Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
6 Ramadhan 1433 H
Tidak salah jika The Bridge on The River Kwai meraih tujuh Oscar. Film yang disutradarai oleh David Lean ini, meski berdurasi relatif panjang (161 menit), namun betah ditonton dari awal hingga akhir. Hal ini tidak lepas dari penampilan aktor-aktornya yang menawan, mulai dari Alec Guinness, William Holden, Jack Hawkins, hingga aktor Jepang, Sessue Hakayama.
The Bridge on The River Kwai berkisah tentang proyek pembangunan
jembatan yang digagas oleh Jepang dibawah pimpinan Kolonel Saito (Sessue
Hakayama). Meski demikian, pembangunan ini tidak dilaksanakan oleh
pekerja-pekerja Jepang, melainkan tentara-tentara Inggris yang menjadi tawanan.
Jembatan yang harus cukup kuat untuk dilampaui kereta api tersebut rencananya
menjadi penghubung antara Thailand
dan Burma.
Cara memerintah Jepang yang keras dan otoriter tidak disukai oleh pimpinan dari
tentara Inggris yaitu Letnan Kolonel Nicholson. Ia memilih untuk mogok dan
dihukum, ketimbang ikut serta dalam aturan Saito: Semua tentara Inggris tanpa
terkecuali bekerja membangun jembatan, termasuk para officers. Bagi Nicholson, atasan tentara semestinya bertugas
mengomando dan menjaga moral anak buahnya, bukan ikut serta dalam pekerjaan
kasar yang berarti juga dikomandoi oleh tentara Jepang.
Yang menarik adalah kenyataan
bahwa Saito juga bekerja di bawah tekanan. Jembatan harus jadi tepat pada
tanggal 12 Mei (berarti waktu pengerjaan adalah sekitar dua bulan), jika tidak
maka ia harus menjalankan seppuku
alias ritual bunuh diri. Ketertekanan Saito ini membuat ia mesti berdamai dengan
Nicholson dan melunakkan caranya dalam memerintah. Walhasil, proyek jembatan
pun menjadi lancar karena kedua pihak punya bargaining
position yang setara. Namun di seberang sana, ada misi yang juga dilancarkan oleh
tentara Inggris dengan Mayor Shears (William Holden) di dalamnya. Ada pihak yang ingin
menghancurkan jembatan dengan bom. Disinilah dilema sesungguhnya terjadi.
Cerita dalam The Bridge on The River Kwai –yang fiktif ini- terbilang
sederhana. Ditambah lagi dalam film ini tidak banyak aksi-aksi menawan ataupun
adegan-adegan dramatis. Kekuatan film ini terletak pada bagaimana David Lean
meramu alur cerita sehingga tidak terasa membosankan. Ditambah lagi,
aktor-aktor yang terlibat di dalamnya sangat memberikan kekuatan dan
menampilkan satu karakteristik yang khas. Misalnya Saito, bisa berubah dari
yang awalnya penonton benci dibuatnya, menjadi simpatik di kala akhir.
Rekomendasi: Bintang Lima

Comments
Post a Comment