Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tentang Membaca Pemikiran Latour


Untuk kepentingan sebuah forum, saya diharuskan membahas pemikiran Bruno Latour yang sebelumnya hanya saya terima tipis-tipis dari diskusi antar teman dan kuliah Bu Karlina Supelli. Saya menerima tantangan tersebut dengan hanya mempunyai waktu dua minggu. Iya, dua minggu untuk mengkaji pemikiran dari seorang filsuf yang saya tidak pernah akrabi sebelumnya. Mengapa saya bersedia? Mungkin karena forumnya tidak filsafat-filsafat amat, dan juga Latour adalah pemikir kontemporer yang baru meninggal bulan lalu, sehingga tentu mudah untuk mengakses video-video kuliahnya. Memang tidak sukar menemukan videonya yang cukup banyak itu, baik saat ia memberikan ceramah maupun menjawab wawancara, tetapi ternyata gagasannya tidak mudah juga untuk dicerna. Bahkan dalam beberapa hari pertama saya mulai menggeluti pemikiran filsuf Prancis itu, saya nyaris putus asa. 

Setelah menyerah dengan buku primer, saya mengalihkan bacaan ke buku sekunder yang ditulis oleh Gerard de Vries. Pengantar yang diberikannya sangat membantu, terutama dari bagaimana ia menjelaskan cara kerja Latour yang antropologis. Apa yang dimaksud dengan cara kerja antropologis? Berdasarkan penjelasan de Vries, Latour bukanlah "filsuf di balik meja" yang merenungkan dunia dari tempat duduknya sambil bertopang dagu. Latour melakukan riset lapangan, melakukan observasi dan wawancara secara sungguh-sungguh, dan membangun argumen filosofis berdasarkan data. Setidaknya kita bisa melihat kecenderungan semacam itu dalam dua bukunya, Laboratory Life dan Paris Ville Invisible

Dalam Laboratory Life, Latour ingin memperlihatkan pada kita bahwa sains bukanlah suatu kerja murni yang bersentuhan dengan realitas, melainkan berakar pada jejaring yang justru tidak ada hubungannya dengan realitas. Latour bukan hendak mengatakan bahwa sains itu subjektif, tetapi objektivitasnya dikonstruksi sedemikian rupa "supaya tampak" dengan cara-cara yang bisa jadi "subjektif". 

Setelah memperoleh landasan cara kerja berfilsafat Latour, saya menjadi lebih paham saat kembali ke buku primer. Tulisan Latour tidak mudah dipahami dan seperti halnya filsuf panutannya, Gilles Deleuze, ia menggunakan cara-cara "rhizomatik" untuk memperlihatkan kerumitan jejaring. Atas dasar gaya yang "rhizomatik" itu juga, rasanya sukar untuk merumuskan gagasan paling pokok dalam filsafat Latour. Namun jika terpaksa mesti memampatkan pemikiran Latour, kuncinya ada pada pertama, pengamatan antropologis itu tadi, lalu kedua, perkara keterlibatan aktor non-manusia yang bersifat interrelasional satu sama lain sebagai actant, dan ketiga, argumennya soal pemisahan yang tidak pernah terjadi antara natur dan kultur sehingga dengan demikian, kita tidak pernah menjadi modern (yang mengklaim sukses melakukan dikotomi natur dan kultur). 

Namun rasanya memampatkan pemikiran Latour pada ketiga unsur tersebut malah terasa memiskinkan kompleksitas gagasannya. Latour dikenal sebagai pemikir yang menerabas sana-sini sehingga ia sendiri menyebut buku-bukunya seringkali ditempatkan di macam-macam rak di toko buku. Bahkan Paris Ville Invisible tetap cocok kalaupun dikategorikan sebagai buku pariwisata (akibat banyak foto di dalamnya)! Sekali lagi, seperti halnya Deleuze, Latour ingin agar usaha peleburan batas-batas antar wilayah seperti sains, filsafat, budaya, lingkungan, teknologi, politik, agama, tidak hanya dituliskan sebagai representasi, tetapi ditunjukkan dalam "gaya tulisan". Deleuze kerap memuja Nietzsche sebagai filsuf yang tidak hanya menuliskan tentang gerak, tetapi filsafatnya itu sendiri "bergerak". Tidak seperti Hegel yang membicarakan gerak dengan gaya-gaya representasional yang justru tidak mencerminkan gerak itu sendiri. 

Atas kepentingan forum yang lebih dekat pada pembahasan tentang persoalan iklim tersebut, maka saya merasa perlu untuk memfokuskan bacaan pada teks-teks Latour yang berkenaan dengan lingkungan yakni Politics of Nature dan Facing Gaia (meski sejatinya, buku-buku Latour manapun selalu ada persinggungannya dengan banyak topik termasuk lingkungan). Saran Latour selalu konsisten dari tulisan ke tulisan, tentang keharusan setiap wilayah untuk fokus pada dirinya sendiri (agama, sains, politik, lingkungan dan sebagainya), tetapi mesti sekaligus merentangkan dirinya ke wilayah lain (Latour mengistilahkan, filsafat mesti mampu berbicara "dari Plato hingga NATO"). 

Artinya, dalam konteks lingkungan, usaha penyelamatan lingkungan bukan hanya tugas saintis dan aktivis, tapi juga seluruh pihak dalam kapasitasnya masing-masing. Selain itu, konsistensi lain yang hendak ia tunjukkan, adalah pelibatan aktor non-manusia dalam politik berkenaan dengan lingkungan. Latour tidak hanya berbicara tentang makhluk hidup secara umum, tetapi seluruh yang bukan manusia, yang biasa kita sebut sebagai "benda mati". Hanya lewat keberadaan dari seluruh representasi itu, kita bisa duduk bersama membicarakan kelangsungan bumi bukan lagi sebagai sebuah universe, melainkan pluriverse.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...