Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Tentang Badminton

 

Badminton di mana mana
Di kampung jeung di kota
Badminton keur suka suka
Ngalipur manah sungkawa

Dilob, apung-apungan
Dicok, kana net nyangsang
Dismesh, ka beulah kenca
Backhand, tisoledat

Kok na, ku bulu entog
Net na, samping na butut
Raket na, panggebug kasur
Tempat na, tempat na di kebon awi

Tidak banyak cabang olahraga yang dibuat lagunya di Indonesia. Mungkin cuma badminton dan sepakbola. Sepakbola jelas, politis. Betapapun timnas kita tak pernah membanggakan, lagu tentang sepakbola harus dibuat karena jumlah penggemarnya yang ramai. Penggemar badminton di Indonesia juga ramai, tapi rasa-rasanya tak pernah sampai ditonton ratusan ribu orang di stadion dengan pendukung fanatik seperti halnya sepakbola (selain karena gelanggangnya juga tak cukup besar untuk menampung). 

Ingat dalam suatu masa, saat saya masih remaja, Papap bilang bahwa hampir semua orang Indonesia bisa main badminton (terlepas tingkat kemahirannya). Mungkin Papap sedang menyamakannya dengan orang Brasil yang seolah-olah semua orangnya bisa main sepakbola. Mungkin asumsi ini tidak salah-salah amat jika mencermati lagu Mang Koko di atas. Badminton dimainkan di mana-mana: di kampung jeung di kota. 

Namun dugaan tersebut barangkali ada benarnya jika merunut pada dua atau tiga dekade yang lalu, ketika Indonesia menjadi salah satu kekuatan dunia di cabor badminton. Sekarang ini badminton tampaknya sudah kian ramai dimainkan oleh banyak negara, terbukti dari berprestasinya sejumlah negara seperti Inggris, Spanyol, India, Thailand, Hong Kong, yang dulunya dipandang sebelah mata, di luar poros dominan seperti China, Indonesia, Malaysia, atau Denmark. 

Saya melihat bahwa meningkatnya popularitas badminton dimulai dari perubahan sistem poinnya. Sebelumnya, poin hanya akan bertambah dalam posisi pemain memegang servis. Itu sebabnya, pertandingan badminton tak terukur waktunya dan bahkan bisa berlangsung sangat lama jika perpindahan servis terjadi terus menerus tanpa tambahan angka. Sejak tahun 2006, sistem poin berubah menjadi poin reli tanpa harus menunggu pemain memegang servis. Kelihatannya gara-gara perubahan sistem ini, badminton menjadi populer terutama karena durasi permainan yang lebih bersahabat. Dengan sistem semacam itu, sudah jarang kita menyaksikan durasi satu permainan badminton mencapai dua jam. Permainan satu jam setengah, sekarang ini, sudah tergolong lama. 

Kita lihat bagaimana perubahan sistem yang bersahabat terutama bagi stamina penonton dan tayangan televisi ternyata mampu mendorong ramainya persaingan badminton. Hal ini memperlihatkan bahwa olahraga memiliki kaitan erat dengan ekonomi dan juga sosiologi: pertimbangan atas ketahanan audiens dan durasi televisi ternyata mengubah lanskap olahraga itu sendiri. Bayangkan sistem poin masih diberlakukan seperti dulu, mungkin tak banyak orang tertarik nonton badminton. Badminton pun tak laku ditayangkan di televisi.

Di Olimpiade Paris 2024, terlihat bagaimana penonton ramai memadati stadion badminton. Padahal ini di Eropa, tempat yang kurang memiliki tradisi melahirkan para pemain badminton hebat (kecuali Denmark). Selain badminton sebagai contoh bagaimana perubahan sistem dapat menaikkan persaingan, sudah sejak dulu saya mengamati NBA sebagai contoh kompetisi yang komplit secara kualitas pemain dan juga keberlangsungannya secara ekonomi. 

NBA adalah satu dari sedikit negara yang menerapkan dua belas menit per kuarter (selain China dan Filipina, setahu saya). Dengan durasi yang lebih lama dari menit umumnya yang hanya sepuluh, NBA punya waktu lebih lama memainkan time out. Time out ini menjadi jalan masuk bagi iklan-iklan yang membuat NBA menjadi salah satu kompetisi olahraga paling glamor di dunia.

Ada hal yang menjadi kesamaan antara NBA dan badminton dalam hal sistem yang membuatnya menjadi populer: poin yang banyak dan bergantian. Orang sepertinya senang dengan skor yang tinggi karena lebih menggocek emosi. Pertandingan sepakbola yang berujung 1-0 umumnya kalah seru ketimbang partai yang skornya 3-2, misalnya, meskipun selisihnya sama-sama satu angka. Begitupun badminton yang skornya 21-16 tampak lebih menarik ketimbang 15-10. NBA jangan ditanya, sudah lazim kita melihat setiap tim mencetak angka lebih dari 100. Semua perkara ini bukan sekadar bicara tentang kualitas pemain, tetapi juga sistem yang memungkinkannya lebih menarik di mata orang-orang yang menontonnya. 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...