Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

30hari30film: The Bridge on The River Kwai (1957)


6 Ramadhan 1433 H

 


Tidak salah jika The Bridge on The River Kwai meraih tujuh Oscar. Film yang disutradarai oleh David Lean ini, meski berdurasi relatif panjang (161 menit), namun betah ditonton dari awal hingga akhir. Hal ini tidak lepas dari penampilan aktor-aktornya yang menawan, mulai dari Alec Guinness, William Holden, Jack Hawkins, hingga aktor Jepang, Sessue Hakayama.

The Bridge on The River Kwai berkisah tentang proyek pembangunan jembatan yang digagas oleh Jepang dibawah pimpinan Kolonel Saito (Sessue Hakayama). Meski demikian, pembangunan ini tidak dilaksanakan oleh pekerja-pekerja Jepang, melainkan tentara-tentara Inggris yang menjadi tawanan. Jembatan yang harus cukup kuat untuk dilampaui kereta api tersebut rencananya menjadi penghubung antara Thailand dan Burma. Cara memerintah Jepang yang keras dan otoriter tidak disukai oleh pimpinan dari tentara Inggris yaitu Letnan Kolonel Nicholson. Ia memilih untuk mogok dan dihukum, ketimbang ikut serta dalam aturan Saito: Semua tentara Inggris tanpa terkecuali bekerja membangun jembatan, termasuk para officers. Bagi Nicholson, atasan tentara semestinya bertugas mengomando dan menjaga moral anak buahnya, bukan ikut serta dalam pekerjaan kasar yang berarti juga dikomandoi oleh tentara Jepang.

Yang menarik adalah kenyataan bahwa Saito juga bekerja di bawah tekanan. Jembatan harus jadi tepat pada tanggal 12 Mei (berarti waktu pengerjaan adalah sekitar dua bulan), jika tidak maka ia harus menjalankan seppuku alias ritual bunuh diri. Ketertekanan Saito ini membuat ia mesti berdamai dengan Nicholson dan melunakkan caranya dalam memerintah. Walhasil, proyek jembatan pun menjadi lancar karena kedua pihak punya bargaining position yang setara. Namun di seberang sana, ada misi yang juga dilancarkan oleh tentara Inggris dengan Mayor Shears (William Holden) di dalamnya. Ada pihak yang ingin menghancurkan jembatan dengan bom. Disinilah dilema sesungguhnya terjadi.

Cerita dalam The Bridge on The River Kwai –yang fiktif ini- terbilang sederhana. Ditambah lagi dalam film ini tidak banyak aksi-aksi menawan ataupun adegan-adegan dramatis. Kekuatan film ini terletak pada bagaimana David Lean meramu alur cerita sehingga tidak terasa membosankan. Ditambah lagi, aktor-aktor yang terlibat di dalamnya sangat memberikan kekuatan dan menampilkan satu karakteristik yang khas. Misalnya Saito, bisa berubah dari yang awalnya penonton benci dibuatnya, menjadi simpatik di kala akhir.

Rekomendasi: Bintang Lima

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...