Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
9 Ramadhan 1433
H
Meski tidak
sukses secara komersil, film The Boat
That Rocked punya penggemarnya sendiri terutama di kalangan penggemar musik
tahun 60-an –yang terkenal dengan generasi bunga-. Film yang disutradarai Richard
Curtis ini mendapat kritikan karena durasinya yang terlalu panjang (135 menit).
The Boat That Rocked diputar ulang di
Amerika Serikat dengan perubahan
judul menjadi Pirate Radio dan
pemotongan durasi menjadi 112 menit.
Film ini
berkisah tentang kehidupan penyiaran radio yang “ilegal”. Ilegal karena
frekuensi Radio Rock tidak terdaftar
dan diakui oleh pemerintahan Inggris. Meski demikian, radio yang disiarkan dari
kapal di tengah North Sea ini
digemari oleh mayoritas kaum muda di Inggris karena memutar lagu-lagu pop dan
rock yang tengah tren. Di pembukaan film sudah disajikan titik permasalahannya
mengapa Radio Rock mesti ada, karena:
Radio pemerintah hanya memutar musik pop 45 menit dalam sehari!
Film ini cukup
dominan dalam mengontraskan kehidupan awak Radio
Rock yang penuh kegembiraan di atas kapal dilatari musik-musik psikedelik,
dengan kehidupan jajaran pemerintah Inggris yang membosankan dan penuh
protokol. Konflik terjadi karena PM Inggris Sir Alistair Dormandy (Kenneth
Branagh) tidak suka dengan keberadaan mereka yang dicapnya sebagai, “Perusak
generasi muda.” Meski pada waktu itu tidak melanggar hukum, namun Sir Alistair
bersama dengan bawahannya, Twatt (Jack Davenport) tetap mengupayakan bagaimana
caranya agar hukum bisa disesuaikan sehingga Radio Rock masuk kategori pelanggaran.
Seisi awak Radio Rock sendiri tidak ambil pusing
dengan ketar ketir pemerintah. Mereka tetap bersiaran 24 jam dengan para DJ
yang begitu dicintai pendengarnya. Mereka adalah The Count (Philip Seymour
Hoffmann), Dave (Nick Frost), Mark (Tom Wisdom), Simon Swafford (Chris O’Dowd),
Angus “The Nut” Nutsford (Rhys Darby), John Mayford (Will Adamsdale), dan yang
paling legendaris, Gavin Kavanagh (Rhys Ifans). Kehidupan mereka begitu dinamis
dan kekeluargaan. Konflik-konflik kadang terjadi misalnya Gavin Kavanagh yang
terlalu karismatik sehingga bisa merebut istri dari Simon yang baru dinikahinya
tujuh belas jam. Namun apa yang dialami oleh para kru Radio Rock setidaknya mengartikulasikan semangat rock pada masa
itu: Asyik, santai, bergairah, cinta damai, dan penuh kebersamaan.
Film ini agaknya
bisa menjadi sangat menarik tapi juga bisa tidak. Menarik adalah bagi mereka
yang memahami sekaligus mencintai musik-musik psikedelik di era 60-an. Namun bagi yang
tidak, film ini rasanya tidak punya suatu muatan spesial di dalamnya. Meski
pesan terpentingnya bukanlah sebatas musik, melainkan suatu gerakan di luar sistem yang seringkali
diperlukan untuk membongkar kemapanan. Buktinya? Setelah Radio Rock bubar, dalam narasi
disebutkan: Pop dan rock diputar di radio
Inggris 24 jam per hari.
Rekomendasi : Bintang Tiga
Comments
Post a Comment