Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Penuh Waktu di Kelas Isolasi


Mengelola Kelas Isolasi semestinya adalah semacam hobi, hal yang dikerjakan di waktu-waktu luang alias di luar jam kerja (meski saya tidak punya pemisahan yang tegas tentang mana jam kerja dan mana non jam kerja). Namun terutama sejak kehadiran para relawan mulai sebulan lalu, mengurusi Kelas Isolasi menjadi hal yang mesti dikerjakan penuh waktu. Mengapa demikian? Bukankah keberadaan 32 relawan yang membantu Kelas Isolasi membuat kami bisa lebih santai-santai? Ternyata sebaliknya, perhatian yang lebih besar justru dibutuhkan akibat lebih banyaknya konten yang diproduksi. 

Konten-konten yang diproduksi tersebut tidak semuanya bisa langsung diposting, melainkan mesti dibaca kembali, direvisi tipis-tipis, bahkan dalam beberapa kasus, harus dirombak habis-habisan. Konten yang melimpah juga membuat kami mesti mengatur jadwal supaya frekuensi kemunculannya menjadi rapi sekaligus estetik. Hal-hal demikian, mau tidak mau, memerlukan semacam sistem, supaya segalanya agak-agak otomatis dan tidak terganggu oleh kondisi-kondisi eksternal (maksudnya, meskipun kami sedang tidak mood, postingan tersebut akan terbit dengan sendirinya karena telah terjadwal). 

Memasuki tahun ketiga Kelas Isolasi, yang kami sendiri tidak mengira akan berkiprah sejauh ini, banyak hal yang mesti dibenahi, termasuk program dan konten yang lebih sering dan tentu saja, kian bermutu. Mengapa demikian? Bukankah lebih enak jika semuanya seperti awal pendiriannya: santai dan tanpa beban? Hal demikian pada dasarnya merupakan pilihan saja. Tentu saja kami bisa-bisa saja untuk mengerjakan semuanya "sesuai mood" atau tergantung "musim", tetapi di sisi lain, kami juga bisa membayangkan Kelas Isolasi yang lebih "melembaga", memiliki sistem, dan hal tersebut, secara tidak langsung, membantah stereotip terhadap orang-orang filsafat yang umumnya dianggap "semaunya", "cuma asyik sendiri", dan "cuma bisa berteori tapi buruk dalam implementasi". 

Memang jadinya memilih pilihan terakhir akan membuat Kelas Isolasi terkesan tak sejalan dengan prinsip yang saya seringkali kritik yakni motivasi. Kelas Isolasi menjadi terlampau bersemangat untuk mengejar sesuatu yang besar, yang ideal, dan berupaya mencapainya dengan ambisius. Ada benarnya, tetapi ada kelirunya: Kelas Isolasi dibangun oleh gairah kami sendiri, kecintaan kami terhadap filsafat, hal yang tumbuh dari keinginan pribadi, yang mudah-mudahan, bukan berlandaskan kesadaran palsu, bukan karena terpaksa karena tiada jalan lain. Kami semua kelihatannya selalu punya pilihan untuk lebih banyak mengerjakan hal lain, yang lebih berduit, yang lebih punya jalan menuju kesuksesan material, tetapi rasa-rasanya, hampir semua dari kami memilih untuk ikut merawat Kelas Isolasi, yang dananya belum jelas, yang segalanya serba swadaya, yang entah akan menjanjikan suatu kejayaan atau malah bubar di tengah jalan. 

Dengan demikian, apa yang dikerjakan di Kelas Isolasi masihlah memiliki unsur demotivasi, karena kami bersemangat, bergairah, untuk hal-hal yang bukan disuntikkan oleh aspek eksternal sebagai cita-cita palsu tentang kesuksesan. Dalam Kelas Isolasi, tidak ada hal-hal jauh yang disiapkan, karena memang kami tidak tahu apakah ada atau tidak hal-hal jauh (yang menggiurkan) itu. Hal yang lebih penting adalah kami mencintai apa yang disebut filsafat itu, dan kami mengerjakan sebisa-bisa untuk mewujudkan kecintaan tersebut. 

Memang terdengar romantis, tapi lama-lama apalah arti justifikasi semacam itu. Setidaknya sekarang ini kami punya sesuatu untuk dirawat dan ditumbuhkan, karena tidakkah hal demikian yang menjadi salah satu keindahan dari hidup di dunia? Di surga, konon segalanya bisa diperoleh tanpa berusaha, sehingga alih-alih menyenangkan, saya membayangkan surga sebagai proyek yang membosankan.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...