelo Lippi. 

Italia juara Euro 2020. Artinya, dua kali dalam hidup, saya menyaksikan Italia angkat trofi selain Piala Dunia 2006. Semuanya jadi kenangan yang indah. Termasuk bagaimana saya dulu sampai solat tahajud menjelang pertandingan Italia (solat wajibnya malah enggak), tentang bagaimana saya menangis tersedu-sedu saat gol Ahn Jung Hwan menyingkirkan Azzurri di Korsel, dan bagaimana hingga sekarang, saya masih menonton ulangan gol Fabio Grosso di perpanjangan waktu melawan Jerman di tahun 2006. Orang bisa pindah agama, tetapi tidak mungkin pindah tim sepakbola kesayangan. 

Orang bisa pindah dari Islam ke Kristen dan sebaliknya, tetapi mustahil orang pindah dari tadinya suka Persib menjadi Persija, atau Italia menjadi Inggris. Hidup Italia! Hidup Persib!


 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...