Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Prasasti FM 2011


Hari ini, 27 Februari 2012, adalah hari yang amat penting. Di sela-sela penampilan di acara seminar biomedik di ITB tadi, saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat lapak DVD games untuk komputer di trotoar Jalan Ganesha. Saya dengan sangat berhati-hati memutuskan untuk membeli permainan yang saya yakini lebih jahat dari narkoba: Football Manager. Saya membeli edisi terbaru yaitu Football Manager 2012 (FM 2012) yang sebetulnya sudah rilis dari November kemarin. Namun akibat saya tahu betapa bahayanya game tersebut, saya beberapa kali menunda pembelian hingga akhirnya tadi luluh juga karena jarak antara saya dan lapak sudah sedemikian dekat.

Sampai rumah, saya langsung install game tersebut dan tidak mendapat kesulitan apapun untuk langsung memulainya. Namun setelah beberapa saat, hati saya mendadak sedih. Saya ingat bahwa di edisi FM sebelumnya (FM 2011), saya masih berkiprah. Akhirnya saya kembali ke FM 2011 untuk sejenak menutup karir setelah sempat mengabadikan beberapa tampilan yang menunjukkan capaian demi capaian saya di game tersebut.

Entah kenapa, di profil tertulis saya kelahiran 1984 padahal saya yakin saya tidak pernah salah menulis tahun kelahiran yang harusnya 1985. Sehingga di tahun 2032, umur saya sudah 47 tahun! Saya memulai karir sebagai pelatih Udinese dan pernah memenangkan Serie A kalau tidak salah di musim kedua. Setelah Udinese, saya dilirik AC Milan dan sukses besar di sana. Kalau tidak salah saya menghabiskan sembilan musim dengan hanya kehilangan tahta Serie A dua kali. Di Milan juga saya berjumpa dengan pemain kesayangan yang saya sudah anggap seperti anak sendiri: Alexey Rudenok.

Saking sayangnya pada Rudenok, saya begitu ingin memboyong dia ketika saya direkrut Real Madrid. Sayang manajemen AC Milan mempertahankannya mati-matian. Tapi saya tidak menyerah, demi melihat Rudenok pensiun di klub yang saya bina, saya rela merekrutnya di usia cukup senja, 33 tahun. Rudenok pun menurut pengakuannya, jatuh cinta pada saya.

Saya pernah menangani timnas tiga kali, yaitu Italia, Argentina, dan kembali lagi ke Italia. Dua timnas pertama gagal total, tapi comeback ke Italia kedua kali saya berhasil mempersembahkan trofi Piala Eropa. Selepas melatih Real Madrid selama kurang lebih tiga tahun dan mempersembahkan dua gelar La Liga, saya mencoba tantangan baru dengan pindah ke klub rival, Atletico Madrid. Justru disitulah karir kepelatihan saya mulai turun. Meski mempunyai amunisi pemain cukup dahsyat, tapi ternyata Real Madrid -yang baru saja saya tinggal- masih lebih kuat.

Keterpurukan semakin menjadi setelah saya melabuhkan diri di klub favorit, Barcelona, yang waktu itu justru kerap berada di bawah El Real dan Atletico. Ternyata membangun El Barca sepeninggal generasi Messi dkk. adalah pekerjaan mahaberat. Akhirnya saya mengundurkan diri dari dunia sepakbola di musim ketiga menangani Barcelona tanpa sempat memberikan gelar.
 
Dalam postingan ini saya cuma ingin bercerita. Saya tidak mau memaknai yang terlalu jauh karena jika ditelusuri, saya sudah pernah membahas filosofi FM dua kali di blog. Saya cuma ingin bersentimentil ria, kadang-kadang membayangkan punya hidup sebagai orang lain itu ada indahnya.

Terima kasih Macheda, Isla, Inler, Rudenok, Neymar, Marcio, Angloma, Marciano, Cosentini, Leandro, Fabbri, Zunino, Ferreira, Giorgi, dan rekan-rekan semuanya!


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...