Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Public Relation


Waktu saya dikontak Pak Bambang Sugiharto untuk mengajar di Fakultas Filsafat UNPAR empat tahun lalu, saya tidak diberi mata kuliah yang katakanlah, "khas filsafat". Saya diminta untuk mengajar mata kuliah Public Relation, yang mungkin lebih sesuai dengan gelar S2 saya di bidang ilmu komunikasi. Keberadaan mata kuliah tersebut di FF memang agak aneh. Namun saya tidak banyak bertanya-tanya karena kira-kira tahu maksudnya, yakni supaya anak-anak filsafat lebih gaul, bisa berkomunikasi lebih luas, dan tidak terjebak dalam menara gading. 

Kaprodi FF, Pak Djunatan, ternyata juga tidak banyak memberi rambu-rambu atau arahan bagi materi kelas ini. Sepertinya dibebaskan saja, yang penting luarannya "jelas". Waktu itu murid di kelas hanya ada empat, yang mana salah satunya adalah Nino, yang kelak menjadi mitra pendiri Kelas Isolasi. Saya juga sebenarnya bingung apa yang harus diajarkan. Terkadang saya mengacu pada public relation sebagai sebuah profesi, terkadang saya membicarakan tentang bagaimana menghubungkan filsafat dan orang-orang awam, tapi pada pokoknya, mereka semua, murid-murid, harus presentasi di depan publik sebagai tugas akhir. 

Untungnya, waktu tugas akhir angkatan pertama kelas Public Relation, pandemi sudah melanda sehingga mereka bisa melakukan presentasi secara daring (jadinya tidak seberapa menakutkan karena tidak perlu menghadapi publik secara tatap muka). Kegiatan presentasi daring tersebut juga berlangsung hingga dua angkatan setelahnya. Baru di angkatan ini, anak-anak Public Relation melakukan presentasi luring, tepatnya di Ruang Dini. Mereka membawakan tema "filsuf-filsuf kurang terkenal". 

Tidak keliru jika mata kuliah Public Relation ini berjasa melahirkan Kelas Isolasi. Di kelas itu, saya dipertemukan dengan Nino, dan juga karena memerlukan semacam luaran untuk terhubung dengan publik, kami kemudian "terpaksa" membuat platform Kelas Isolasi ini. Namun dalam perjalanannya, Kelas Isolasi tidak bisa dikatakan berafiliasi dengan FF UNPAR, karena kami banyak menjalani kegiatan-kegiatan secara mandiri dan berhubungan dengan lebih banyak orang-orang non FF UNPAR. 

Selesai tahun keempat, kelas Public Relation kelihatan sebagai kelas yang "tidak jelas prosesnya, tapi jelas hasilnya". Saya kerap memodifikasi materi ajar tiap tahunnya. Namun yang pasti ada adalah anak-anak harus menganalisis berbagai jenis penampilan public speaking, mencoba menuliskan gagasan filsuf dengan sesederhana mungkin, dan mendiskusikan bagaimana seharusnya seorang pengkaji filsafat mempresentasikan materi filsafat di hadapan publik.

Namun pada akhirnya, bukan menjadi hal penting apakah yang dibawakannya tersebut, kelak, adalah materi filsafat atau bukan. Hal yang lebih pokok adalah apa yang dipresentasikan depan orang-orang itu adalah sesuatu yang menarik atau dibuat menarik. Dari mana asalnya kemenarikan, orang-orang komunikasi biasa menitikberatkan perkara retorika (ini juga mereka pelajari melalui teks-teks Aristoteles dan Cicero). 

Namun kemenarikan bukan melulu soal "jago bacot", tapi juga koherensi berpikir. Nah, soal yang terakhir ini yang semestinya menjadi salah satu keunggulan anak-anak filsafat. Itulah sebabnya, saya paling tidak setuju jika lulusan filsafat susah cari kerja. Justru mereka itu bisa bekerja sebagai apapun. Literally sebagai apapun. Kemampuannya dalam koherensi berpikir sudah semestinya dibutuhkan di banyak lapangan pekerjaan. Poin pentingnya tinggal bagaimana siapapun itu, dengan kebijaksanaannya, bisa berjejaring dengan manusia lain supaya bisa bertahan dan menghasilkan. Mata kuliah Public Relation, pada dasarnya, mengajarkan itu.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...