Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

ASMR

 

Sudah lama saya selalu perlu musik atau suara-suara untuk tidur. Sumbernya bisa dari Youtube atau Spotify. Biasanya, saya baru akan mengantuk kalau diiringi musik jazz lembut atau lo-fi. Klasik tidak, karena klasik kadang bikin saya tertarik untuk menyimaknya dan malah terjaga. Lalu belakangan saya jadi tahu istilah ASMR atau singkatan dari autonomous sensory meridian response. Lihat-lihat di Wikipedia, ASMR diartikan sebagai "sensasi menggelitik" yang mengarah pada seputaran kepala, leher, dan tulang belakang bagian atas. ASMR dirangsang bisa melalui media audio visual dan kadang sensasinya mengarah pada wilayah sensual. 

ASMR juga ampuh untuk membuat kita mengantuk. ASMR mungkin mirip dengan pengalaman didongengi waktu kecil dengan suara ibu yang setengah berbisik atau dielus-elus sampai terlelap. Konten-konten ASMR biasanya terkait melihat (dan mendengar) sepatu disemir, jari yang diketukkan berulang-ulang, orang dipijat kepalanya, sampai suara orang berbicara apapun dengan tonasi sangat kalem dan bahkan diantaranya sambil berbisik. Saya juga menemukan nama John Butler, sekarang usianya 80-an tahun, sebagai orang yang dipandang mempunyai "suara paling ASMR". Mendengar Butler berbicara adalah seperti mendengar orang mendongengkan legenda atau cerita rakyat dari tanah Britania. 

Sejujurnya saya tak terlalu mengantuk menonton dan mendengarkan ASMR. Saya cuma kadang merasa geli saja menyimak orang dipijat kepala atau perempuan yang berbisik mesra sambil mengetuk-ngetukkan jarinya. Mungkin ada satu konten ASMR yang benar-benar bikin saya lumayan nyaris terlelap, yakni saat seorang pria memberikan sugesti dalam bentuk "cahaya emas" yang menjalar dari kepala hingga leher, dengan suara yang benar-benar menghipnotis. Suara John Butler lumayan bikin ngantuk, tetapi saya merasa dia terlalu panjang dalam berbicara sehingga malah merasa kasihan. 

Hal yang lebih mengganggu saya adalah konten-konten ASMR tampak seperti semacam kerinduan kita akan hal-hal yang diinderai secara langsung. Kerinduan akan elusan, belaian, bisikan, puk-pukan, yang mungkin kian berjarak akibat segalanya termediasi oleh layar. Jadilah layar-layar itu sekarang, melalui beraneka konten ASMR, berupaya mengembalikan sensasi sentuhan langsung yang meski artifisial, tapi mungkin terasa lumayan bagi sebagian orang. 

Mungkin bagi generasi baru yang terbiasa dengan layar sedari balita, konten ASMR tampak seperti hal yang asing sekaligus mengagumkan. Sementara bagi saya, ASMR membawa pada memori-memori, tentang Papap dengan mesin tiknya, dan Papap tatkala menceritakan dongeng sebelum tidur. Saya lupa nama tokoh dalam dongeng tersebut, tetapi dia adalah tokoh yang menjadikan batu akik sakti sebagai senjatanya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...