Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Apa Kabar?



Sudah tiga bulan berlalu dari masalah itu, bagaimana kabarmu? 

Baik, membaik, tentu saja perasaan kadang masih saja naik turun. Sesekali saya merasa terpuruk, tapi tak sesering dulu, pas awal-awal kejadian. 

Apa yang kamu lihat sekarang? 

Saya kehilangan banyak hal, tentu saja, tapi saya juga mendapatkan banyak hal sekaligus. 

Apa misalnya? 

Orang-orang. Saya kira kehidupan saya menjadi terbuka terhadap berbagai macam orang. Dulu saya punya pikiran begini: karena saya menganut ideologi A, maka saya tak bisa bergaul dengan orang-orang di luar ideologi A itu. Mungkin saya bisa saja ngobrol-ngobrol bersama mereka, tetapi tak bisa berlama-lama dan seringkali merasa terpaksa. Sekarang saya merasa senang bisa ngobrol dengan orang-orang yang dulu mungkin tak terpikirkan seperti kyai di pesantren, anggota ormas, tukang ubi, penjual nasi kuning dan lain-lain. Bukan artinya dulu saya tidak bisa ngobrol dengan mereka, tetapi sekarang saya ngobrol dengan rasa kagum dan keinginan belajar yang tinggi. Dari hati yang terdalam, saya benar-benar mengagumi mereka, karena saya tak bisa seperti mereka. 

Kalau dulu memang kamu seperti apa? 

Yah, mungkin saya ngobrol dengan anggota ormas, pernah, tetapi dengan mental nge-judge, meski dalam hati saja. Atau saya ngobrol dengan para pedagang tiap pagi, sambil sarapan, tapi obrolan-obrolan itu hanya basa basi saja, karena mungkin saya ingin terkesan hangat dan ramah, atau ingin menjadikan mereka sebagai bahan cerita di kelas atau tulisan, "Tadi saya bertemu tukang nasi goreng, lalu...". 

Jadi, bagaimana pertemananmu sekarang? 

Secara kuantitas tentu tidak sebanyak dulu, tetapi saya merasa bahwa sedikit teman tapi bermutu itu jauh lebih berharga. Saat saya memiliki reputasi baik, ternyata banyak orang merapat untuk menjadi teman. Namun saat saya terpuruk, baru terlihat mana teman sejati. Mereka kadang hadir dari latar belakang yang tak disangka-sangka. 

Bagaimana pandanganmu tentang filsafat sekarang? 

Jujur, ketertarikan saya terhadapnya menjadi jauh menurun, bahkan kadang malas sekali untuk mengingat-ngingatnya. Alasannya, saya sedang menjalani filsafat sekarang, meresapinya pada tubuh dan tindakan. Membicarakannya malah membuat filsafat menjadi terpisah. Dengan saya menghayatinya dalam tubuh dan tindakan, saya menjadi sadar bahwa setiap orang pada dasarnya berfilsafat. 

Bagaimana pandanganmu tentang dunia akademik sekarang? 

Sedari dulu saya tak punya kekaguman berlebihan terhadap dunia akademik. Itu hanya perhiasan saja supaya kita punya kedudukan yang lumayan di masyarakat. Padahal biasa-biasa saja. Mau dia itu doktor, profesor dalam bidang bisnis, belum tentu dia bisa berdagang sate di pinggir jalan. Kita bisa bilang, "Kan level doktor dan profesor itu sudah konseptual, bukan lagi berkutat di dunia materi dengan melayani pembeli." Saya pikir pandangan demikian keliru, karena tukang sate itu juga berpikir konseptual. Bedanya, dia memikirkannya sambil bertindak dan sepaket dengan tindakannya. 

Apa yang kamu rancang untuk hari-hari ke depan? 

Saya mulai menikmati hidup sebagai pebisnis. Hal yang sulit pada awalnya adalah memindahkan pikiran, tetapi yang jauh lebih rumit sekarang adalah mengubah kebiasaan tubuh. Tubuh pebisnis adalah tubuh yang selalu berada dalam risiko dan ketidakpastian. Hari ini bisa laku, besoknya bisa zonk sama sekali. Mungkin mirip seperti saya dulu yang juga bekerja sebagai freelancer. Tapi pebisnis sekaligus menanggung hal-hal seperti upah kerja, biaya sewa, dan lain-lain yang bikin saya harus berpikir lebih sering dari sebelumnya. Untuk saat ini, saya tak berpikir apapun tentang bagaimana hidup ke depan. Berjuang saja sebisa-bisa setiap harinya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...