Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

30hari30film: Curse of The Golden Flower (2006)


7 Ramadhan 1433 H
 
 

 
Film ini punya hampir semua syarat untuk menjadi film papan atas: Penampilan para aktor yang prima, jalan cerita yang sukar ditebak hingga akhir, efek pertempuran yang canggih, kostum istimewa, hingga latar istana dan pegunungan yang menawan. Meski demikian, Curse of The Golden Flower yang digarap oleh Zhang Yimou ini punya sedikit kelemahan yang bisa jadi krusial: Penggarapan musik. Musik yang ditata oleh Shigeru Umebayashi kurang bisa menopang pelbagai adegan yang dramatik dan mempesona.

Film ini berkisah tentang intrik di keluarga kerajaan antara kaisar (Chow Yun Fat), permaisuri (Gong Li), dan ketiga anaknya yaitu pangeran Wan (Liu Ye), pangeran Jai (Jay Chou) dan pangeran Yu (Qin Junjie). Kaisar dan permaisuri tidaklah akur. Di satu sisi, kaisar berusaha meracuni permaisuri lewat racun yang disusupkan pada obat yang rutin diminum permaisuri. Di sisi lain, permaisuri pun berupaya untuk mengudeta kaisar lewat sang anak kedua, pangeran Jai. Intrik ini meluas keluar wilayah keluarga ini setelah mengetahui bahwa ada affair antara pangeran Wan dengan anak dari dokter kerajaan yakni Jiang Chan (Li Man). Problem ini semakin kompleks setelah diketahui ada pertautan romantika antara ibu dari Jiang Chan, dengan sang kaisar di masa lalunya.

Film ini meski didominasi oleh dialog dan tidak banyak adegan kungfu yang khas muncul di film-film Cina, namun kita bisa dibuat duduk bertahan dari awal hingga akhir. Hal tersebut tidak lepas dari kekuatan akting Chow Yun Fat dan Gong Li. Disamping itu, warna-warni yang dibentangkan oleh film juga membuat mata dimanjakan (ini terjadi sedari pembuka film ketika ratusan dayang kerajaan bersalin pakaian). Adegan kolosal berupa perang besar antara tentara kaisar versus tentara permaisuri di menjelang akhir film juga –meski tidak seberapa dramatis tapi tetap- memberikan kesan tersendiri. Jangan lupa, yang menjadi kekuatan Curse of The Golden Flower tentu saja kenyataan bahwa di balik citra kerajaan yang tenang dan tanpa konflik, terdapat intrik yang begitu mendidih dan siap meletus di waktu yang tepat. Jika bicara jalan cerita, film berdurasi 114 menit ini memang jempolan. Tapi jika yang diniatkan sutradara adalah ke-kolosal-an, maka Curse of The Golden Flower ini menyajikannya terlalu banyak. Ibarat martabak manis yang terlalu melimpah susu dan kejunya.

Rekomendasi : Bintang Tiga Setengah

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...