Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

30hari30film: Midnight in Paris (2011)


1 Ramadhan 1433 H



Midnight in Paris adalah film yang digarap oleh sutradara senior Woody Allen, yang pernah dengan gemilang memenangkan empat Oscar dengan karyanya tahun 1977, Annie Hall. Film ini berkisah tentang pasangan Amerika –yang akan menikah- yang tengah berlibur ke Paris, Gil Pender (Owen Wilson) dan Inez (Rachel McAdams). Dalam kunjungan ke Paris ini, keduanya sering berselisih pendapat. Inez melihat Paris sebagai tempat berlibur yang indah dan penuh dengan sentuhan artistik sekaligus historis. Sedangkan Gil lebih sentimentil daripada itu, ia memandang Paris sebagai kota yang romantis (lebih jauh ia menyebutnya, “ketika hujan”), sumber inspirasi, dan tempat dimana seniman-seniman besar pernah tinggal. Berbeda dengan Inez, Gil yang berprofesi sebagai penulis, sedemikian terobsesi untuk tinggal di Paris.

Sentimentalitas ini membawa Gil pada situasi yang misterius di setiap waktu tengah malam: Ia dijemput oleh mobil tua, bertemu dengan para seniman besar dari masa lampau yang bernah bersentuhan dengan Paris seperti Ernest Hemingway, Cole Porter, Scott Fitzgerald, Gertrund Stein, Pablo Picasso, Salvador Dali, Man Ray, Luis Bunuel, Henry Matisse, dan banyak lagi seniman dari masa tahun 1920-an dan era La Belle Epoque (1890 – PD I). Pertemuan demi pertemuan yang amat personal itu membawa Gil untuk membulatkan tekad tinggal di Paris. Agar dekat dengan inspirasinya, dekat dengan cintanya yang datang dari masa silam: Adriana (Marion Cotillard).

Midnight in Paris adalah film yang disebut oleh Woody Allen sebagai, “Melihat dengan cara saya melihat Paris.” Film ini, meski durasinya relatif pendek (89 menit), namun ia secara intens sanggup menunjukkan sisi-sisi memikat dari kota Paris. Lewat keluguan dan kenaifan Gil Pender, Allen hendak menunjukkan suatu paradoks Amerika: Mereka menang perang namun miskin kebudayaan dan sejarah, sehingga meskipun bisa menegakkan kepala di manapun mereka berada, namun selamanya Amerika akan selalu terpesona dengan romantisme Eropa. Kenyataan bahwa Eropa pernah menjadi tempat bermukim seniman-seniman yang karyanya menjadi kiblat, membuat Amerika, lewat Gil Pender, terlihat gamang dan tidak punya pegangan.

Meski demikian, keberadaan Gil Pender yang diperankan oleh Owen Wilson ini mengandung dua sisi. Pertama, keluguannya bisa mengartikulasikan “kelabilan” Amerika secara brilian. Namun di sisi lain, akting Wilson justru terlihat jomplang dengan kualitas aktor lain seperti Marion Cotillard, Adrien Brody, dan pesona pemain lain yang memerankan karisma para seniman-seniman besar tersebut. Tanpa tampilan mempesona para raksasa golden age, barangkali film ini akan menjadi romantic comedy yang menghibur sejenak lantas dilupakan.

Satu hal yang membuat film ini agaknya menjadi tipikal Woody Allen yang filosofis, adalah pesan tersiratnya: Bahwa jangan-jangan perasaan bahwa suatu jaman disebut golden age, adalah ilusi. Karena seketika jika kita melihat ke masa lampau, kita akan selalu menganggap masa lampau itu lebih ideal dari masa kini. Bagi para seniman tahun 1920, La Belle Epoque adalah ideal. Bagi para seniman La Belle Epoque, jaman Renaisans adalah jauh lebih ideal. Bagi Gil Pender? Paris di masa silam selalu ideal.


Rekomendasi: Bintang Empat

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...