Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Menunggu

 

Jujur, berdagang itu berat sekali. Memang katanya begitu awal-awal. Ada memang dagang yang langsung laku, tapi kebanyakan dari cerita yang saya dengar, dagang itu pada mulanya adalah tentang menunggu. Menunggu, setidaknya bagi saya, bukanlah kegiatan yang mudah. Dalam menunggu, terdapat ketidakpastian. Dalam menunggu, terdapat juga keputusasaan. Karena menunggu dagangan dibeli bukanlah seperti menunggu mati yang pasti terjadi. Kemarin dagangan kita laku pada pukul lima sore, esok harinya belum tentu. Bisa jadi malah jam sepuluh pagi, atau tidak laku sama sekali. 

Apa yang bisa dilakukan sepanjang waktu-waktu menunggu itu sebenarnya bisa saja apapun. Saya bisa menulis atau membaca, sembari menanti pelanggan datang. Namun tidak bisa. Menunggui dagangan adalah sekaligus memanfaatkan waktu-waktu itu untuk berpikir: bagaimana caranya agar dagangan saya laku? Saya mencoba mengulik media sosial, promo-promo di merchant, memikirkan produk baru, sampai mencari target pasar potensial. Intinya, dalam menunggu, pikiran ini sibuk kemana-mana, berimprovisasi supaya barang yang dijajakan laku di pasaran. 

Namun lihat Bi Ida kala menunggu. Dia bisa diam saja begitu. Tidak banyak main hape, tidak banyak berusaha untuk melakukan apa-apa. Postur semacam itu bagi saya luar biasa. Dalam diamnya, justru tampak suatu kekuatan. Suatu doa. Menunggunya itu bukan sejam dua jam, tapi bisa delapan jam tanpa melayani pelanggan. Sekalinya melayani, dia langsung bangkit dari duduknya dan cekatan menyajikan hidangan. Saat ditanya apakah kesal duduk seharian seperti itu, dia menjawab tidak, sudah biasa. Katanya, dagang memang begini. 

Inilah hal yang baru saya pelajari belakangan. Kebijaksanaan hidup tentang menunggu. Rupanya dari hasil obrolan dengan tukang sate, tukang nasi goreng, dan tukang-tukang lainnya, menunggu adalah hal yang biasa dan mereka sudah sangat terlatih. Apalagi kata tukang nasi goreng, "Saya sudah biasa, awal-awal dagang tidak ada yang beli sama sekali." Belasan tahun berlalu, tukang nasi goreng masih berjualan. Dia masih terlatih untuk menunggu, tetapi tak selama dulu, dan ia sudah mulai mendapat kepastian mau seburuk apapun nasibnya hari itu, pelanggan pasti akan mampir. 

Sementara saya baru hari-hari belakangan belajar menunggu. Menunggu dengan kesabaran ekstra. Menunggu dengan menebal-nebalkan optimisme yang sering lesu. Menunggu dengan harap-harap cemas, bahwa kelak pasti akan ada yang membeli. Menunggu tanpa memikirkan apapun kecuali dagangan itu sendiri. Menunggu tanpa menyambinya dengan hal di luar bisnis yang sedang dijalankan. Menunggu semacam ini bahkan lebih seperti zikir dan meditasi: menunggu dengan tenang, dengan doa yang bermukim dalam diam, bahwa hidup tak akan pernah sekalipun meninggalkan kita.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...