Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Jaga Toko


Di jalan besar sebelah rumah saya ada toko kelontong milik Bu Yana dan Pak Yana. Toko itu sudah dijalankan sejak saya kecil dan masih eksis hingga sekarang usia saya hampir empat puluh. Hingga saat ini, Pak Yana dan Bu Yana masih di sana. Bahkan Pak Yana sendiri yang menunggui si toko. Suatu hari di masa lalu, entah ketika saya usia berapa, Papap pernah berkata, "Lihat itu anaknya Pak Yana dan Bu Yana, dia ikutan jagain toko meskipun masih kecil. Orang Tionghoa diajarkan demikian, tidak usah gengsian." Mungkin maksud Papap begini: jaga toko itu dianggap hal yang kurang keren bagi sebagian orang. Apalagi bagi anak-anak, mungkin jaga toko itu malah memalukan (seolah-olah dicitrakan bahwa "kecil-kecil sudah bekerja"). Mendingan belajar, les, atau bermain di luar. Tapi dalam worldview orang-orang Tionghoa, jaga toko itu, meski toko kelontong kecil, adalah hal yang justru keren. 

Sepanjang hidupnya, Papap sering memuji orang-orang Tionghoa. Bahkan ketika diminta berceramah tentang industri kreatif - topik yang mulai mencuat di tahun 2000-an -, Papap hampir selalu memulainya dengan kalimat: tirulah orang-orang Tionghoa. Ketika sebagian dari kita baru menyadari bahwa perkembangan dunia kreatif hanya dimungkinkan lewat sustainibilitas ekonomi (yang artinya meninggalkan paradigma kreativitas berbasis "idealisme berdarah-darah"), orang-orang Tionghoa rasanya sudah lebih dahulu melakukannya. Dalam diri mereka, kreativitas dan cuan adalah dua hal yang kait kelindan, tak bisa dipisahkan. Sementara bagi sebagian pelaku kreatif kita, cuan kadang menjadi hal yang "hina" untuk dibahas di depan. Cuan hanyalah semacam konsekuensi dari kejaran estetika. Sehari-hari hidup berdarah-darah tak apa, yang penting senantiasa berada dalam naungan dewi keindahan. 

Saya pernah belajar gitar selama sembilan tahunan pada Pak Ridwan, seorang Tionghoa. Memang mengesalkan, sambil ngajar gitar, ia selalu sambil jualan barang, mulai dari gitar harga belasan sampai puluhan juta, senar gitar, sampai cuka apel. Namun begitulah "industri kreatif", tak hanya keterampilan bergitar yang ia jual, tapi sekaligus sepaket dengan hal apapun yang bisa jadi cuan. Semuanya itu dilakukan terang-terangan, tak perlu dibalut kesucian ilmu gitar sebagai kemampuan-adiluhung-yang-(seolah)-tak-bisa-dinodai-pasar. Pak Ridwan berjualan begitu saja, seolah-olah tempat lesnya adalah toko serba ada dan dia menjadi si penjaga, seperti Pak Yana di toko kelontongnya. 

Saya lupa baca di mana karena sudah lama sekali, tetapi waktu mengerjakan skripsi tentang Konfusianisme, saya pernah melihat kalimat ini dalam salah satu referensi: "Bagi orang-orang Tionghoa, lebih baik punya toko kecil milik sendiri, ketimbang bekerja di tempat keren tapi milik orang lain." Dalam banyak hal, memang paradigma ekonominya sudah berbeda. Papap pernah menyoroti bagaimana seorang Tionghoa di BEC mengatakan begini saat ditanya soal pemasukannya, "Yah, cukup lah buat nabung aja mah." Bandingkan dengan orang yang menjawabnya dengan heroik, "Yah, cukup lah buat makan aja mah." 

Mengapa saya cerita ini semua? Kehidupan saya tengah berada dalam perubahan besar-besaran. Saya perlu melakukan langkah ekstrem supaya hidup ini tetap bisa berjalan sebisa-bisa. Kemarin-kemarin saya menjalankan hal seperti menulis, menjadi pembicara, atau mengajar, yang punya kesan "intelek". Namun setelah itu semua tak lagi bisa dilakukan, saya memikirkan kehidupan seorang Tionghoa, setidaknya seperti yang dilakukan oleh orang-orang Tionghoa yang saya kenal: jaga toko, menjadikan cuan dan kreativitas sebagai satu kesatuan, dan yang terpenting, menjalin relasi secukupnya selama punya kaitan dengan bisnis yang tengah dijalankan. Hal yang dimaksud idealisme bukannya hilang sama sekali, tetapi menjadi bagian tak terpisahkan dengan penghidupan: mencari surplus supaya bisa berbuat ini itu dengan leluasa. 

Saya menemukan kesenangan baru, tentang hidup yang tak lagi berada di angkasa: memikirkan hal-hal abstrak yang steril dan terpisah dari kehidupan sehari-hari. Dalam "jaga toko", saya mendapati semesta yang lain. Tak pernah terpikirkan bagi saya menjalani kehidupan bersama pembukuan, beli bahan-bahan, pasang-pasang spanduk, ikutan promo, hingga menginput menu. Baru saja saya mengalami betapa bahagianya mendapati: ada pembeli yang menghampiri lapak kita atau bunyi notifikasi merchant yang mengisyaratkan adanya pemesan. Saya belajar setiap hari pada tukang nasi goreng, tukang kupat tahu, tukang ubi cilembu, dan ramai pedagang lainnya tentang bagaimana tips menjajakan dagangan. Tempat jualan saya tak mewah sama sekali, semacam pujasera kecil yang sepi dan agak berantakan. Tapi sekali lagi, saya senang merawat, saya senang membesarkan. Saya mau duduk seharian di tempat ini, seperti Pak Yana di toko kelontongnya, dan Pak Ridwan di tempat les gitarnya. Cuan dulu, baru kapan-kapan berfilsafat (yang berdarah-darah) lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...