Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Di foodcourt, seluruh kompleksitas tersedia. Ada bos tenant halu yang mengklaim dirinya punya kekayaan 35 milyar, ada ibu pemilik sebuah dagangan yang mengaku tak cinta pada suaminya dan memilih untuk memadu kasih bersama pria dari masa lalunya, ada ibu solehah yang tekun membaca Herodotus, ada pasangan pedagang yang tak kunjung menikah karena beda agama, ada pekerja yang memiliki kekhasan orientasi seksual yang dalam desakan hari-hari kerja memaksa untuk libur satu hari saja demi meluapkan hasrat seksualnya, dan ada saya, yang oleh sebagian dari mereka dipanggil "si dosen", yang mengalami suatu pencerahan, karena akhirnya bergulat penuh dengan pengalaman manusia, setelah sekian lama berada di menara gading, berkutat dengan konsep bernama Kemanusiaan.
Saya sekarang paham bahwa ada interseksi antara kata-kata Dostoevsky yang kurang lebih berisi "Semakin saya cinta kemanusiaan secara umum, semakin sulit saya untuk cinta pada orang per orang," dan gagasan Levinas tentang orang lain, yang dengan wajahnya tampil ke hadapan kita, senantiasa mengusik kita, membuat kita terdesak untuk bersikap etis, mendahului segala hal yang bersifat metafisis.
Dalam pertemuan demi pertemuan yang melibatkan kompleksitas itu, seringkali konsep-konsep tentang etika buyar seketika. Tak mudah mengatakan si ini salah, si itu dosa, karena tak semua manusia punya cukup privilese untuk berkehendak menentukan nasibnya sendiri.
Selama ini saya berlindung di balik tembok intelektualitas, yang dengan arogan berbicara tentang Kemanusiaan dari ketinggian, tanpa benar-benar bertemu wajah dalam-dalam, yang di sana dapat ditemukan: Tuhan hadir sekaligus tidak. Hadir dalam artian, Tuhan konon menyayangi kita semua, dengan cara-cara yang tak selalu kita mengerti, termasuk lewat nasib-nasib yang dari sudut pandang manusia kadang begitu tragis.
Sekaligus tidak hadir dalam artian, bahwa tak selalu ada moral adiluhung yang dapat dijadikan sandaran, ketika hidup begitu sulit dijalani, sehingga terasa bahwa apapun boleh. Kompas moral hanyalah bagaimana caranya supaya bisa tetap hidup, meski tak ada lagi alasan yang bagus.
Dalam wajah-wajah yang ditemui setiap hari, yang di dalamnya, secara konseptual, tak punya jalan keluar, aku berharap dengan penuh lirih, supaya tak ada keinginan dalam diriku untuk menjadi penyelamat yang arogan itu. "Si dosen" justru tengah diselamatkan, dari godaan mewartakan Kemanusiaan, untuk sekarang berada di tengah manusia, tenggelam bersama manusia.

Comments
Post a Comment