Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pernah

Pada tanggal 12 Agustus 2018, terjadi peristiwa keren pada pertandingan Major League Soccer antara DC United melawan Orlando City. DC United sangat membutuhkan kemenangan pada laga ini. Dalam keadaan seri 2-2 di menit-menit akhir pertandingan, DC United mendapat tendangan penjuru. Peluang ini begitu krusial hingga kiper DC United ikut maju ke kotak penalti untuk mencoba peruntungan. Kiper Orlando City berhasil meninju bola ke tengah lapangan dan diterima oleh pemainnya. Dalam keadaan gawang DC United yang tidak dijaga, pemain yang memegang bola tersebut berada dalam posisi menguntungkan untuk berlari mendekati gawang dan menceploskannya dengan mudah. 

Namun apa yang terjadi? Eks pemain legendaris Manchester United, Wayne Rooney, yang bermain untuk DC United, berlari sekuat tenaga sebelum melakukan tekel gemilang dan berhasil merebut bola. Tidak berhenti sampai sana aksi Rooney, ia mengirim bola kembali ke kotak penalti dan berhasil disundul oleh Luciano Acosta. Gol! Hal yang lebih menarik, Acosta adalah pemain terpendek di tim, tetapi ternyata pemain bernomor punggung 10 itulah yang justru mampu memenangkan duel udara dan membuat timnya mencetak gol di menit terakhir sekali pertandingan. Drama belum berakhir. Wasit menunda pengesahan gol itu karena terindikasi offside. Wasit mengecek VAR sesaat sebelum akhirnya gol tetap diakui. DC United menang! 

Hal apa yang akan dibahas di sini? Dalam hidup, seringkali ada peristiwa-peristiwa semacam itu: hal-hal yang peluang terjadinya begitu kecil, ternyata pernah terwujud. Apa yang pernah terjadi itu, menumbuhkan harapan, membuat seseorang berpegang pada apa yang pernah, ketika dihadapkan pada hal-hal yang juga peluangnya teramat kecil. Hampir kalah tinggal beberapa detik, orang bisa mengingat: Rooney pernah berlari ke daerah pertahanan, melakukan tekel, dan mengirim bola jauh ke depan untuk menjadi gol. Hampir gagal dalam suatu pertarungan, orang bisa mengingat: Liverpool pernah tertinggal 0-3 di Istanbul tahun 2005 sebelum menyamakan kedudukan di babak kedua dan menjuarai Liga Champions via adu penalti. 

Memang, apa yang pernah terjadi, belum tentu dapat terulang. Kita kan bukan Rooney, kita kan bukan Liverpool. Ada benarnya, tetapi poin ceritanya itu yang lebih penting: bahwa sesuatu belum berakhir sampai benar-benar berakhir. Brasil pernah tertinggal 0-5 di babak pertama melawan Jerman pada Piala Dunia 2014. Mungkin mereka berpegang pada cerita Istanbul untuk membalikkan keadaan. Brasil gagal total, bahkan keadaan tetap buruk di babak kedua. Namun bisa jadi: mereka tetap bermain maksimal karena sebuah kisah tentang "hal yang pernah", bahwa kemenangan itu mungkin saja, meskipun peluangnya sangat sangat kecil. 

Jika kita ingin melihat dari kacamata yang lebih luas, sesuatu yang "pernah" mungkin memang sengaja dibuat sebagai bagian dari dialektika sejarah. Supaya manusia selalu menaruh harapan pada apa yang kelihatannya tak mungkin sekalipun. Dalam ketidakmungkinan, siapapun itu kemudian dapat menggali pada cerita-cerita ke belakang, bahwa pernah terjadi suatu pembalikkan keadaan, dalam situasi yang nyaris mustahil, seperti halnya dalam kisah abadi Daud versus Jalut.

Itu sebabnya, tak berlebihan jika kita mengatakan bahwa sejarah bukanlah perkara masa lalu, melainkan masa depan. Sejarah adalah tentang hal-hal yang "pernah", sebagai jalan bagi kita menyimpan harapan, atas apa-apa yang tak mungkin sekalipun. Maaf jika terdengar motivasional. 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...