Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Bagaimana Kekuasaan Bekerja?



(Artikel diturunkan dari Bandung Bergerak)


Michel Foucault (1926 – 1984) adalah pemikir asal Prancis yang memfokuskan kajiannya pada konsep power atau kuasa. Saat kita membicarakan kuasa, apa yang kita bayangkan? Kemungkinan kita membayangkan sosok seperti bos, penguasa, atau pemimpin militer yang memberi instruksi bagi bawahannya. 

Tipe kuasa semacam itu memang jelas adanya, tetapi hanya salah satu jenis saja dari bermacam- macam jenis kuasa. Kuasa seperti demikian digolongkan Foucault sebagai kuasa berdaulat (sovereign power). Dalam artikel ini, kita akan membicarakan analisis Foucault terhadap jenis kuasa yang lain yakni kuasa pendisiplinan (disciplinary power). Tidak seperti kuasa berdaulat yang dibayangkan berasal “dari atas ke bawah”, kuasa pendisiplinan bisa juga muncul “dari bawah ke atas” dan bahkan berlaku secara horizontal. 

Kuasa pendisiplinan pertama-tama mesti dipahami sebagai kuasa yang bekerja pada level individu (Foucault, 2006: 75), lebih persisnya, pada tubuh individu (Foucault, 2006: 14). Foucault menekankan bahwa kuasa pendisiplinan ini bekerja dengan cermat, menyeluruh, dan terus menerus dalam rangka menjadikan tubuh lebih patuh dan berguna (Hoffman, 2010: 28). 

Kerja kuasa pendisiplinan ini salah satunya dilakukan dengan cara mengelompokkan individu-individu lewat apa yang disebut sebagai “seni penyebaran” (“the art of distributions”). Seni penyebaran dipraktikkan misalnya dengan keberadaan sekat atau dinding pemisah pada pabrik atau barak (Foucault, 1979: 141 - 143). Pemisah ini difungsikan untuk menghindari aktivitas beramai-ramai yang bisa membawa pada kegiatan yang merugikan seperti mogok atau keluyuran. 

Kuasa pendisiplinan tentu harus berlangsung secara kontinyu agar tubuh terjaga kepatuhannya. Pertanyaannya, bagaimana agar membuat tubuh terus-terusan menjadi taat? Foucault kemudian menganalisis tiga teknik yaitu observasi hierarkis (hierarchical observation), penilaian penormalan (normalizing judgement), dan pemeriksaan (the examination). 

Tentang observasi hierarkis, Foucault memberi contoh bagaimana pengawasan terhadap pasien rumah sakit jiwa pada awal abad ke-19 tidak hanya dilakukan oleh dokter, tapi juga oleh para pengawas dan pelayan yang sekaligus bertugas mengumpulkan informasi tentang pasien untuk dilaporkan pada dokter (Foucault, 2006: 4 - 6).

Contoh tersebut tidak serta merta menunjukkan bahwa pengawasan hanya berlangsung “dari atas ke bawah” (dokter pada pasien melalui pengawas dan pelayan). Foucault mengingatkan bahwa kuasa bekerja dari berbagai arah, termasuk dari pasien pada pengawas dan pelayan, pengawas dan pelayan pada dokter, atau diantara para pengawas dan pelayan itu sendiri. Inilah yang dimaksud hierarki dalam versi Foucault, yakni tingkatan yang ditentukan bukan dari pekerjaan atau status sosial, melainkan tentang siapa yang diawasi dan siapa yang mengawasi. 

Teknik berikutnya adalah penilaian penormalan. Tubuh tidak hanya harus bisa diawasi, tapi juga memungkinkan untuk dinilai. Penilaian ini dapat memutuskan tentang tubuh mana yang berlaku sesuai “norma” dan mana yang menyimpang sehingga perlu didisiplinkan. Penting untuk diingat bahwa “norma” dalam pengertian Foucault ini mengacu pada standar pemberlakuan mana yang dipandang “normal” dan mana yang dianggap “abnormal”. Perumusan yang “normal” dilakukan terlebih dahulu demi memberikan penilaian sekaligus dasar pengoreksian bagi mereka yang “abnormal” (Hoffman, 2010: 32). 

Teknik selanjutnya, yakni pemeriksaan, adalah ujung dari penerapan teknik observasi hierarkis dan penilaian kenormalan (Foucault, 1979: 184). Dalam pemeriksaan, segala bentuk pendisiplinan harus bisa dilihat keseluruhan hasilnya, seperti ribuan tentara yang berbaris rapi di lapangan dan dipandang dari kejauhan oleh pemimpin negara atau transkrip akademik mahasiswa yang dipelajari oleh dosen wali. Barisan tentara dan transkrip akademik adalah buah penerapan kuasa pendisiplinan yang pada akhirnya dapat dimonitor dan diukur. 

Penting untuk diketahui bahwa argumen Foucault tentang kuasa tidak diarahkan pada penilaian bahwa kuasa itu sesuatu yang positif atau negatif. Foucault hanya mengurai tentang bagaimana kekuasaan bekerja. Bahkan Foucault tidak menawarkan solusi atau cara-cara dalam melawan kekuasaan itu. Pandangan demikian berbeda dengan pemikir seperti misalnya Antonio Gramsci yang menawarkan semacam metode untuk melakukan kontra hegemoni.


Referensi:
  • Foucault, M. (1979). Discipline and Punish: The Birth of the Prison (A. Sheridan, Trans.). New York: Vintage.
  • Foucault, M. (2006). Psychiatric Power: Lectures at the Collège de France 1973-1974 (J. Lagrange, Ed., G. Burchell, Trans.). Basingstoke: Palgrave Macmillan.
  • Hoffman, M. (2010). Disciplinary power. In D. Taylor (Ed.), Michel Foucault: Key Concepts (pp. 27–40). chapter, Acumen Publishing.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...