Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

30Hari30Film: Indiana Jones and The Raiders of The Lost Ark (1981)


10 Ramadhan 1433 H


Indiana Jones and The Raiders of The Lost Ark adalah judul baru bagi film Steven Spielberg yang sebelumnya berjudul Raiders of The Lost Ark ini. Film yang diproduseri George Lucas tersebut, pada masanya meraup keuntungan yang luar biasa dan menjadi film yang legendaris bahkan hingga hari ini. Atas dasar itu, Spielberg membuat beberapa edisi film lagi tentang Indiana Jones mulai dari Indiana Jones and The Temple of Doom (1984), Indiana Jones and The Last Crusade (1989), Indiana Jones and The Kingdom of Crystal Skull (2008) hingga serialnya yang berjudul The Young Indiana Jones Chronicle (1992-1996).

Film tentang Indiana Jones selalu disajikan dengan penuh aksi dan petualangan yang menegangkan nyaris dari menit awal film hingga akhir. Indiana Jones and The Raiders of The Lost Ark berkisah tentang petualangan Indiana Jones (Harrison Ford) yang berupaya menyelamatkan ark (tabut?) agar tidak jatuh ke tangan pihak Nazi. Apa yang istimewa dari tabut? Tabut bernama Ark of The Covenant ini, jika didapatkan, maka tentara Nazi bisa menjadi terkamuflase dan tak terlihat. Film menjadi menarik karena keberadaan Rene Belloq (Paul Freeman) - musuh bebuyutan Indiana yang juga arkeolog- yang tak kalah cerdas, berani, dan penuh intrik. Selain disebabkan oleh labirin dan perangkap yang begitu rumit dihadirkan dalam rangka menyulitkan jalan menuju tabut, film Indiana Jones and The Raiders of The Lost Ark juga menjadi cukup segar karena keberadaan Marion Ravenwood (Karen Allen) yang tampil lugu, mengimbangi keseriusan Indiana.

Jalan cerita film tentang Indiana Jones relatif monoton dan selalu tentang perburuan artefak. Namun yang hendak ditawarkan oleh Spielberg tentu saja bukan tentang kekompleksan cerita, melainkan sajian full-action yang membuat penonton mengkerut di kursinya. Spielberg dengan pandai tidak membiarkan film untuk terjebak pada adegan dialog yang terlalu lama. Dialog seolah hanya sebatas “fase jeda” sebelum Indiana bertarung menghadapi tantangan berikutnya. Plus musik garapan John Williams menjadi kekuatan yang tak terbantahkan dalam menopang pelbagai adegan.

Namun sebagaimana umumnya film Spielberg yang “ada keharusan ditonton sebanyak mungkin orang”, maka selalu saja ada gabungan antara adegan jenaka dan sadis sekaligus. Di film yang sama, kita bisa saksikan adegan dimana Indiana secara “cerdas” menembak lawan dengan pistol dalam adegan adu pedang (yang merupakan suatu hal yang agaknya bisa membuat penonton tertawa), tapi juga ada adegan dimana salah seorang tentara Nazi tercincang baling-baling helikopter hingga darahnya terhambur. Meski kerancuan tersebut cukup lumrah terjadi dalam film-film Spielberg, namun agaknya secara keseluruhan Indiana Jones and The Raiders of The Lost Ark tetaplah film yang penting dan fenomenal dalam sejarah perfilman Hollywood. Aksi-aksi Indiana –harus diakui- memang memukau.

Rekomendasi: Bintang Empat

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...