Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Keceriaan

 

Harus diakui, keceriaan pada saya adalah sesuatu yang langka belakangan ini. Berbagai hantaman persoalan membuat saya lebih sering murung dan jarang sekali tertawa. Dulu saya mudah sekali ceria karena memandang segala hal sebagai sesuatu yang mengagumkan. Sejak kejadian "itu", saya kira saya tak lagi mudah kagum terhadap sesuatu. Hal yang semestinya keren, jadinya saya pandang sebagai sesuatu yang "ah cuma gitu doang, nanti juga menghilang, nanti juga tak penting lagi." 

Saya pernah berbincang banyak dengan Kang Kent Tattoo perkara rentetan kejadian yang saya alami. Dengan tenang, beliau menanggapi, "Tenang saja, akan ada masanya, melakukan apapun kita selalu salah." Dalam bahasa Mang Kent, istilah Sunda-nya adalah: kadieu salah, kaditu salah. Kita boleh punya peta biru tentang jalan hidup kita; kita boleh punya rencana tentang apa yang akan dilakukan hingga tahun-tahun mendatang; kita boleh mengkalkulasi segala konsekuensi atas segala tindakan kita secermat-cermatnya, tetapi bagaimanapun, hidup selalu punya jalan untuk menghancurkan segala hitungan-hitungan itu. Hidup punya cara untuk membuat segalanya menjadi salah

Namun dilihat dari keseluruhan, mungkin tak ada salah, tak ada benar. Kang Ammy, guru musik saya (yang kami sudah lama tak berkontak), menuliskan lirik yang penting sekali, "Hidup bukanlah sebuah rahasia.." Tak ada yang misterius dalam hidup. Hidup menjadi tampak misterius ketika kita tak mampu melihat keseluruhannya. Sedang asyik-asyiknya makan bersama keluarga, tiba-tiba keracunan; sedang indah-indahnya berpasangan, tiba-tiba bubar; sedang lucu-lucunya membangun karir, tiba-tiba runtuh tak bersisa. Hal demikian bukan suatu kesalahan dalam hidup, bukan juga suatu keanehan. Hidup memang demikian adanya: punya segala cara untuk menyelamatkan kita dari hal-hal yang terlalu meyakinkan tentang dunia. Saat mampu menerima bahwa banyak hal tentang kerja dunia tak bisa lagi dijadikan sandaran, di situlah saya merasa terbebaskan. 

Maka renungan-renungan semacam ini adalah pembebasan, dengan konsekuensi redupnya segala keceriaan. Keceriaan kadang semacam keterkungkungan. Kalau saya bisa ceria oleh perhatian dari pasangan, maka saya tergantung kepadanya. Kalau saya bisa ceria oleh pencapaian suatu target, maka saya berada dalam penjara bersamanya. Ketika saya lepas dari belenggu-belenggu tersebut, saya tak punya alasan memadai untuk ceria, karena: tak ada lagi satupun yang nyata. Bahkan keceriaan sendiri menjadi sesuatu yang fana. 

Mungkin tak ada yang dinamakan penderitaan. Yang ada hanya: perasaan keharusan kita untuk ceria.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...