Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pekalongan


Pada bulan September, saya mendapat undangan untuk mengisi forum di Kota Pekalongan, tepatnya dari kawan-kawan Lingkar Kajian Kota Pekalongan. Forum tersebut tadinya diselenggarakan bulan Januari 2023, tetapi tiba-tiba dimajukan ke tanggal 11 Desember 2022. Alasannya entah kenapa, mungkin supaya dipaskan dengan penutupan (baca: penghabisan) tahun anggaran (karena acara tersebut juga ternyata bekerjasama dengan DPRD Kota Pekalongan). Tidak masalah. Puspa (istri) dan saya memutuskan pergi bersama, hitung-hitung liburan. Judul forumnya adalah Anak Muda, Sains, dan Pembangunan Berkelanjutan. Saya menyiapkan materi tentang filsafat lingkungan serta memasukkan beberapa poin pemikiran Bruno Latour (kebetulan, karena saya baru saja membaca intens pemikiran Bruno Latour untuk forum lainnya). 

Menyesuaikan dengan jadwal klinik Puspa, kami berangkat Sabtu malam dengan kereta dari stasiun Bandung. Sampai Pekalongan sekitar pukul dua pagi, panitia sudah menanti di stasiun dan siap mengantarkan kami ke penginapan. Lucu sekali, tidak lama setelah kami masuk mobil dengan disuguhi lagu Tompi, satu menit kemudian kami sudah sampai! (Tompi baru sampai menyanyikan bagian verse). Rupanya memang hotel tempat kami menginap berada hampir di seberang stasiun. Mungkin panitia serba salah. Mau dibiarkan, takut nyasar. Mau disuruh nyebrang sendiri, tidak enak. Akhirnya mereka rela menjemput, meski saya yakin mereka juga malas mesti bangun tengah malam. Namun biarlah, mungkin mereka dibayar. 

Jam sembilan keesokan paginya, kami sarapan di hotel sebelum memberikan materi di ballroom yang juga berada di hotel yang sama. Siapa pesertanya? Ternyata ramai sekali. Mungkin ada dua ratusan anak-anak SMA dan kuliah tingkat awal. Mereka tampak antusias mengikuti acara, meskipun mungkin tidak paham-paham amat dengan apa yang saya paparkan (saya sudah biasa). Namun dugaan saya tidak sepenuhnya benar karena beberapa anak ternyata mengajukan pertanyaan yang lumayan menantang. Mereka tertarik dengan filsafat, dengan isu lingkungan dari sudut pandang filsafat, sehingga saya berpikir cukup keras untuk menjawabnya. Singkat cerita, forum terlewati dengan lancar, kami kembali ke kamar hotel untuk beristirahat sejenak, walau kemudian kebablasan hingga sore. Karena Puspa sudah harus masuk klinik keesokan harinya, malam itu juga kami menjadwalkan pulang naik kereta ke Bandung. 

Ada waktu sekitar empat jam, kami bingung hendak ke mana untuk dapat dikatakan "telah mengunjungi Kota Pekalongan". Bagi kami berdua, ini adalah kunjungan pertama kali dan kami tidak mempunyai ide harus kemana untuk membeli oleh-oleh atau berfoto. Hampir seluruh waktu kami di Pekalongan hanya dihabiskan di hotel dan hotel, meski berada di Pekalongan, jelas tidak bisa dikatakan Pekalongan. Mengapa? Karena hotel diasumsikan adalah tempat menginap dengan citarasa yang "universal". Kalaupun ada nuansa kedaerahan, tetap saja hal demikian hanyalah pemanis supaya tamu-tamu merasa tetap berada di Pekalongan. Namun selebihnya: interior, makanan, perabotan, kasur, gaya keramahan, adalah hal yang nyaris sama saja di manapun. 

Karena kami terlalu lelah, kami memutuskan untuk tidak ke mana-mana dan hanya makan di seberang hotel. Kebetulan di depan hotel ada makanan yang katanya khas Pekalongan, yakni nasi megono. Kami menyantapnya bersama mangut dan yah, karena itu satu-satunya "serpihan Pekalongan" yang bisa kami rasakan, kami harus bersikap kagum ("wah enak, beda banget"). Sampai pukul sembilan, tidak ada hal Pekalongan lain yang bisa kami cicipi dan akhirnya kami pulang naik kereta ke Bandung, menjalani suasana yang juga "universal", kereta yang tidak Pekalongan, tidak juga Bandung, tetapi kereta yang dibuat kurang lebih sama dengan kereta manapun di Indonesia (saya tidak berani menyebut dunia). 

Meski waktunya singkat, perjalanan ini cukup berkesan bagi saya karena akhirnya bisa mengisi forum luring di daerah cukup jauh pasca pandemi. Dalam forum yang punya kaitan dengan pemerintah itu juga, saya punya kesempatan untuk memaparkan materi filsafat yang nyaris tidak dibuat terlalu mudah. Ini juga suatu kemewahan, karena itu artinya panitia tidak keberatan jika saya menyampaikan hal yang mengawang-awang. Hal berkesan lainnya adalah karena hubungan kami sedang dalam cobaan. Kepergian ke Pekalongan ini berharga karena kami akhirnya punya waktu berkualitas untuk berbincang secara intens. Pada akhirnya ini semua bukan tentang Pekalongan, tetapi tentang tempat yang lebih berharga, di hati manusia.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...