Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Philofest Luring Pertama


Philofest, festival filsafat yang edisi perdananya dimulai bulan Desember 2020, ternyata berlanjut hingga edisi ketiga. Edisi ketiga ini istimewa karena untuk pertama kalinya digelar secara hibrid atau gabungan antara luring dan daring. Luringnya berlokasi di Pontianak dan beberapa orang, termasuk saya, diterbangkan ke sana oleh panitia, diketuai oleh Trio Kurniawan, yang entah punya uang darimana. Namun kami tidak ambil pusing karena kami pun tidak bermewah-mewah dengan hotel dan maskapai, bahkan konsumsi pun banyaknya beli sendiri. Artinya, meski punya uang untuk membelikan kami tiket pesawat, hal tersebut tidak serta merta membuat Philofest dapat dilabeli festival yang banyak uang. Mungkin lebih tepatnya: semakin punya uang, meski belum masuk kategori kaya raya. Hal yang lebih penting adalah kami, para pegiat filsafat yang selama ini hanya bertemu secara daring, akhirnya berkesempatan untuk bertemu muka.

Sejak momen pertama kami saling jumpa, hal yang pertama dilakukan adalah berdiskusi. Berdiskusi soal apa saja. Namun banyaknya, tentu, soal filsafat. Oh ya, di Philofest 2022 ini, saya diplot untuk berdebat dengan kawan dari filsafat UGM, Taufiqurrahman, tentang perbedaan pendekatan dalam ilmu sosial. Bung Taufiq membela naturalisme, sementara saya membela interpretivisme. Harus diakui bahwa teman-teman dari UGM sangat mendominasi Philofest kali ini. Mungkin ada sekitar delapan hingga sembilan orang berasal dari kampus tersebut. Fenomena apakah ini? Entah, yang pasti kampus dengan tradisi filsafat yang tak kalah kental seperti UI dan STF Driyarkara hanya sedikit menyumbangkan perwakilannya. Bahkan STF Driyarkara, tempat saya studi doktoral, diwakili oleh paling sedikit orang ketimbang dua pagelaran Philofest sebelumnya. 

Iya, sepanjang dua malam saya berada di Pontianak, hal yang kami lakukan hanyalah berdiskusi dan berdiskusi. Di sana ada di antaranya: Sosiawan, Gema, Ainu, Rangga, Dimas, Derry, Amadea, dan orang-orang lainnya, yang selama ini cuma bisa berinteraksi via daring. Perjumpaan riil ini membuat suasana festival makin terasa, terlebih lagi Bung Trio selaku ketua panitia dapat dengan jeli menggabungkan debat-debat filsafat (yang menyeramkan itu) dengan bazaar dan kegiatan mahasiswa lainnya. Jadilah Philofest edisi ketiga menghadirkan suatu esensi dari festival, yakni "pesta" (yang tidak terlalu terasa di dua edisi sebelumnya akibat diselenggarakan secara daring). 

Meski mata acaranya seru seperti biasanya, saya tidak akan menceritakan hal tersebut karena semuanya dapat ditonton di YouTube Philofest. Hal yang lebih penting untuk ditulis, bagi saya, adalah kenyataan bahwa festival filsafat yang tadinya diselenggarakan begitu saja atas inisiasi kawan-kawan komunitas secara non-profit dan pada pertamanya cuma mengandalkan uang donasi gereja, ternyata bisa terselenggara sampai tiga tahun berturut-turut. Tetap terjadinya kegiatan ini secara berkala menunjukkan masih antusiasnya para pegiat dan pembelajar filsafat. Kita mesti berterima kasih pada pandemi yang membuat orang-orang filsafat yang tadinya tersembunyi di balik tembok kampus atau tembok kamar, menampakkan dirinya lewat saluran daring yang begitu mudah diakses tidak hanya oleh orang-orang di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. 

Philofest berikutnya rencananya akan digelar di Palembang. Jika benar-benar terjadi, tidakkah ini suatu kebanggaan tersendiri karena Philofest menjadi festival yang berhasil melewati "angka keramat" tiga kali penyelenggaraan? Terlebih lagi, acara ini tidak komersil dan tidak menarik minat sponsor-sponsor serius. Kalaupun kelak mulai dilirik sponsor-sponsor besar, kita berharap agar Philofest tidak kehilangan tajinya sebagai festival filsafat yang tidak kaleng-kaleng, melainkan tetap menampilkan tema-tema yang bikin berkerut-kerut dan sukar dimengerti. Bukan artinya Philofest adalah forum langitan dan menara gading, tetapi tidakkah kita perlu juga sesekali menantang kapasitas nalar untuk tidak sekadar berpikir hal-hal praktis? Setidaknya sekali dalam setahun, kita berpesta, merayakan metafisika.


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...