Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tentang Obrolan Para Legenda Sepakbola



Belakangan ini saya sering tenggelam dalam YouTube Shorts—bukan yang berisi prank receh atau motivasi instan, tapi potongan-potongan obrolan para legenda sepakbola seperti Jamie Carragher, Ian Wright, Gary Neville, Rio Ferdinand, sampai Roy Keane. Mereka duduk bersama, bercanda, kadang saling sindir, lalu menyusupkan kisah-kisah di balik pertandingan besar yang pernah mereka jalani. Dan entah mengapa, saya betah sekali menyimak mereka berbicara. Mungkin karena semua itu menyentuh satu masa ketika saya sendiri sangat memperhatikan sepakbola. Ketika saya tahu di mana posisi Beckham, bagaimana tendangan Henry, atau ekspresi kesal Roy Keane yang terkenal itu. 

Tapi yang membuat saya terhanyut bukan sekadar soal taktik, gol, atau drama lapangan. Yang menarik justru ketika mereka mulai membuka fragmen-fragmen kecil—tentang percakapan di ruang ganti, tentang tekanan batin saat menghadapi penalti, atau bahkan tentang ketakutan tersembunyi saat menghadapi sorak-sorai stadion yang penuh. Mereka membongkar sisi-sisi manusiawi dari permainan yang selama ini hanya kita lihat dari skor dan statistik. Sepakbola ternyata bukan cuma soal menang dan kalah. Ia juga tentang rasa hormat yang disembunyikan di balik tekel keras, tentang luka batin yang tidak ditunjukkan di hadapan kamera, dan tentang pertemanan yang baru tumbuh setelah rivalitas mereda. 

Yang lebih menyentuh lagi adalah bagaimana semua itu disampaikan sekarang—dari mulut mereka yang sudah pensiun. Tidak ada lagi nada kompetitif, tidak ada ambisi membuktikan siapa yang paling hebat. Hanya cerita-cerita yang dirangkai dari jarak waktu yang cukup untuk meredakan ego. Mereka yang dulu saling sikut di lapangan, kini duduk berdampingan sambil tertawa atas hal-hal yang dulu mereka anggap sangat serius. Persaingan yang dulu membakar, kini berubah jadi kenangan yang bisa dibagi. Dan saya jadi berpikir: betapa indahnya ketika kita bisa menoleh ke belakang bukan dengan dendam, tapi dengan senyum.

Mungkin begitu juga seharusnya hidup. Tak semuanya harus dinilai dari hasil akhir atau kemenangan. Kadang yang lebih penting adalah bagaimana kita mengingatnya nanti—apakah kita bisa tertawa atas kegagalan kita sendiri, bisa mengakui kehebatan orang yang dulu kita iri, dan bisa menyapa masa lalu tanpa beban ingin membalas. Karena pada akhirnya, seperti para legenda bola itu, kita semua akan pensiun juga dari banyak hal. Dari pekerjaan, dari ambisi, dari relasi-relasi yang pernah membuat kita tegang. Dan semoga, saat masa itu datang, kita punya cukup kelapangan untuk berkata: “Itu masa yang berat, tapi indah. Dan saya bersyukur pernah ada di dalamnya.”

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...