Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

30hari30film: Kite Runner (2007)


5 Ramadhan 1433 H




Kite Runner adalah film garapan Marc Forster yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Khaled Hosseini. Film berdurasi 128 menit ini berkisah tentang dua orang anak bernama Amir (Zekkeria Ebrahimi) dan Hassan (Ahmad Khan Mahmizada). Yang menarik tidak hanya mengenai persahabatan mereka yang sangat mengharukan, melainkan latar belakang kehidupan mereka yaitu perubahan politik di Afghanistan mulai dari moderat, lalu diinvasi oleh Uni Soviet, hingga berada di bawah konservatisme Taliban.

Amir dan Hassan secara latar belakang sosial tidaklah setara. Amir adalah anak majikan, sedang Hassan adalah anak dari pesuruh. Amir adalah seorang Pashtun, sedangkan Hassan beretnik Hazara. Seorang Pashtun, sering disebut-sebut sebagai “orang Afghanistan sejati”. Hal tersebut yang membuat persahabatan Amir dan Hassan seringkali diejek oleh Assef dan kawan-kawannya. Amir yang penakut, tidaklah sama dengan Hassan yang berani. Hassan tidak hanya sahabat baik bagi Amir, tapi pesuruh yang sedemikian taat pada sang majikan. Hassan pernah berani menodongkan katapel pada Assef yang terus menerus mengganggu mereka berdua.

Namun Amir dan Hassan menjadi partner yang setara ketika mereka bermain layangan. Amir pandai dalam beradu layangan, sedangkan Hassan selalu bisa menebak dimana layangan lawan jatuh untuk kemudian dipungut. Kelebihan Hassan ini tak pernah dilupakan oleh Amir bahkan hingga keduanya berpisah dan menjalani kehidupan dewasa. Singkat cerita, Hassan diketahui sudah meninggal dunia dieksekusi serdadu Taliban. Hassan meninggalkan seorang anak, yang amat ingin diadopsi oleh Amir. Amir (Yang sudah dewasa, diperankan oleh Khalid Abdalla) meninggalkan Amerika tempat tinggalnya, untuk kembali ke kampung halamannya, Afghanistan. Menembus barikade konservatisme Taliban, ia ingin menyelamatkan masa depan anak bernama Sohrab itu, sekaligus –lewat anak itu, Hassan ingin- mengabadikan masa kecilnya yang indah bersama Hassan.

Sebagaimana pada umumnya film-film yang diadaptasi dari novel, tentu saja banyak adegan yang dirasa sangat rancu dan terlihat dipadatkan. Misalnya, proses percintaan Amir dan Soraya (Atossa Leoni) yang begitu singkat. Namun hal ini bisa dipahami karena keterbatasan durasi film itu sendiri. Tentu saja, edisi film kerapkali mengecewakan bagi mereka yang pernah membaca novelnya. Namun bagi yang menonton Kite Runner tanpa pernah membaca novelnya, mungkin akan terpesona tidak hanya oleh jalan ceritanya yang brilian, tapi juga situasi Afghanistan yang akrab dengan dinamika politik yang amat kontras. Melihat politik dari sudut pandang anak kecil memang selalu menarik karena kita melihat dua wilayah yang sangat kontradiktif (seolah-olah kedua wilayah, baik dunia politik dan dunia anak-anak, tidak pernah sanggup memahami satu sama lain). Ini terlihat dari film-film serupa seperti Persepolis (latar belakang politik Iran) dan Blue Kite (latar belakang politik Cina).

Rekomendasi: Bintang Empat

Comments

  1. one of my favorite...watched this again and again...

    ReplyDelete
  2. makasih reviewnya Kang, jadi pengen namatin novelnya lagi nih :) salam.

    ReplyDelete
  3. terima kasih apresiasinya.. selamat menonton, membaca dan mengapresiasi :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Honest Review

Istilah " honest review " atau "ulasan jujur/ apa adanya" adalah demikian adanya: ulasan dari seseorang (hampir pasti netizen dalam konteks ini) tentang suatu produk entah itu kuliner, buku/ tulisan, film, dan lain-lain, yang disampaikan secara "jujur". Hal yang umumnya terjadi, "jujur" ini lebih condong pada "kalau jelek bilang jelek" atau semacam "kenyataan pahit". Sebagai contoh, jika saya menganggap sebuah rasa sebuah makanan di restoran A itu buruk, saya akan mengklaim diri saya telah melakukan " honest review " jika kemudian dalam membuat ulasan, benar-benar mengatakan bahwa makanan tersebut rasanya buruk. Mengatakan bahwa sebuah makanan itu enak dan memang benar-benar enak, memang juga semacam " honest review ", tapi biasanya bisa dicurigai sebagai bentuk dukungan, promosi, atau endorsement . Jadi, saat seorang pengulas berani mengatakan bahwa makanan ini "tidak enak", fenomena semacam itu ...

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dal...