Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

30hari30film: One-Eyed Jacks (1961)

2 Ramadhan 1433

Promo film One Eyed Jacks adalah selalu tentang kenyataan bahwa film ini adalah satu-satunya yang disutradarai oleh aktor legendaris Marlon Brando. Sebelum Marlon Brando yang ditunjuk untuk membesut film koboi ini, seharusnya Stanley Kubrick-lah yang menyutradarainya. Jika memang Kubrick yang akhirnya menggarap, maka film ini hanya satu tahun setelah kesuksesannya di film Spartacus tahun 1960.

Marlon Brando berperan sebagai koboi bernama Rio yang mendapatkan uang dari merampok bank bersama kawannya, Dad Longworth (Karl Malden). Suatu hari, setelah sukses mendapatkan dua tas penuh berisi uang emas, Rio dan Dad dikejar-kejar oleh polisi lokal. Disinilah konflik terjadi, Dad mengkhianati Rio dengan pergi seorang diri membawa emas-emas bersamanya, sementara Rio tertangkap dan dipenjara. Singkat cerita, lompat ke lima tahun kemudian, Rio kabur dari penjara dan berupaya mencari keberadaan Dad untuk balas dendam.

Dad sendiri sudah banyak berubah, ia sekarang sudah menjadi sheriff di wilayah Monterrey dan telah menikah dengan seorang wanita Spanyol yang sudah mempunyai anak bernama Louisa (Pina Pellicer). Ketika Rio sukses menemukan Dad, pertemuan keduanya terasa sangat ambigu, ada perasaan rindu antar kawan, tapi di dalamnya tersirat dendam. Di sisi lain, antara Rio dan Louisa juga tumbuh rasa cinta. Perjalanan berikutnya adalah bagaimana Rio berupaya mencari celah untuk membunuh Dad, tapi juga menjaga perasaan anak angkat Dad yang ia cintai, Louisa.

Film ini mempunyai jalan cerita yang cukup sederhana, seperti halnya kebanyakan film koboi lainnya: Ada uang, cinta, dan ambiguitas keadilan. Sosok sheriff dalam film koboi biasanya di satu sisi ia menjaga keamanan, namun di sisi lain kerapkali ia senang menyiksa penjahat dengan cara-cara yang membuat penonton tidak simpati (simak bagaimana Dad mencambuki Rio dan memukul tangannya dengan senapan, membuat penonton menjadi simpati pada tokoh Rio yang secara natural adalah pembobol bank). Bahkan untuk jalan cerita yang relatif simpel seperti ini, durasi 140 menit dirasa terlalu panjang. Keberadaan Louisa yang menjalin cinta dengan Rio, seolah dipaksakan agar film ini punya nuansa romantika seperti halnya kebanyakan film Hollywood masa itu.

Pada titik ini, mitos bahwa “orang Italia pintar membuat film koboi Amerika, dan orang Amerika pintar membuat film gangster Italia” menjadi terbukti adanya. Marlon Brando terasa tidak sanggup menandingi kehebatan –misalnya- Sergio Leone dalam membuat film koboi. Meski jalan cerita kedua garapan itu juga kurang lebih sama, namun Leone lebih bisa menampilkan momen-momen istimewa, ia mampu mengoptimalkan akting koboi andalannya, Clint Eastwood, sehingga gerak-geriknya menjadi terkenang sepanjang masa (walaupun Leone, kita tahu, sering dipengaruhi oleh film-film Akira Kurosawa). Tentu saja saya tidak sedang membandingkan akting Eastwood dengan Brando, yang notabene keduanya adalah raksasa di jamannya. Brando pun di film ini tampil cukup karismatik, meskipun akting Stanislavian-nya tidak terlalu menonjol karena ia sudah ditolong oleh siksaan demi siksaan yang diterima dalam perannya sebagai Rio, sehingga tak perlu susah-susah baginya yntuk merebut hati penonton. Namun untuk urusan penyutradaraan, rasanya Brando cukup sekali saja. One-Eyed Jacks menjadi yang pertama dan terakhir baginya. 

Rekomendasi: Bintang Dua

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...