Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

30hari30film: Kite Runner (2007)


5 Ramadhan 1433 H




Kite Runner adalah film garapan Marc Forster yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Khaled Hosseini. Film berdurasi 128 menit ini berkisah tentang dua orang anak bernama Amir (Zekkeria Ebrahimi) dan Hassan (Ahmad Khan Mahmizada). Yang menarik tidak hanya mengenai persahabatan mereka yang sangat mengharukan, melainkan latar belakang kehidupan mereka yaitu perubahan politik di Afghanistan mulai dari moderat, lalu diinvasi oleh Uni Soviet, hingga berada di bawah konservatisme Taliban.

Amir dan Hassan secara latar belakang sosial tidaklah setara. Amir adalah anak majikan, sedang Hassan adalah anak dari pesuruh. Amir adalah seorang Pashtun, sedangkan Hassan beretnik Hazara. Seorang Pashtun, sering disebut-sebut sebagai “orang Afghanistan sejati”. Hal tersebut yang membuat persahabatan Amir dan Hassan seringkali diejek oleh Assef dan kawan-kawannya. Amir yang penakut, tidaklah sama dengan Hassan yang berani. Hassan tidak hanya sahabat baik bagi Amir, tapi pesuruh yang sedemikian taat pada sang majikan. Hassan pernah berani menodongkan katapel pada Assef yang terus menerus mengganggu mereka berdua.

Namun Amir dan Hassan menjadi partner yang setara ketika mereka bermain layangan. Amir pandai dalam beradu layangan, sedangkan Hassan selalu bisa menebak dimana layangan lawan jatuh untuk kemudian dipungut. Kelebihan Hassan ini tak pernah dilupakan oleh Amir bahkan hingga keduanya berpisah dan menjalani kehidupan dewasa. Singkat cerita, Hassan diketahui sudah meninggal dunia dieksekusi serdadu Taliban. Hassan meninggalkan seorang anak, yang amat ingin diadopsi oleh Amir. Amir (Yang sudah dewasa, diperankan oleh Khalid Abdalla) meninggalkan Amerika tempat tinggalnya, untuk kembali ke kampung halamannya, Afghanistan. Menembus barikade konservatisme Taliban, ia ingin menyelamatkan masa depan anak bernama Sohrab itu, sekaligus –lewat anak itu, Hassan ingin- mengabadikan masa kecilnya yang indah bersama Hassan.

Sebagaimana pada umumnya film-film yang diadaptasi dari novel, tentu saja banyak adegan yang dirasa sangat rancu dan terlihat dipadatkan. Misalnya, proses percintaan Amir dan Soraya (Atossa Leoni) yang begitu singkat. Namun hal ini bisa dipahami karena keterbatasan durasi film itu sendiri. Tentu saja, edisi film kerapkali mengecewakan bagi mereka yang pernah membaca novelnya. Namun bagi yang menonton Kite Runner tanpa pernah membaca novelnya, mungkin akan terpesona tidak hanya oleh jalan ceritanya yang brilian, tapi juga situasi Afghanistan yang akrab dengan dinamika politik yang amat kontras. Melihat politik dari sudut pandang anak kecil memang selalu menarik karena kita melihat dua wilayah yang sangat kontradiktif (seolah-olah kedua wilayah, baik dunia politik dan dunia anak-anak, tidak pernah sanggup memahami satu sama lain). Ini terlihat dari film-film serupa seperti Persepolis (latar belakang politik Iran) dan Blue Kite (latar belakang politik Cina).

Rekomendasi: Bintang Empat

Comments

  1. one of my favorite...watched this again and again...

    ReplyDelete
  2. makasih reviewnya Kang, jadi pengen namatin novelnya lagi nih :) salam.

    ReplyDelete
  3. terima kasih apresiasinya.. selamat menonton, membaca dan mengapresiasi :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...