Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Sesuatu di Yogya



Pada tanggal 30 Mei lalu, saya berangkat ke Yogya untuk memenuhi ajakan penerbit Edisi Mori. Ajakan tersebut adalah berupa bedah buku karya Muhammad al-Fayyadl berjudul Derridean. Perjalanan ini begitu istimewa karena forum ini diisi oleh, selain Gus Fayyadl tentunya, Martin Suryajaya dan Hizkia Yosie Polimpung. Ketiga pembicara tersebut adalah pembicara top yang mungkin terbaik di generasinya. Saya senang bisa "nyempil" di tengah-tengah mereka, meski sadar bahwa saya tidak bisa dikatakan pantas karena baik Gus Fayyadl, Bung Martin, dan Bung Yosie, ketiganya sudah jauh lebih lama menekuni filsafat dan bergulat dalam perdebatan-perdebatannya. Mungkin di masa-masa saya masih menekuni musik dan sepakbola, mereka sudah duluan berkutat dengan teks-teks filsafat yang rumit-rumit. 

Acara yang diadakan di Langgeng Art Foundation tersebut berjalan lancar dengan jumlah peserta yang banyak, terutama jika dibandingkan dengan umumnya peserta diskusi di Bandung. Mungkin ada seratusan orang yang datang dan mereka rasa-rasanya menyimak dengan antusias. Saya tidak perlu menceritakan jalannya diskusi karena rekamannya bisa ditonton di Instagram @edisimori. Hal yang saya rasa perlu diceritakan di sini adalah kesan tentang suasana diskusi di Yogya yang entah kenapa, begitu hidup. Selain bedah buku Derridean tersebut, saya mengikuti beberapa diskusi lainnya yaitu bedah buku Penyair Sebagai Mesin-nya Bung Martin di Kedai JBS, launching buku Seni Berfilsafat Bersama Anak di Bawabuku dan diskusi tentang demotivasi di Theotrapi. Tidak ada diantara diskusi-diskusi tersebut yang bisa dikatakan sepi. Orang-orang berdatangan dan tidak hanya datang, mereka juga mengajukan pertanyaan yang sulit-sulit. 

Diantara rangkaian diskusi tersebut juga saya berkesempatan mengunjungi Buku Akik, toko buku paling hits di Yogya yang bisa dibilang sudah menjadi objek wisata. Kami datang bukan di jam-jam biasa, melainkan pukul 12 malam! Bung Martin dan saya kemudian melakukan book signing sekitar jam 2.30 pagi, yang menurut Mas Tomi, pemiliknya, adalah waktu paling larut dalam sejarah penandatangan buku di Buku Akik. Sebelumnya, kami juga mengunjungi Fakultas Filsafat UGM dan bertemu banyak orang di sana, baik mahasiswa maupun dosen. Intinya, kami selalu bertemu banyak orang dan jika tidak pintar-pintar mencari alasan, bisa jadi kami nongkrong selama hampir non-stop! 

Selama di sana, saya menginap di "Wisma Cantrik", sebutan bagi kantor Cantrik Pustaka, penerbit yang menerbitkan buku Seni Berfilsafat Bersama Anak. Tidak hanya saya diperbolehkan untuk menginap di kantor mereka, saya juga dijamu dan dikenalkan dengan sejumlah jaringan perbukuan di Yogya. Bahkan oleh Mas Farisi saya diperkenalkan dengan rokok Gajah Baru yang rasanya seperti garpit dengan harga lebih murah. Oh ya, Mas Farisi ini adalah salah satu punggawa Cantrik yang baik sekali. Ia menemani saya sepanjang di sana, mengantar sambil foto-foto, plus cerita tentang kehidupan pesantren. Selain Mas Farisi, ada juga Mas Mawai, Mas Naufil, dan Bung Taufiq, yang semuanya membuat saya punya kesan manis tentang Yogya. Memang begitulah adanya: kesan atas sebuah tempat tergantung pada dengan siapa kita bertemu di sana. 

Satu hal yang saya renungkan adalah perkara habitat. Entah bagaimana, saya merasa disambut lebih banyak orang saat di Yogya, bahkan ketimbang di Bandung sendiri, kota tempat saya lahir dan besar selama lebih dari tiga puluh tahun. Saya teringat bagaimana Sixto Rodriguez, seorang musisi yang pernah menelurkan album di tahun 70-an, tidak diterima sama sekali di negerinya sendiri dan salah satu albumnya bahkan cuma terjual empat keping! Namun berpuluh tahun kemudian ia baru tahu bahwa di Afrika Selatan, ternyata banyak orang menggemari karya-karyanya. Sebagaimana bibit tertentu yang bisa tumbuh dalam kondisi tanah tertentu, mungkin demikian juga hidup manusia dan habitatnya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...